Palestina: Jihad Melalui Perjuangan
OpiniKomunitas Ngaji Bahagia (KNB) pada Selasa, 24/10/2023, memperoleh asupan terkait hubungan antara Palestina dan Israel di dalam berbagai pertarungan bahkan konflik antar dua bangsa dan negara yang di dalam banyak hal yang difasilitasi oleh negara-negara Barat. sama diketahui bahwa Israel itu menjadi negara bangsa tentu difasilitasi oleh perjanjian Balfour, Perdana Menteri Inggris, yang memberikan keleluasaan bagi orang Israel di mana saja untuk Kembali ke tanah leluhurnya, di sekitar Masjidil Aqsha, tahun 1917 Masehi.
Berdasarkan karya Karen Amstrong di dalam “The History of God” bahwa pencarian atas Tuhan itu sudah berlangsung selama ribuan tahun. Di dalam pernyataannya dinyatakan semenjak 4.000 tahun yang lalu. Tahun tersebut tentu didasarkan atas informasi dari teks-teks Suci: Taurat, Injil dan Alqur’an yang menceritakan tentang sejarah Nabi Adam dan terus sampai Nabi Isa dan Muhammad SAW. Melalui pengetahuannya akan Bahasa Arab, Bahasa Ibrani dan Bahasa Semitis lainnya bahkan Bahasa Yunani, pantaslah jika Amstrong kemudian bisa membuat prediksi tahun dimulainya pencarian Tuhan dan terus berlangsung hingga sekarang.
Nabi Adam tentu menjadi pemula bagi pencarian Tuhan dimaksud. Melalui keturunannya sampai Nabi Nuh AS, kira-kira 3000 tahun sebelum masehi, maka Nuh kemudian meninggalkan satu wilayah yang masih eksis hingga sekarang yang diidentifikasi sebagai tanah Kanaan di Timur Tengah. Tetapi sejarah Israel terjadi sesudah Nabi Ibrahim AS. Melalui dua orang istrinya, maka melahirkan Nabi Muhammad dari jalur Ismail AS, dan melahirkan Musa dan Isa dari jalur Sarah. Nabi Musa melahirkan agama Yahudi karena dinisbahkan kepada putra Ya’kup AS, Yahuda, dan Isa AS dinisbahkan menjadi pemuka agama bahkan ditafsirkan sebagai Tuhan oleh umat Kristiani.
Kaum Israel pernah Berjaya kala Yusuf bin Ya’kup menjadi penguasa Mesir. Orang Israel berbondong-bondong memasuki wilayah Mesir dan mendapatkan keistimewaan dari Nabi Yusuf AS. Tetapi di kala kekuasaan berpindah tangan kepada Fir’aun yang membenci kaum Israel, maka kaum Israel dijadikan sebagai bangsa budak dan kelas pekerja rendahan. Sampai akhirnya Musa AS menyelamatkannya untuk Kembali ke tanah leluhurnya di wilayah Gaza dan sekitarnya. Tetapi bangsa Israel ini termasuk umat yang tidak bersyukur kepada Allah atas kenikmatan yang diterimanya. Misalnya diceritakan di dalam Alqur’an: “Bani Israil adzkuru ni'matiyal lati an'amtu 'alaikum”. Yang artinya: “Wahai Bani Israel ingatlah akan nikmatku yang aku berikan kepadamu”.
Bangsa Israel menjadi kekuatan politis hebat pada saat Nabi Dawud berhasil mengalahkan Jalut dan kemudian Nabi Dawud menjadi raja dan diteruskan oleh putranya, Nabi Sulaeman AS. Pada waktu itu maka kekuasaan kerajaan Sulaiman (the King of Solomon) itu membentang dari Masjidil Aqsha sampai ke Mesir dan juga ke wilayah Arab Saudi, UEA, Yaman dan wilayah sekitarnya. Kerajaan Nabi Sulaiman inilah yang menjadi cita-cita Bani Israel untuk menguasai tidak hanya Palestina akan tetapi juga sebagian jazirah Arab Saudi. Maka, jika Israel itu ingin menguasai wilayah Gaza itu hanya sebagian kecil dari cita-citanya. Imperium Sulaiman lebih luas dibandingkan dengan wilayah tersebut.
