Bersikap Adil Terhadap Fenomena Gus Miftah Vs Penjual Es Teh
HorizonOleh: Sari Agustiani
Saat ini, etika berbicara dan menghargai sesama insan menjadi nilai yang sangat penting, terlebihlebih di tengah masyarakat digital yakni masyarakat yang semakin terbuka dan tersebar luasm elalui media sosial. Perkembangan tehnologi yang sangat pesat membuat informasi tersebar secara cepat. Masyarakat di belahan wilayah manapun bisa dengan mudah mengakses sebuah berita.
Materi dakwah yang disampaikan oleh seorang da’i pada lokasi berbeda bisa secepat kilat tersebar di media sosial. Penggunaan bahasa, gaya bahasa dan intonasi dari sang da’i bisa saja diartikan berbeda oleh para pemirsanya. Apalagi bila unggahan berita atau pristiwa yang ditampilkan dalam media sosial tidak diutuh, hanya potongan-potongan saja.
Miftah Maulana Habiburrakhman atau biasanya dipangil dengan sebutan Gus Miftah sedang menjadi sorotan publik setelah vidionya saat pengajian di Magelang, Jawa Tengah, menjadi viral. Gus Miftah yang saat berceramah ini masih menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden bidang Kerukunan Beragama dan Pembina Sarana Keagamaan dinilai mengumpat seorang penjual es teh dengan perkataan “Goblok.”
Tentang Gus Miftah, kita pahami sosoknya dulu, Beliau merupakan pendakwah terkenal di Indonesia sekaligus Pendiri Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta. Dakwahnya menggunakan gaya yang unik, ceplas ceplos dan berbeda dari para da’I dan ulama lainnya di tanah air. Hal ini yang menjadikan Beliau populer terlebih-lebih dikalangan generasi muda.
Gus Miftah merupakan anak ketiga dari lima orang bersaudara. Lahir di Lampung pada tanggal 5 Agustus 1981, berlatar belakang pendidikan agama dan meraih gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam dari Universitas Islam Sultan Agung, Semarang Beliau memilih pendekatan dakwahnya relevan dengan zaman, santai, dan menggunakan bahasa yang muda di pahami masyarakat terutama anak muda. Adapun contoh dakwah beliau yang sempat jadi polemik adalah saat beliau menggelar acara shalawatan di sebuah Klub malam di Bali pada tahun 2018. Upayanya tersebut menggambarkan sikap keberpihakannya kepada masyarakat tertentu yang sering luput dari penyebaran dakwah. Kontoversial dakwahnya ini kemudian lambat laun menghilang beritanya.
Ketegasan toleransinya kepada pemeluk agama lain juga terlihat saat ia mengomentari kasus “Rendang dan Babi” beberapa waktu yang lalu, dan beberapa kegiatan kegiatan yang dilakukannya bersama tokoh-tokoh non muslim. Presiden Prabowo Subianto sendiri resmi melantik Gus Miftah menjadi Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan. Beliau dilantik di Istana Negara, Jakarta, selasa (22/10), Tugas Utamanya dari Presiden adalah untuk membangun Komunikasi Internasional soal Moderasi dan Toleransi beragama.
Kenapa Hujatan itu berlebihan ditujukan pada Gus Miftah ?
Baca Juga : Menjaga Harmoni Eksternal Beragama (2)
Kasus yang viral terkait kata yang dilontarkan gus Miftah kepada penjual es teh yang sedang menjual dagangannya ditengah berlangsung ceramahnya, menimbulkan keprihatinan karena katakata tersebut dianggap merendahkan dan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ajaran Islam. Hujatan kepadanya semakin berlebihan karena memandang bahwa beliau selain seorang Gus dan da’i juga menempati Jabatan di pemerintahan. Walaupun penjual es tersebut sebenarnyaturut andil memancing penceramah berkomentar, karena bila berlangsungnya ceramah, kemudian terlihat pedagang / penjual wira wiri menjajahkan dagangannya ditengah tengah audien, sungguh sangat mengganggu konsentrasi penceramah.
Menurut KBBI, Gus merupakan panggilan untuk ulama, kiai, dan orang yang dihormati. Didalam masyarakat itu kita semestinya berprilaku sesuai dengan konteks ini. Maka Gus yang diasosiasikan dalam masyarakat sebagai orang yang memahami agama Islam dengan lebih baik dan mendalam daripada masyarakat umum, idealnya akan berprilaku sebagaimana seorang ulama yang baik.
