Kilas Di Balik Api yang Tak Pernah Padam Walau Diguyur Hujan
InformasiNama salah satu destinasi wisata 'Api Tak Kunjung Padam' yang terletak di kota Pamekasan, Madura sudah tak asing lagi di telinga. Terlebih, bagi seorang traveler sejati. Destinasi wisata satu ini cukup dikenal oleh banyak orang karena menjadi tempat wisata yang menunjukkan betapa kuasanya Sang Maha pencipta alam semesta. Hingga kini sudah banyak dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai kota di seluruh Indonesia, yaitu mulai dari Surabaya, Probolinggo, Malang, Situbondo, Banyuwangi, hingga Bali untuk menyaksikan kebesaran Sang Maha Pencipta Alam Semesta.
Destinasi wisata 'Api Tak Kunjung Padam' atau bahasa lokalnya 'Apoi Ta' Lem Mateh' yang berlokasi tepat di Desa Asemanis Satu, Larangan, Tokol, Tlanakan ini tak dipungkiri menunjukkan betapa kuasanya Sang Maha pencipta alam semesta atas segala sesuatu yang dikehendakinya. Hal tersebut ditunjukkan melalui adanya api yang keluar dari tanah dan tak pernah padam walau diguyur hujan. Alkisah, api tersebut bermula dari sebuah tongkat milik salah seorang kiai, yaitu bernama Syeikh Abdul Muharom.
Konon berdasarkan cerita turun-temurun yang berkembang di masyarakat, Syeikh Abdul Moharom atau yang kerap dikenal Ki Moko atau Ki Solbuk adalah seorang penyebar agama Islam, namun belum diketahui secara pasti silsilah keluarga dan keturunannya. Ki Moko dikenal sebagai salah seorang yang senang memancing ikan dengan menggunakan perahu di Pantai Jumiang. Pantai Jumiang kini merupakan destinasi wisata yang juga banyak dikunjungi. Sementara, dari lokasi 'Api Tak Kunjung Padam' menuju Pantai Jumiang ditempuh sekitar 15 menit.
Bermula Dari Cinta Kiai Moko dan Nyai Seginten
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh salah seorang juru kunci bernama Edi Sutrisno, yang telah bertempat tinggal di lokasi dekat 'Api Tak Kunjung Padam' sejak kecil mengatakan, Ki Moko adalah seorang yang senang memancing ikan di Pantai Jumiang. Adapun perahu yang digunakan Ki Moko untuk memancing ikan bukan perahu biasa.
"Perahu untuk memancingnya itu disebut Batu Tumpang. Dimana Batu Tumpang atau perahu itu ceritanya walau ditumpangi dengan jumlah penumpang sebanyak 2.000 - 3.000 tidak bergoyang. Hanya saja yang bergoyang lautnya," jelasnya saat diwawancara oleh crew NSC, (29/11).
Berbeda dengan umumnya, di Pantai Jumiang, Ki Moko justru memancing ikan dengan mengambil mata dari ikan yang dipancingnya. Lalu, dikumpulkannnya mata ikan yang cukup banyak. Konon, mata ikan yang telah banyak dikumpulkannya tersebut dijadikan sebagai hadiah untuk melamar seorang gadis. Salah seorang gadis tersebut berasal dari desa Branta.
Namun, suatu ketika Ki Moko berada dalam dilema. Sebab, gadis yang berasal dari desa Branta menolak hadiah lamaran berupa mata ikan. Lalu, Ki Moko memutuskan untuk melamar gadis lain yang berasal dari desa Gegen untuk dipersuntingnya menjadi istri yaitu bernama Nyai Seginten.
Baca Juga : PTKI Dalam Upaya Jaminan Produk Halal
"Iya saat itu Ki Moko itu mengambil banyak mata ikan dari hasil memancing. Lalu, mata ikan itu dijadikan hadiah lamarannya. Namun, saat dibuka hadiahnya, lalu seketika dilihatnya sebuah berlian bukan mata ikan," tuturnya.
