(Sumber : Nur Syam Centre)

Kepentingan

Horizon

Suatu pertanyaan penting yang perlu direnungkan adalah: “adakah sesuatu di dunia ini yang abadi”. Jawabannya: “ada”, yaitu kepentingan. Kepentingan merupakan sesuatu yang abadi di dalam kehidupan ini. Kepentingan menjadi “abadi” sebab dimiliki oleh semua makhluk di dunia ini. Tidak hanya manusia. Namun juga binatang. Hanya saja, cara untuk memenuhi kepentingan itu sangat berbeda antara hewan dan manusia. 

  

Hewan juga memiliki kepentingan, yaitu untuk memenuhi hasrat biologisnya, misalnya makan, minum dan kebutuhan seksual. Untuk kebutuhan makan, maka bisa dilakukan secara kelompok, seperti Singa, Harimau, Dubug, Serigala, dan sebagainya. Dan ada yang dilakukan secara kelompok tetapi bercorak individual, misalnya Kerbau, Sapi, Kijang, dan sebagainya. Bahkan  dalam dunia seksualitas binatang juga terjadi pertarungan untuk mempertahankan supremasi seksualitasnya, misalnya kawanan Harimau, Singa, bahkan Menjangan.  Semuanya diberi kemampuan untuk melakukan pemenuhan kepentingan sesuai dengan kekuatan yang dimilikinya.

  

Yang hebat tentu saja manusia. Dengan kemampuan yang dimilikinya, seperti kecerdasan rasional, maka manusia bisa mengembangkan berbagai macam cara untuk memenuhi kepentingannya. Dengan kecerdasan yang dimilikinya, manusia bisa mengembangkan strategi yang jitu untuk memenuhi hasrat kehidupannya. Semua strategi dan tata cara tersebut dikembangkan tidak lain kecuali untuk memenuhi hasrat kepentingan di dalam kehidupan, terutama pemenuhan kebutuhannnya.

  

Para ahli telah membuat konsep untuk menandai kebutuhan manusia, misalnya Abraham Maslow, yang dikenal dengan “teori kebutuhan”. Yaitu kebutuhan biologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan yang paling mendasar adalah kebutuhan biologis, yaitu makan, minum dan seksualitas. Kebutuhan makan dan minum merupakan kebutuhan fisik yang penting untuk memenuhi hasrat fisik agar sehat secara jasmani, sedangkan kebutuhan seksualitas diperlukan untuk menandai kebutuhan melanjutkan keturunan dan rekreasi. Semua ini merupakan pemenuhan kebutuhan nafsu fisikal yang penting di dalam kehidupan. 

  

Manusia juga memerlukan kehidupan sosial sebab nyaris tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri kecuali dengan berkelompok. Misalnya pada masyarakat berburu dan meramu, maka sudah ada pengelompokan sosial tersebut berbasis pada tugas dan kewajiban yang harus dilakukan. Demikian pula pada masyarakat agraris, bahkan masyarakat industrial dan post-industrial. Kebutuhan penghargaan dan  aktualisasi diri juga banyak dipenuhi melalui kehidupan berkelompok.

  

Para ahli ilmu sosial juga melakukan kajian tentang “kepentingan’. Misalnya Max Weber menyebut terdapat tindakan instrumental, yaitu tindakan untuk memperoleh atau memenuhi hasrat kepentingan secara efektif dan efisien. Sebagai tindakan sosial, maka cara yang dipilih tersebut tentu terkait dengan relasinya dengan manusia lainnya. Lalu, Talcott Parson juga mengembangkan teori tentang perilaku pemenuhan kebutuhan dengan konsepsi bahwa manusia memiliki berbagai macam cara untuk melakukan strategi atau cara untuk memilih tindakan yang efektif dan efisien yang dipengaruhi oleh aktor, norma atau nilai, situasi dan kondisi serta tujuan yang akan dicapai.

  

Kehidupan manusia sungguh sangat dinamis. Dinamika kehidupan tersebut yang menyebabkan manusia terus berpikir untuk mengembangkan cara yang paling efektif dan efisien untuk mencapai tujuannya. Misalnya, di kala ditemukan bubuk mesiu oleh Roger Bacon, maka dunia kemudian berkembang menjadi ladang pembantaian atas nama kepentingan, yaitu “penjajahan”. Kata magis filosof Francis Bacon yang sangat penting: “menemukan sebuah kunci akan lebih bermanfaat dibandingkan dengan berpikir filsafat 1000 tahun”. 

  

Semenjak itu maka dunia dipenuhi dengan “penguasaan” atas nama kepentingan penjajahan Orang Barat terhadap Orang Timur, dengan menggunakan bubuk mesiu untuk memenuhi hasrat berkuasa demi kepentingan ekonomi. Penjajahan sebagai sejarah kelam kemanusiaan dilakukan dengan berbagai cara dan strategi yang meniadakan norma dan nilai di dalam kehidupan. Yang penting untung materi meskipun yang lain buntung. Moralitas penjajah adalah kuasai, hisap dan paksa kaum terjajah untuk memenuhi hasrat kepentingan ekonomi.       

  

Masyarakat Nusantara pernah merasakan bagaimana penjajahan yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda selama 350 tahun yang telah menjerumuskan masyarakat di dalam kehidupan yang paling menyedihkan. Proyek tanam paksa, pembuatan jalan Anyer-Panarukan, peperangan yang tiada henti dan ratusan ribu rakyat mati karena proyek-proyek tersebut. Semua tentu menjadi catatan kelam sejarah bangsa-bangsa terjajah. 

  

Untuk menjajah Nusantara dilakukan politik adu domba dan memecah belah. Kerajaan-kerajaan dipecah belah, diadu domba, dan para bangsawan dicuci otaknya untuk saling melawan, dan semuanya hanya untuk satu tujuan “kepentingan kaum penjajah”. Makanya, kerajaan-kerajaan lalu bisa dikuasai dengan berbagai perjanjian yang menguntungkan kelompok penjajah, dan akibatnya kerajaan-kerajaan yang bersekutu dengannya pun tidak memperoleh kemerdekaannya.

  

Lalu, apakah yang menyebabkan mereka melakukannya, maka yang jawabannya adalah kepentingan. Jadi kepentinganlah yang menyatukan yang terkoyak menjadi menyatu, yang terpisah menjadi bersatu, dan yang berbeda menjadi bersekutu. Manusia yang berbeda dalam banyak hal namun memiliki satu kepentingan  yang sama, akan bisa bertemu.

  

Hanya anehnya manusia rasanya tidak pernah belajar secara sungguh-sungguh tentang betapa jahatnya manusia itu jika hanya mengedepankan kepentingan untuk memperoleh keuntungan materi, tanpa memperhatikan manusia dan kemanusiaanya. Padahal Parson saja masih berpikir bahwa untuk memilih cara terbaik di dalam kehidupan bisa dipengaruhi oleh norma atau nilai yang dianut.

  

Masihkah kita hanya akan mengandalkan tindakan rasional berbasis untung materi saja. Saya kira jawabannya sangat tergantung pada bagaimana kita memaknai hidup. Jika sesorang masih yakin bahwa akan ada kehidupan sesudah kematian, maka rasanya akan memiliki tindakan lain yang lebih manusiawi.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.