Setelah era Sulaiman, maka kerajaan hebat tersebut terbagi menjadi dua dan terus di dalam peperangan sampai kemudian kerajaan tersebut direbut oleh Aleksander Agung, dan Kitab Taurat dan Injil kemudian dialihbahasakan ke dalam Bahasa Romawi. Pemikiran Helenisme menguasai seluruh kehidupan masyarakat tersebut. Pada zaman Umar Bin Khattab, wilayah ini dikuasai oleh Umat Islam. Bahkan sampai saatnya Salahuddin Al Ayyubi menguasainya. Pada saat itu, seluruh kehidupan masyarakat Israel menjadi wilayah Muslim. Dan yang menarik akhirnya kaum Bani Israel lalu eksodus ke keluar negeri dan menetap di berbagai negara. Ada yang di Eropa dan juga Amerika. Mereka kemudian ramai-ramai kembali ke tanah leluhur pasca dikeluarkan kebijakan dari Perdana Menteri Inggris di dalam Perjanjian Balfour. Berkat dukungan Inggris, maka Israel kemudian menjadi negara, dan semenjak itu maka konflik antara umat Islam dengan Israel terbuka luas. Semula memang negara-negara Islam Timur Tengah seperti Mesir, Arab Saudi, UEA dan lain-lain mendukung untuk memerangi Israel dan mendukung Palestina, akan tetapi kemudian urusan Palestina diserahkan kepada yang bersangkutan.
Di Palestina, terdapat sekurang-kurangnya dua organisasi besar yang sebenarnya saling berkompetisi, yaitu Al Fatah dan Hamas. Al Fatah adalah organisasi yang di masa lalu dipimpin oleh Yasser Arafat dan kemudian menjadi Presiden pertama Palestina. Al Fatah merupakan organisasi yang di dalam perjuangan untuk memperjuangkan Palestina dengan diplomasi. Itulah sebabnya sampai wafatnya Yasser Arafat melakukan berbagai diplomasi di PBB dan juga negara-negara yang mendukung terhadap kemerdekaan Palestina.
Berbeda dengan Hamas, yang di antara strategi perjuangannya adalah dengan konsep perang offensive. Perang terbuka. Jika bisa melakukan perang mengapa tidak. Makanya, yang paling banyak melakukan penyerangan atas Israel adalah kelompok Hamas. Mereka berpaham dengan harakah ijtihadiyah atau Gerakan jihad dalam arti perang. Kelompok Hamas memang merupakan bagian dari genealogi ideologi Ikhwanul Muslimin yang berdiri dan berkembang di Mesir. Melalui Hasan Al Banna, Ikhwanul Muslimin lalu berkembang ke Libanon menjadi Hizbut Tahrir, di Pakistan menjadi Jamaati Islami, di Palestina menjadi Hamas dan di Indonesia menjadi Hizbut Tahrir Indonesia.
Oleh karena itu jika kelompok Hamas yang melakukan penyerangan atas Israel pada bulan-bulan terakhir dan kemudian mendapatkan perilaku serangan balasan dari Israel adalah pilihan supra rasional yang memang menjadi basis pilihan strategi jihadnya. Tindakan Hamas dengan melakukan perlawanan atas Israel tentu bisa benar dalam konteks relasi kemanusiaan. Kala banyak orang Palestina yang mendapatkan perlakuan kekerasan dan bahkan penghilangan nyawa, maka sepantasnya jika kemudian mereka juga mengobarkan perilaku melawan. Dan hal itu dilakukan oleh Hamas.
Jika kita sekarang berdoa atas nama Palestina, tentu bukan karena Hamas atau lainnya akan tetapi persaudaraan insaniyah yang memang mengharuskan kita untuk memberikan perlawanan meskipun hanya dengan doa.
Wallahu a’lam bi al shawab.