Mula Munculnya Api dari Tanah
Waktu terus berjalan, setelah Ki Moko datang melamar Nyai Seginten di desa Gegen, tiba waktunya untuk Nyai Seginten membalas lamaran darinya. Namun, saat itu justru Ki Moko sangat risau. Lantaran dirinya bingung perihal apa yang akan dihidangkan untuk menyambut Nyai Seginten. Hingga akhirnya Ki Moko pun menancapkan tongkat miliknya ke tanah tanpa sengaja. Lalu, secara menakjubkan muncul api dari tanah yang ditancapkan tongkat miliknya tersebut. Lantas api tersebut yang hingga kini terus menyala dan tak pernah padam. Demikian saat ini telah menjadi destinasi wisata yang bernama 'Api Tak Kunjung Padam' atau 'Apoi Ta' Lem Mateh' dalam bahasa lokalnya.
"Ia ceritanya, saat itu Ki Moko bingung harus menyambut balasan lamaran dari Nyai Seginten dengan hidangan seperti apa. Lalu, Ki Moko akhirnya menancapkan tongkatnya ke tanah. Saat itu pula muncul api dari tanah. Kemudian, api itu digunakan untuk membakar ikan yang akan dihidangkan kepada calon istrinya," imbuhnya.
Sampai saat ini sudah terdapat beberapa lokasi yang ditemukan 'Api Tak Pernah Padam', yaitu Api Bine, (Api Perempuan), Api Lake' (Api Laki), dan Api di desa Kukul. Selain peninggalan Api Tak Kunjung Padam, Ki Moko meninggalkan sebuah danau berair panas yang lokasinya tak berada jauh dari 'Api Tak Kunjung Padam'. Adapun jarak 'Api Tak Kunjung Padam' menuju danau berair panas, yaitu sekitar 200 meter. Semantara, tempat peristirahatan Ki Moko juga berada tak jauh dari lokasi 'Api Tak Kunjung Padam' yaitu sekitar 1,5 km.
"Ki Moko ceritanya juga pernah menancapkan tongkatnya di tanah dekat sini. Dimana setelah ditancapkan tongkatnya ke tanah muncullah air. Air itu panas sekali. Dahulu tempat itu berada dekat dari sini. Dahulu itu danau hanya saja airnya panas. Katanya bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Sekarang danau itu sudah tidak ada," ucap juru kunci Api Tak Kunjung Padam, Edi.
'Api Tak Kunjung Padam' atau 'Apoi Ta' Lem Mateh' ditemukan untuk pertama kali dalam kondisi tak berpagar dan di tengah hutan belantara. Berbeda dengan kondisi saat ini, 'Api Tak Kunjung Padam' mulai didesain menjadi destinasi wisata. Terlihat pagar yang melingkari api yang tak pernah padam tersebut. Begitu juga para warga tampak membuka toko-toko dengan menjual aneka ragam jualan khas Madura di sekeliling lokasi 'Api Tak Kunjung Padam', yaitu berupa makanan, peralatan dapur, dan pakaian khas Madura.
Baca Juga : Moderasi Agama Bukan Islam Jawa Versus Islam Arab
Beberapa makanan khas Madura yang dijual, seperti petis, rengginang, opak-opak, gula merah, kripik singkong, dan masih banyak lainnya. Sementara, harga setiap makanan yang dijual dapat dibandrol dengan harga yang cukup murah hanya kisaran Rp. 10.000,- sampai Rp. 15.000,- saja. Tak hanya itu, yang menjadi salah satu yang tak boleh tertinggal saat berkunjung ke 'Api Tak Kunjung Padam' yaitu bakar jagung. Sebab konon membakar jagung di 'Api Tak Kunjung Padam' rasanya jauh lebih enak daripada membakar jagung menggunakan api arang.
