(Sumber : Jakarta Islamic Centre)

Dakwah Islam di Kabukicho Tokyo Jepang

Horizon

Oleh: Sita Acetylena 

Mahasiswa S3 PAI Multikultural Unisma

  

Dakwah Islam di Jepang adalah upaya penyebaran agama Islam dan pemahaman tentang Islam di antara masyarakat Jepang yang mayoritas non-Muslim. Meskipun komunitas Muslim di Jepang relatif kecil, dakwah Islam telah mengalami pertumbuhan dalam beberapa dekade terakhir. Dakwah Islam di Jepang telah ada sejak abad ke-8, ketika pedagang-pedagang Arab pertama kali datang ke Jepang. Namun, perkembangan nyata terjadi pada abad ke-19 ketika beberapa buku tentang Islam diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang.

  

Komunitas Muslim di Jepang terdiri dari penduduk asli Jepang yang memeluk Islam, ekspatriat Muslim, dan mahasiswa asing. Mereka tersebar di seluruh Jepang, terutama di kota-kota besar seperti Tokyo, Osaka, dan Kyoto. Beberapa lembaga pendidikan dan pusat kebudayaan Islam telah didirikan di Jepang untuk membantu dalam dakwah Islam. Mereka menawarkan kelas bahasa Arab dan pelajaran tentang Islam kepada penduduk setempat.

  

Dakwah Islam di Jepang sering dilakukan melalui seminar, konferensi, dan acara kultural. Organisasi Islam di Jepang juga terlibat dalam kampanye penyuluhan dan berpartisipasi dalam acara-acara antaragama untuk meningkatkan pemahaman tentang Islam. Beberapa komunitas Muslim di Jepang telah menjalin kerja sama dengan pemerintah lokal dan nasional untuk memfasilitasi integrasi dan mempromosikan pemahaman agama Islam yang lebih baik.

  

Dakwah Islam di Jepang dihadapkan pada tantangan, seperti kurangnya pemahaman tentang Islam di kalangan masyarakat Jepang, persepsi negatif terhadap Islam di beberapa kasus, dan keterbatasan sumber daya. Komunitas Muslim di Jepang berperan penting dalam dakwah, baik sebagai individu maupun melalui lembaga-lembaga mereka. Mereka berusaha untuk membangun hubungan yang positif dengan masyarakat Jepang dan mendidik mereka tentang ajaran Islam.

  

Dakwah Islam di Jepang merupakan upaya yang berkelanjutan untuk meningkatkan pemahaman, toleransi, dan dialog antarbudaya antara masyarakat Jepang dan komunitas Muslim yang tinggal di sana. Meskipun jumlah Muslim di Jepang relatif kecil, dakwah ini berkontribusi pada perkembangan harmoni antaragama dan saling pengertian.

  

Tanggal 26 September 2023 sampai 5 oktober 2023, penulis berkesempatan mendatangi beberapa masjid di Tokyo, Osaka dan Kyoto. Masjid yang paling berkesan adalah masjid di sekitaran Sinjuku, tepatnya di Kabukicho Tokyo Jepang. 

  


Baca Juga : Israel Versus Palestina dan Iran: Hadirlah Negara-Negara Islam

Masjid yang didirikan Idris dan Syeikh Abdullah Taqy Takazawa sejak 2002 ini memiliki tinggi 3 lantai yang tiap lantainya berukuran sekitar 3,5 x 4 meter. Masing-masing lantai juga mempunyai fungsi berbeda. Lantai pertama, tampak seperti ruang serbaguna yang terdapat toilet, tempat wudhu hingga rak untuk menyimpan alas kaki. Lantai dua menjadi ruangan untuk perempuan. Sedangkan laki-laki melaksanakan sholat di lantai tiga.

  

Di lantai tiga juga dapat ditemui sebuah mimbar sederhana, tempat untuk imam serta rak buku yang disesaki berbagai macam koleksi tentang Islam, termasuk juga mushaf Al-Quran.

