Curahan Perhatian Untuk Alquran
Daras TafsirOleh : Khobirul Amru
(Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Tafsir Hadits UIN Sunan Ampel Surabaya)
Dengan mengharap rida Allah SWT dan ilmu yang bermanfaat-berkah, mari sejenak membaca surah al-Fatihah kepada penulis kitab Zubdah al-Itqan yang sedang kita kaji bersama, al-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki. Untuk beliau, al-Fatihah.
Perhatian Umat Islam Kepada Alquran
Pada kesempatan kali ini melanjutkan penjelasan pekan kemarin Abuya menerangkan: Oleh karena itu semua, Alquran yang mulia menjadi fokus perhatian terbesar, baik oleh Rasulullah SAW, para sahabat, para ulama salaf dan khalaf, semuanya, hingga sampai hari ini. Perhatian ini pun mengambil bentuk yang berbeda-beda. Ada yang perhatiannya pada lafal (kata-kata) dan penyampaiannya; yang lain pada gaya bahasa dan I‘jaz-nya; yang ketiga pada penulisan dan pola tulisannya; yang keempat pada penafsiran dan penjelasannya; hingga (perhatian-perhatian) yang lain sebagainya.
Sungguh para ulama telah melakukan pengkajian dan penulisan tersendiri terhadap setiap sisi ini (mulai dari kosakata hingga penafsiran dan lain sebagainya). Dari titik tolak itu, mereka meletakkan dasar/pondasi ilmu-ilmu (tersebut), membukukan kitab-kitab, dan bergegas (mengarungi) medan yang luas ini dengan tujuan-tujuan/jarak-jarak yang jauh; hingga membuat Perpustakaan Islam (al-Maktabah al-Islamiyyah) penuh dengan warisan agung-berharga dari peninggalan pendahulu kita yang saleh dan para ulama kita yang cerdas. Dengan kekayaan ini —yang selalu membanggakan— kita menantang umat-umat di bumi, dan membungkam pemeluk agama (lain) di setiap waktu dan tempat.
Poin penting dari penjelasan Abuya di atas adalah:
1. Bahwa Alquran mendapatkan perhatian yang sangat besar, baik dari Rasulullah SAW maupun umat Islam, secara keseluruhan.
2. Perhatian itu pun tidak hanya sebatas pelafalannya saja, tapi juga makna kosakata, gaya bahasa, I‘jaz (mukjizat), penulisan, pola tulisan, penafsiran maupun sisi-sisi yang lainnya.
3. Sebagai kelanjutan dari poin kedua, para ulama mempelajari, mengkaji, meneliti, hingga membukukan (segala) ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya.
Baca Juga : Empat Pekerjaan yang Bakal Eksis di Era Covid-19 Hingga Tahun 2021
4. Pada akhirnya, perhatian itu membuahkan warisan agung-berharga bagi kita semua. Sebuah kekayaan yang dengannya, kita menantang dan membungkan umat-umat lain yang hendak mengingkari kebenaran Alquran.
Pada konteks ini, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, M.A., pakar tafsir Indonesia, melukiskan lebih lanjut apa yang disampaikan oleh Abuya di atas. Bahwa: Tiada bacaan semacam Alquran yang dibaca oleh ratusan juta orang yang tidak mengerti artinya dan atau tidak dapat menulis dengan aksaranya. Bahkan dihafal huruf demi huruf oleh orang dewasa, remaja dan anak-anak.
Tiada bacaan melebihi Alquran dalam perhatian yang diperolehnya, bukan saja sejarahnya secara umum, tetapi ayat demi ayat, baik dari segi masa, musim, maupun saat turunnya, sampai kepada sebab-sebab serta waktu-waktu turunnya.
Tiada bacaan seperti Alquran yang dipelajari, bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan kosakatanya, tetapi juga kandungan yang tersurat, tersirat bahkan sampai kepada kesan yang ditimbulkannya. Semua dituangkan dalam jutaan jilid buku, generasi demi generasi. Kemudian apa yang dituangkan dari sumber yang tak pernah kering itu, berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kemampuan dan kecenderungan mereka, namun semua mengandung kebenaran. Alquran layaknya sebuah permata yang memancarkan cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang masing-masing.
Tiada bacaan seperti Alquran yang diatur tata cara membacanya, mana yang dipendekkan, dipanjangkan, dipertebal atau diperhalus ucapannya, di mana tempat yang terlarang atau boleh, atau harus memulai dan berhenti, bahkan diatur lagu dan iramanya, sampai kepada etika membacanya.