Seseorang yang menyandang gelar Gus, akan dipersepsikan oleh publik kalau sosok tersebut punya perilaku yang santun dan tidak merendahkan orang lain. Perilaku yang santun diantaranya menggunakan pilihan bahasa yang amat baik, yang terkadang untuk mengingatkan pun bahasa yang dipilih juga amat halus.
Kasus umpatan “goblok” yg disampaikan Gus Miftah kepada penjual es teh, betapapun tujuannya hanya gurauan, tetaplah tak bisa dibenarkan. Lebih lebih karena gurauan tersebut, penjual es itu tampak kecewa yg terlihat dari raut mukanya. Gurauan yg bernuansa merendahkan seperti itu tak sepatutnya dilakukan oleh siapapun. Terlebih oleh seorang yg berprofesi sebagai dai atau guru.
Dengan gurauan yg dianggap merendahkan tersebut, Gus Miftahh telah menerima akibat dari kejadian tersebut. Beliau telah menerima kritik dan hujatan dari berbagai kalangan. Bahkan perdana menteri Malaysia pun ikut berkomentar.
Adapun tanggapan Presiden Prabowo Subianto terhadap tindakan Gus Miftah semakin memperkuat pentingnya isu ini. Melalui Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, Presiden Prabowo menyampaikan teguran kepada Gus Miftah terkait perilakunya yang tidak mencerminkan tugas dan tanggung jawabnya sebagai Utusan Khusus Presiden dan keseriusan pemerintah dalam menjaga martabat setiap individu dan menghargai profesi apapun. Sebagai konsekuensi dari tindakannya, Gus Miftah kemudian mengundurkan diri dari jabatannya. Keputusannya tersebut menunjukkan tanggung jawab moral dan etika public yang diprioritaskan diatas jabatan dan kedudukan.
Mari bersikap Adil dan Proporsional
Selanjutnya kita ketahui Bersama bahwa urusan Gus Miftah dgn bapak penjual es teh sebenarnya masuk dlm ranah haqul adami, yakni menyangkut hubungan kemanusiaan. Persoalan antara keduanya sudah selesai ketika Gus Miftah secara sportif meminta maaf, sementara di saat yg sama penjual es telah memaafkannya.
Maka fenomena ini perlu disikapi secara adil dan proporsional. Sikap sementara orang yg ingin membela Gus Miftah dengan menyederhanakan bahwa hal itu hanya gurauan semata, tentu tidak bisa dibenarkan, karena perbuatan Gus Miftah itu memang salah. Sementara sikap menghujat Gus Miftah secara bertubi-tubi, menguliti semua jejak dakwahnya, memancing berkelanjutannyahujatan tanpa memberikan sama sekali ruang penilaian pisitif kepada Gus Miftah, sangatlah tidak proporsional.
Menghargai sikap Gus Miftah yg secara sportif mengakui kesalahan lalu minta maaf bahkan mengundurkan diri dari jabatan tetaplah patut diapresiasi, terlebih di zaman ini ketika banyak orang sulit mengakui kesalahan. Kebanyakan orang sibuk mencari alasan pembenaran atas sikapnya. Sekali lagi, sikap Gus Miftah dalam hal ini patut diapresiasi. Bagaimanapun juga Gus Miftah adalah sosok manusia seperti kita yg tak luput dari salah.
Lebih dari itu, peristiwa ini mengandung pelajaran yg berarti untuk kita semua. Pertama, berhatihatilah dalam bertutur kata dimanapun kita berada. Rekam jejak kita di zaman digital tidak terhapus.
Kedua, jika melakukan kesalahan jangan merasa rendah diri untuk meminta maaf. Jangan mencaricari alasan untuk menutupi kesalahan. Sikap meminta maaf jauh lebih ksatria dari pada sibuk mencari pembenaran atas tindakan yg dilakukan.
Selebihnya bahwa semua kejadian ini tak lepas dari kehendak dan ketetapab Allah Swt. Allah memberikan kepada kita Pelajaran berharga lewat kasus ini, dan cara Allah memberi teguran pada Gus Miftah sekaligus memberi kesempatan bagi penjual es teh untk dapat simpati dan anugerah.

