(Sumber : Uinsa Official)

Kepergian Sang Guru: Dr. KH. Abdul Mujib Adnan, M.Ag

Horizon

Oleh:

H. Imron Rosyadi

(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UINSA)

    

Hari ini, Kamis 13 Februari 2025 pukul 9.50 pagi, diiringi dengan dengan langit seolah merunduk dalam duka. Angin membawa bisikan kehilangan, dan bumi mencatat perginya seorang cahaya ilmu. Dr. KH. Abdul Mudjib Andan, M.Ag., sang guru, kini telah berpulang ke haribaan-Nya.Sudah menjadi takdir Allah SWT, jika Allah sudah berkehendak siapapun tak mampu untuk menunda dalam keputusan Allah AZZA wajalla.

  

Ajal sudah menjemput sang guru dengan iringan doa para takziah yang tidak sedikit ikut memberikan penghormatan terakhir, bergantian ikut me - shalatinya, sebagai tanda bagi guru yang wafat tanda golongan orang baik, orang shalih, karena tidak sedikit orang menyaksikan kepergian sang guru Kiai Mujib.Tetapi, bagaimana mungkin seorang guru benar-benar pergi, jika tanpa cahaya ilmunya tetap membekas menyala dalam dada dan jiwa murid-muridnya?Aku adalah salah satu dari sekian banyak murid yang beruntung, karena pernah duduk di hadapannya, menyimak setiap untaian hikmah yang terucap dari lisannya. Ia bukan sekadar guru—ia adalah telaga kebijaksanaan, tempat kami menimba pemahaman tentang kehidupan, tentang makna, dan tentang apa saja yang pernah saya diskusikan dengan sang guru kami.

  

Hari ini engkau sudah menghadap keharibaan illahi Rabbi.Di setiap pertemuan, bukan hanya teori ilmu alamiah yang ia ajarkan, tetapi juga kebeningan hati dan kelembutan akhlak. Ia mendidik dengan ketulusan, hampir tak pernah marah dalam bertutur kata, bahkan tidak pernah saya dengar dengan nada tinggi sekalipun, kenangan indah yang sulit terlupakan, termasuk mengajarkan bahwa ilmu bukan sekadar hafalan, melainkan cahaya yang harus menerangi jalan. Tak jarang, dalam diam, aku merenungkan kata-katanya, menyadari betapa luas pemahamannya, dan betapa dalam kasih sayangnya.Namun, lebih dari sekadar seorang guru, ia adalah sahabat dalam berpikir.

  

Ia seringkali memberikan ungkapan kata bijak yang hingga sekarang tak bisa saya lupakan, \"Yen Iyo mosok ora, yen ora mosok Iyo\" kalimat Jawa ini sangat dalam makna dan filosofinya, perkataan itu saya mendengarkan dengan hati, membimbing tanpa merasa lebih tinggi. Setiap pertanyaan kami dijawabnya dengan sabar, setiap kegelisahan kami disikapinya dengan penuh kebijaksanaan. Ada kalanya kami berbincang panjang, bukan hanya tentang hukum atau tafsir, tetapi juga tentang hidup, tentang perjuangan, tentang bagaimana menghadapi dunia dengan jiwa yang tetap bersujud.

  

Kini, bangku masih terasa seperti belum wafat, karena hakikatnya masih hidup, karena dengan cahaya ilmunya yang benar-benar tidak bisa hilang dari ingatan ku. Duduk kami dalam berdiskusi menjadi saksi atas dedikasinya, dan semua ilmu yang pernah sang guru ajaran kepada saya.

   

Wahai Guru, engkau telah menuntaskan tugasmu di dunia ini dengan begitu indah. Langkahmu telah meninggalkan jejak di hati kami, dan do’a kami akan selalu mengiringi kepergian sang guru.Semoga Allah menempatkan guru ku di sisi-Nya, di taman yang penuh cahaya dan kasih sayang. Semoga ilmumu terus mengalir, menjadi amal yang tak terputus hingga akhir zaman.

  

Selamat jalan, Guru. Ilmu yang pernah kau ajarkan manfaat untuk banyak orang, saya yakin kau ditempatkan di sisiNya, sebagai hamba Allah SWT yang benar,-benar ditempatkan sorga sebagai tempat peristirahatan terakhir. Semoga dipertemukan kembali oleh Allah SWT dalam sorga yang sama.