  

Meski terbilang kecil, namun keberadaan Masjid Al-Ikhlas ini sangat membantu para wisatawan maupun warga muslim Jepang dan pekerja serta mahasiswa muslim dari beberapa negara yang ingin menunaikan ibadah sholat. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan seorang pekerja asal Bangladesh, Ameer usai melaksanakan sholat Dhuhur berjamaah dengan suami, waktu penulis berkunjung ke masjid Al Ikhlas Kabukicho Sinjuku.

  

\"Saya bersyukur ada masjid ini jadi saya bisa sholat setiap waktu disini. Saya kerja di toko dekat stasiun Sinjuku,\" ujar Ameer dalam bahasa Inggris.

  

Penulis juga mendapatkan informasi dari pak Ghozali, selaku ketua PCINU Jepang, bahwa anggota MWCINU Tokyo juga menjadi pengurus masjid dan setiap kamis ada kegiatan Yasinan dan tahlil serta setiap sabtu malam ada sholawatan di masjid Al Ikhlas Kabukicho. Sedangkan setiap jumat, pasti digelar sholat Jum’at.

  

\"Kalau Sholat Jumat, masjid ini ramai. Jamaahnya macam-macam, dan kebanyakan orang Indonesia dan muslim dari beberapa negara yang kerja di sekitar Sinjuku\" ucap Ghozali, Ketua PCINU Jepang.

  

Selain dipergunakan untuk tempat ibadah, Masjid Al-Ikhlas juga berfungsi sebagai tempat syiar Islam lainnya, seperti diskusi, pengajian mingguan, dan kegiatan lainnya. Menariknya, papan pengumuman dan sejenisnya di masjid ini juga dilengkapi dengan bahasa Indonesia.

  

Menurut Ghazali, Nahdlatul Ulama (NU) ikut memiliki andil atas berdirinya Masjid Al-Ikhlas ini. Sebelumnya, bangunan yang dijadikan masjid pada awalnya hanyalah bangunan kumuh yang tidak terpakai.

  

\"Selanjutnya, bangunan tersebut dibersihkan dan disulap menjadi masjid. Karena terlihat lebih rapi dan bersih, sang pemilik bangunan merasa sangat senang, sehingga biaya kontraknya pun diberi lebih murah dibanding lainnya,\" terang Ghazali, yang sudah 4 tahun bermukim di Negeri Sakura.

  

Terletak di tengah-tengah pusat bisnis dan hiburan Shinjuku, yang juga dikenal sebagai wilayah \"red light district\", Masjid Al-Ikhlas Kabukicho dapat ditemui di alamat 1 Chome-3-10 Kabukicho, Shinjuku City, Tokyo 160-0021, Jepang.

  

Saat itu penulis mendatangi masjid Al Ikhlas Kabukicho yang dinaungi PCINU Jepang pada siang hari. Selama masuk ke daerah lingkungan sekitar masjid, penulis cukup merinding karena daerah itu memang daerah prostitusi terbesar di Tokyo. Seluruh gang dan area sekitar masjid dipenuhi diskotek dan tempat prostitusi dan ditandai dengan banyaknya foto-foto gadis dan pria muda Jepang yang terpampang di setiap papan iklan di depan gedung-gedung area sekitar masjid Al Ikhlas.

  

Ketika berbicara dengan salah satu pengurus MWCINU Tokyo, Hasan, dijelaskan bahwa memang di masjid Al Ikhlas Kabukicho Tokyo inilah yang paling cukup membuat para pengurus MWCINU ataupun pengurus masjid harus kuat dakwah syiar Islam, khususnya dengan selalu mendakan rutinan hadrah sholawatan disana. Dan inilah juga menjadi salah satu daya tarik orang Jepang untuk mengenal Islam. Islam di jepang tidak bisa disyiarkan dengan ritual-ritual keagamaan tetapi dengan syiar melalui budaya Islam. 

  

Dakwah Islam di area prostitusi di Jepang adalah tantangan yang kompleks, karena budaya dan hukum Jepang sangat berbeda dari negara-negara dengan mayoritas populasi Muslim. Dakwah Islam di sana perlu dilakukan dengan pemahaman yang baik tentang konteks budaya dan sosial Jepang, serta dengan penuh penghargaan terhadap perbedaan budaya dan nilai-nilai yang ada.