Kebesaran Sang Maha Pencipta Alam
Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh salah seorang wisatawan asal Banyuwangi rombongan keluarga dari Achmad Roslan seketika menyeletuk bahwa saat berkunjung ke 'Api Tak Kunjung Padam', maka harus mencoba jagung bakar. Ia mengaku telah beberapa kali berkunjung ke tempat wisata tersebut bersama keluarganya, yang kebetulan terdapat sanak keluarga yang berasal kota setempat. Sementara, penjual jagung yang berada di dekat api yang tak pernah padam itu menjual setiap satu jagungnya hanya seharga Rp. 2.500,-.
"Iya saya sudah empat kali datang kesini. Saya senang datang kesini, melihat api yang tak pernah padam dengan membakar jagung yang rasanya enak sekali. Pokoknya rasa jagung bakar yang dibakar dengan api disini berbeda. Mungkin karena apinya yang alami. Terus kalo kesini juga suka makanan khas sini, seperti regginang, opak-opak, dan terlebih petisnya," lirihnya saat ditemui di area pagar 'Api Tak Kunjung Padam', (29/11).
Sama halnya dengan Roslan, Aticha asal Situbondo yang juga berkunjung bersama rombongan keluarga mengatakan bahwa dirinya telah lebih dari satu kali berkunjung ke 'Api Tak Kunjung Padam'. Ia mengaku tertarik mengunjungi 'Api Tak Kunjung Padam' karena dari melihat api yang tak pernah padam tersebut menyadarkan betapa kuasanya Sang Maha pencipta alam semesta.
"Saya senang datang kesini. Sudah dua kali datang kesini. Saya tertarik untuk melihat kekuasaan Allah dengan adanya api yang tak pernah padam walau diguyur hujan. Saya juga suka bakar jagung disini karena rasanya yang enak. Selain itu, keluarg senang berbelanja, seperti petis, rengginang, dan opak khas sini," ujar Aticha yang kerap menyeletuk peribahasa manis nan menggelitik berbahasa lokal sepanjang proses membakar jagung 'Jegung Odi' , Tes-Memantes Ta' Noro' Endi'," yang artinya kurang lebih 'Jagung Hidup, Tas-Memantas, Tapi Tak Ikut Punya,".
'Api Tak Kunjung Padam' atau 'Apoi Ta' Lem Mateh' ditemukan untuk pertama kalinya oleh warga setempat sekitar tahun 1998. Saat itu kondisi masih hutan belantara dan belum dibangun pagar di sekeliling api yang tak pernah padam walau diguyur hujan tersebut. Api akan dapat padam jika air hujan tersebut sampai memasuki bagian terdalam gelombang api.
Baru sekitar tahun 2000 'Api Tak Kunjung Padam' didesain sebagai tempat wisata dan dibuat pagar yang melingkari api yang tak pernah padam tersebut. Konon tanah yang memunculkan api yang tak pernah padam itu memiliki tekstur yang lembut nan harum. Sedang, atas kuasa Sang Maha pencipta alam semesta, warga setempat pun kini dapat menikmati manfaat dari api yang tak pernah padam walau diguyur hujan itu sebagai pengganti dari gas LPG, seperti keperluan memasak.
Sementara, destinasi wisata 'Api Tak Kunjung Padam' ramai dikunjungi oleh wisatawan saat hari libur sekolah. Sedang, paling ramai dikunjungi oleh wisatawan saat bulan Syuro. Adapun destinasi wisata ini akan terlihat begitu indah saat berkunjung pada malam hari. Sebab, berdasarkan informasi warga setempat, api tak pernah padam itu akan lebih banyak menyala saat malam hari dengan dua macam warna api yang berbeda, yaitu biru dan kuning. Api berwarna kuning menyala dan melingkari pagar, sedang api kecil berwarna biru menyala di bagian tengahnya.
Untuk masuk ke destinasi wisata ini, wisatawan tak dipungut biaya sama sekali alias gratis. Para wisatawan hanya perlu membayar uang parkir, yaitu uang parkir mobil seharga Rp.10.000,-. Lalu, wisatawan sudah bisa langsung menyusuri dan menikmati penampakan kebesaran dan kuasa Sang Maha Pencipta Alam Semesta yang sangat menakjubkan dan luar biasa. (Nin)

