Islam, Humanity dan Semangat Kontra Radikalisme
HorizonOleh: Samsuriyanto
(Dosen Studi Islam pada International Undergraduate Program, ITS Surabaya)
Syaikh Yusuf Khatir Hasan al-Suriy (t.th.:24) dalam Asalib al-Rasul fi al-Dakwah wa al-Tarbiyyah berpendapat bahwa dalam berdakwah, Rasulullah SAW selalu mengutamakan prinsip humanity (kemanusiaan). Sayyid Musa Sadr (2011: 37) dalam "Islam, Humanity and Human Values" menegaskan bahwa manusia dalam pandangan Alquran sangat terhormat dan memiliki derajat yang lebih tinggi dari ciptaan lainnya. Dengan demikian, Islam sangat menghargai manusia dan melarang radikalisme dan terorisme.
Dalam news.detik.com/17/11/2019, Imparsial mencatat adanya 31 kasus intoleran di tanah air sejak November 2018 sampai November 2019, mayoritas diisi oleh perkara larangan ibadah. Seperti yang juga dilaporkan oleh nasional.okezone.com/11/08/2020 bahwa ratusan masyarakat merusak rumah Almarhum Habib Segaf al-Jufri pada Sabtu (8/8/2020) malam ketika melakukan Midodareni, ritual yang banyak dilaksanakan oleh Masyarakat Jawa guna persiapan hari pernikahan. Dalam kejadian tersebut, ada kerusakan hingga korban luka yang perlu mendapat perawatan medis.
Islam Menolak Radikalisme
Al-Qur'an Surat al Isra [17] 70 menegaskan bahwa Allah SWT memuliakan keturunan Nabi Adam AS (manusia). Menurut Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari [6927], Imam Muslim [2165], Imam Ibnu Majah [3689] dan Imam al-Tirmidzi [2701], dari Sayyidatuna Aisyah RA bahwa Allah itu ramah, yang mencintai keramahan dalam segala urusannya. Artinya sifat ramah kepada manusia adalah ajaran Islam yang harus dilakukan oleh semua pengikutnya.
Kekerasan atas nama apapun tidak dibenarkan oleh semua agama, terutama oleh Islam. Apalagi kekejaman yang dilakukan dengan alasan untuk menebarkan agama penuh kasih ini. Syaikh Ahmad ‘Umar Hasyim (t.th.:54) dalam Al-Da’wah al-Islamiyyah: Manhajuha wa Ma’alimuha bahwa perdamaian merupakan dasar hubungan antar manusia dalam Islam. Oleh karena itu penceramah yang memprovokasi umat untuk merusakan hubungan dengan non muslim perlu ditinggalkan.
Umat Islam tidak bisa membuat kesimpulan umum bahwa semua non muslim berlaku kasar kepada umat Islam, demikian juga penganut agama lain kepada muslim. Kita menemukan banyak dari mereka yang berbuat baik kepada kita, bahkan tetangga non muslim penulis juga memberikan makanan pada acara kerja bakti gang pada hari Ahad 6/9/2020. Kita yang muslim melindungi mereka, bahkan makan bersama dan berkumpul di depan rumahnya untuk menunjukkan bukti bahwa mereka adalah saudara sesama manusia.
Baca Juga : Negara Hadir Sebelum Bencana: Pelajaran dari Evakuasi Swiss Sebelum Longsor Menelan Desa Blatten
Menurut Direktur Wahid Institute Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid sebagaimana yang dikutip oleh mediaindonesia.com/18/01/2020/ bahwa berdasarkan hasil survei yang dilaksanakan oleh Wahid Institute mengindikasikan tindakan paham radikal di tanah air cenderung naik dari waktu ke waktu. Mencegah paham radikal tidak hanya tugas pemerintah, tapi juga semua elemen bangsa terutama tokoh agama agar menganjurkan pengikutnya untuk menebar perdamaian kepada sesama manusia.
Maka tidak heran ketika ulama Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah (ASWAJA) dari berbagai negara melakukan muktamar ASWAJA di Chechnya sebagaimana dalam akun Youtube Ahlussunnah yang dimuat 7 September 2016. Pertemuan besar ini dihadiri oleh Syaikh Sayyid Ahmad al-Thayyib, Syaikh Ali Jumuah, Habib Umar bin Hafizh, Habib Ali bin Abdurrahman al-Jufri, Syaikh Usamah al-Azhari dan ulama lain membahas “Siapakah ASWAJA?” Sebab sebagian kelompok mengklaim sebagai ASWAJA namun melakukan tindakan provokasi, radikalisme dan terorisme.
Islam dan Prinsip Kemanusiaan
Dalam akun Youtube Alhabib Ali Aljifri yang dimuat 2 Mei 2016 antara menit ke-18 hingga 20, Habib Ali bin Abdurrahman al-Jufri saat di Sudan menegaskan tentang penghormatan Islam kepada manusia. Ulama kelahiran Jeddah ini mencintai semua muslim walaupun berbeda pandangan dalam urusan keagamaan, mengafirkan bahkan menghalalkan darah dan menunjukkan permusuhan di depannya. Ulama keturunan Yaman ini mencintai karena dalam diri mereka ada cahaya tauhid, namun membenci moral dan etikanya.
Ulama yang tinggal di Uni Emirat Arab ini juga mengindikasikan kecintaan kepada non muslim, umat Kristiani, bahkan umat Yahudi, tetapi membenci kolonial dengan tindakan kejinya, Zionis, yang menghalalkan darah dan eksistensi dirinya. Pria dengan wajah tampan ini siap berperang melawan namun sang nurani menginginkan petunjuk dan kembali kepada kebenaran bagi penjajah Palestina yaitu Israel. Laki-laki dengan berbadan tegap ini membenci kekafiran orang kafir tapi mencintai sosok orang kafir serta membenci kemaksiatan pendosa namun mencintai individunya.
Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari [6951] dari Sayyiduna Abdullah bin Umar RA menegaskan bahwa seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak menzalimi dan mencelakannya Penulis pernah khutbah di salah satu masjid di Surabaya dengan oknum takmir yang celana cingkrang, tapi penulis menghargai dan memuliakannya. Laki-laki tersebut mempersilahkan penulis untuk berdoa bersama setelah Salat Jumat.
Penulis juga pernah berbincang dengan non muslim, tetangga dari paman di Surabaya yang merasa nyaman ketika berkomunikasi dengan penulis. Kita tuntut diri untuk berbuat baik kepada orang lain, karena sejatinya adalah duta Islam untuk menebar perdamaian ke seluruh dunia. Rasulullah SAW Bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim [1732] dari Sayyiduna Abu Musa al Asy’ari RA bahwa umat Islam harus menyampaikan kabar gembira dan jangan membuat orang lari serta memudahkan dan jangan mempersulit. Dengan demikian, Sir Muhammad Zafrulla Khan (2016:42) dalam Islam and Human Rights Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, menciptakan persaudaraan global serta menebar perdamaian.
Wallaahu A’lam.