Selayang Pandang: Perhatian Rasulullah SAW Kepada Alquran
Adapun terkait perhatian Rasulullah SAW sendiri terhadap Alquran, Allah SWT berfirman, yang kurang lebih maknanya adalah sebagai berikut:
Mereka Kami utus) dengan membawa keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan al-Dzikr kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan, (Surah al-Nahl [16]: 44).
Baca Juga : Perubahan Kriminalitas dalam Hukum Fikih
Sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu al-Jauzi di dalam tafsirnya, bahwa maksud dari al-Dzikr di atas adalah Alquran, menurut kesepakatan para mufasir (bi ijma‘ al-mufassirin). Oleh karena itu, ketika Wahbah al-Zuhaili menafsirkan ayat di atas, beliau menuliskan, “maka Rasul adalah penjelas maksud firman Allah ‘Azza wa Jalla, yakni terkait keterangan yang Dia globalkan di dalam Kitab-Nya, seperti hukum-hukum salat, zakat, dan aturan-aturan kehidupan yang lain, yang tidak dijelaskan secara terperinci oleh Alquran.”
Namun, bukan berarti perhatian Rasulullah SAW kepada Alquran hanya berupa penjelasan-penjelasan semata. Tetapi, justru segala tingkah laku beliau merupakan penerjemahan dari nilai-nilai Alquran. Hal ini sebagaimana yang dilukiskan oleh Umm al-Mu’minin ‘Aisyah RA: Akhlaknya (Rasulullah SAW) adalah Alquran, (HR. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud).
Akhlaknya (Rasulullah SAW) adalah segala yang tertera di dalam Alquran. Maka, segala sesuatu yang dipandang baik, dipuji dan diajak kepadanya oleh Alquran; Rasulullah telah menghiasi diri dengannya. (Sebaliknya) segala sesuatu yang dicela dan dilarang oleh Alquran; Rasulullah menjauhkan dan mengosongkan diri darinya. Maka, Alquran merupakan penjelas akhlaknya, demikian keterangan al-Qadhi al-Baidhawi ketika menjelaskan hadits di atas.
Selanjutnya, perhatian Rasulullah SAW tersebut juga terlihat dari adanya beberapa sahabat yang beliau utus untuk mengajarkan Alquran. Seperti Mush‘ab bin ‘Umair RA yang beliau utus ke Madinah untuk mengajarkan Alquran saat baiat ‘Aqabah kedua. Mush‘ab pun mendatangi As‘ad bin Zurarah RA yang terkenal dengan sebutan al-Muqri’ dan al-Qari’. Ada juga Mu‘adz bin Jabal yang beliau utus ke Yaman untuk menjadi hakim, yakni mengajarkan Alquran, syariat-syariat agama Islam dan memutuskan persoalan di antara mereka. Demikian pula dengan ‘Amr bin Hazm al-Khazraji RA yang ditugaskan oleh beliau untuk mengajarkan Alquran kepada penduduk Najran, di samping memahamkan perkara agama dan mengambil sedekah/zakat dari mereka.
Pada akhirnya, Rasulullah SAW memotivasi kepada kita semua untuk senantiasa mempelajari Alquran dan kemudian mengajarkannya. Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya, (HR. al-Bukhari).
Demikian kajian kitab Zubdah al-Itqan pada kesempatan kali ini. Semoga apa yang telah kita pelajari menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah. Semoga pula kajian ini bisa kita lanjutkan pada kesempatan-kesempatan berikutnya, bi Idznillah, wa Shalla Allahu ‘ala Sayyidina Muhammad al-Mushthafa.
Referensi:
M. Quraish Shihab, Wawasan Alquran: Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 2014), 3-4.
‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Muhammad al-Jawzi, Zad al-Masir fi ‘Ilm al-Tafsir (Beirut: al-Maktab al-Islami, Dar Ibn Hazim, 2002), 779.
Wahbah al-Zuhaili, al-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syari‘ah wa al-Manhaj (Damaskus: Dar al-Fikr, 2009), vol. 7, 462.
‘Abdur Ra’uf al-Manawi, Faidh al-Qadir: Syarh al-Jami‘ al-Shaghir (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 1972), vol. 5, 170.
‘Abdullah Sirajuddin, Tilawah Alquran al-Majid: Fadha’iluha – Adabuha – Khasha’ishuha (Aleppo: Dar al-Falah, 2002), 165
Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf al-Nawawi, al-Tibyan fi Adab Hamalat Alquran (Beirut: Dar al-Minhaj, 2018), 39

