(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Jihad: Iming-Iming Jalan Pintas Menuju Syurga

Horizon

Oleh : Galuh Dwi Septiantoro (I93218069) 

Mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

 UIN Sunan Ampel Surabaya

  

Sebagai umat Islam istilah jihad mungkin sudah sering kita dengar dan tidak asing lagi bagi kita. Namun sekarang istilah jihad sendiri banyak disalah artikan oleh sebagian orang, selain itu jihad diidentikkan dengan peperangan, terorisme, dan aksi bom bunuh diri. Dilansir dari mui.or.id jihad adalah kata serapan dari Bahasa Arab yang artinya mengerahkan segala potensi diri untuk melakukan sesuatu. Secara garis besar jihad tidak hanya mengenai peperangan, Rasulullah SAW juga pernah memperkenalkan istilah jihad sebagai suatu upaya mengendalikan diri dari hawa nafsu.

  

Meskipun begitu hingga saat ini masih banyak kelompok Islam radikal yang memahami jihad sebagai gerakan berperang untuk membela agama. Kelompok-kelompok ini sering melakukan ceramah-ceramah yang bersifat provokatif, dan mendorong orang lain untuk melakukan jihad. Seperti dalam salah satu video ceramah yang dilakukan oleh Habib Rizieq Shihab, dimana dalam video tersebut beliau memberikan ceramah kepada ibu-ibu agar mendukung serta mendorong anak-anaknya untuk berhijad demi ulama dan tidak boleh melarang anak mereka yang ingin ikut berjihad. Bahkan setelah memerintahkan ibu-ibu agar mendorong anak-anaknya untuk ikut berjihad, Habib Rizieq Shihab juga memerintahkan mereka agar mendoakan anak-anaknya supaya meninggal saat berjihad, karena menurut pemahaman beliau jika anak-anak mereka mati saat jihad maka anak-anak mereka akan mati syahid.

  

Habib Rizieq menjelaskan “Kalau anak-anak mau berjuang dorong, jangan takut dengan kematian. Kalau ibu punya anak mati syahid, orang yang mati syahid akan digadang Allah, dia bakal berdiri di pintu surga untuk mengajak 70 anggota keluarganya masuk surga”. Kalimat seperti inilah yang membentuk pemahaman radikal, serta mendorong orang-orang terutama anak muda untuk melakukan jihad. Iming-iming jalan pintas menuju surga ini membentuk pola pikir mereka bahwa dengan melakukan jihad dan dan aksi-aksi seperti bom bunuh diri, maka mereka akan masuk surga dan menjadi penolong bagi 70 anggota keluarganya agar dapat masuk surga juga.

  

Seperti halnya persitiwa yang terjadi beberapa bulan yang lalu, yaitu aksi bom bunuh diri dan penyerangan yang terjadi di Gereja Katredal Makassar dan juga Mabes Polri. Dalam kasus penyerangan yang terjadi di Mabes Polri pelakunya merupakan perempuan yang dibilang masih cukup muda yaitu 25 tahun. Sedangkan pelaku peledakan bom di Gereja Katredal Makassar adalah pasangan suami istri yang baru saja menikah. Dalam kedua aksi tersebut ditemukan sepucuk surat wasiat yang isinya hampir sama yaitu mengenai doktrinisasi yang kuat tentang anti demokrasi, dan anti keberagaman. Mereka juga memiliki pemahaman bahwa aksi yang mereka lakukan adalah cara terbaik untuk menjalankan ajaran yang mereka anut. Selain itu terdapat kalimat “Zakiyah tempuh jalan ini sebagaimana jalan Nabi atau Rasul Allah untuk selamatkan Zakiyah, dan dengan izin Allah bisa memberi syafaat untuk mama dan keluarga di akhirat”. Yang mana kalimat ini menunjukkan bahwa pelaku penyerangan dan bom bunuh diri ini memahami jihad sebagai jalan pintas menuju surga, serta sebagai syafaat untuk menolong keluarganya agar dapat masuk surga juga. Beberapa ulama menjelaskan bahwa aksi ini muncul akibat kesalahan mereka dalam memahami jihad. Dari peristiwa tersebut bisa kita ketahui bahwa dakwah-dakwah mengenai ajakan jihad hingga mati, memiliki dampak yang sangat buruk dan besifat provokatif, sehingga memicu aksi-aksi tersebut.

  

Menurut mantan napi terorisme Amir Falah, di era yang semakin modern seperti sekarang ini media sosial menjadi salah satu alat yang digunakan oleh jaringan kelompok teroris maupun kelompok ekstrimis untuk menyebarkan doktrin ajaran mereka dan merekrut anggota baru. Menurut Prof. Dr. Nur Syam, M.Si salah satu dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dalam Sesi Forum Guru Besar Bonus Demografi : Tantangan dan Rekomendasi, yang memprihatinkan  dalam generasi muda kita adalah guru agama yang menjadi rujukan adalah guru agama di media sosial, yang mengajarkan ajaran salafi dengan berbagai variannya. Mulai dari menyalahakan keberagaman, mengkafirkan, sampai aksi ekstrimis. 

  

Maka dari itu sebagai generasi muda yang suka melakukan eksplorasi dan suka mempelajari hal-hal baru, kita harus berhati-hati dalam menggunakan media sosial agar tidak terpapar paham-paham yang radikal. Selain itu dalam memilih rujukan ulama atau guru agama, kita juga harus berhati-hati dan mencari tahu latar belakang mereka yang akan kita jadikan rujukan secara jelas dan mendalam. Sehingga dengan begitu kita bisa belajar agama dengan baik, tanpa harus khawatir terpapar ajaran yang radikal dan tidak jelas rujukannya.

  

Aksi bom bunuh diri maupun penyerangan yang dilakukan di atas jelas sangat bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Islam sendiri tidak pernah mengajarkan pemeluknya untuk melakukan perusakan, atau menganggu keamanan dan kenyamanan hidup non-muslim maupun umat muslim lain. Islam hadir untuk memberikan perdamaian, keindahan dan kenyamanan. Sehingga aksi pembunuhan, penumpahan darah, dan pengerusakan sangat ditentang dan tidak dibenarkan dalam Islam. Jika memang kita ingin masuk surga maka kita harus beramal baik, melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarangnya, bukan dengan melakukan jihad yang membahayakan nyawa orang lain, merusak, dan meneror. Jika kita memang ingin berjihad maka kita harus berjihad dengan hal yang baik dan dibenarkan, seperti memperjuangkan kebaikan, melawan penindasan, berdakwah, memajukan pendidikan, memajukan ekonomi, atau mengendalikan diri dari hawa nafsu seperti yang diperkenalkan Rasulullah SAW.