(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Perjalanan Umrah: Sarung dalam Identitas KeIndonesiaan (Bagian Kesebelas)

Opini

Sarung itu identic dengan tradisi berpakaian di pedesaan. Itu masa lalu. Tetapi sarung sesungguhnya sudah mendunia. Memakai sarung tidak hanya menjadi tradisi pedesaan, pakaian orang desa, tetapi sudah menjadi pakaian dalam tradisi Nusantara. Memakai sarung tidak lagi identic dengan tradisionalisme tetapi sudah modernisme. Sarung sudah menjadi bagian dari tradisi dunia yang digunakan dalam relasi internasional, khususnya di Indonesia dan di Arab Saudi. 

  

Orang sudah tidak lagi merasa malu menggunakan sarung sebagai pakaian dalam forum nasional, bahkan forum internasional. Sarung sudah mendunia.  Di pasar, di bandara, di stasiun, di terminal, di forum nasional bahkan forum internasional sudah bisa dilihat orang yang berpakian dengan sarungnya  yang elegan. Sarung bisa dipadukan dengan jas, jaket, batik, kemeja taqwa, dan juga kaos. Sarung memang fleksibel untuk digunakan dengan paduan apa saja dan di mana saja. Sarung memang sudah naik kelas.

  

Pada waktu upacara ritual umrah, 30/01/2025 sampai 09/02/2025, saya bisa menyaksikan bagaimana para jamaah umrah menggunakan sarung. Lelaki tua dan muda banyak yang menggunakan sarung. Baik pada waktu di bandara Surabaya, Jakarta, dan juga bandara Jeddah. Mereka kelihatan nyaman menggunakan sarung sebagai pakaian yang fleksibel. Berbeda dengan celana yang lebih rumit kala harus ke toilet, maka dengan sarung akan lebih mudah. Tidak ribet. Itulah sebabnya banyak jamaah umrah terutama yang berusia di atas 60 tahun menggunakan sarung sebagai pakaian dinasnya di dalam ruang-ruang public di bandara atau tempat lainnya.

  

Sungguh sarung memang nikmat dipakai. Benarlah reklame pabrik-pabrik sarung yang beriklan bahwa sarung memang nyaman dipakai di manapun dan kapanpun. Sarung juga sudah memiliki harga yang relative mahal, meskipun masih ada sarung yang berharga Rp50.000, akan tetapi sarung dalam merek tertentu sudah mencapai harga ratusan ribu rupiah bahkan jutaan  rupiah.  Kain sarung yang biasanya menjadi pakaian bawahan bagi lelaki, maka kain sarung sekarang sudah bisa menjadi jas, jasket dan juga pakaian atasan lainnya. Kain sarung sudah berubah fungsi tidak hanya menjadi pakaian bawahan tetapi juga pakaian atasan bagi lelaki. 

  

Jika kita berada di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, maka kita akan melihat bagaimana sarung dapat menjadi identitas nasional. Sangat banyak orang yang melambangkan keindonesiaannya dengan pakaian sarung. Inilah hebatnya orang Indonesia. Ke manapun perginya, sarung adalah pakaiannya.  Sangat mudah mengenali orang Indonesia dari berbagai kesukubangsaannya. Pokoknya jika bertemu dengan orang yang memakai sarung atau memakai kopyah berwarna hitam khas keindonesiaan maka dipastikan itulah orang Indonesia. Dalam perkiraan saya, mengamati di dua masjid suci,  Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, maka bisa diperkirakan ada sebanyak kurang lebih 30 persen orang Indonesia. Di Masjid Nabawi, misalnya, dalam satu barisan panjang dipastikan ada orang Indonesia. Dan yang lebih memudahkan karena orang Indonesia itu berkelompok. Jadi sangat mudah mengenalnya. 

  

Terkadang kita bertemu dengan orang yang memakai gamis ala pakaian orang Arab Saudi, akan tetapi di kala mereka memakai kopyah hitam, maka juga dipastikan dia adalah orang Indonesia. Orang Indonesia itu unik. Agak jarang orang Indonesia yang kala berada di Arab Saudi lalu merasakan sebagai bukan orang Indonesia. Dua identitas keindonesiaan yang tidak dilepaskannya adalah sarung dan kopyah. Bisa saja mereka memakai sarung tetapi memakai kopyah ala orang Arab atau kopyah lainnya, tetapi  juga memakai jubah tetapi memakai kopyah hitam khas Indonesia. Jika pun ada orang Indonesia yang memakai full pakaian Arab tentu kebanyakan berasal dari kaum Salafi yang memang memiliki ideologi kearab-araban. 

  

Identitas kebangsaan tentu penting selain identitas keagamaan. Berdasarkan survey yang dilakukan beberapa tahun yang lalu oleh Alvara Research Center, saya lupa tahunnya, bahwa orang Indonesia kala ditanya tentang siapa dirinya, maka jawabannya adalah orang Islam sebagai peringkat pertama dan orang Indonesia sebagai peringkat kedua, dan baru identitas kesukubangsaan menempati posisi berikutnya. Hal ini jangan dianggap bahwa telah terjadi perubahan di dalam memandang dirinya dalam relasinya dengan identitas sosialnya. 

  

Bagi masyarakat Indonesia, menjadi orang Islam tidak menghalangi rasa nasionalismenya. Menjadi umat Islam tidak serta merta menghilangkan identitasnya sebagi warga negara Republik Indonesia. Menjadi orang Islam dan warga negara Indonesia itu ibarat koin mata uang. Di satu sisinya adalah orang Islam dan di satu sisi lainnya menjadi orang Indonesia. Tidak bisa disebut uang jika tidak punya dua sisi dimaksud. Makanya antara keislaman dan keindonesiaan adalah dua entitas yang menyatu dalam satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.  

  

Saya kira, ini adalah pilihan yang sangat rasional. Kita adalah bagian dari umat Islam dan kita adalah bagian dari bangsa Indonesia. Saya menjadi teringat syair yang sering dibacakan oleh D. Zawawi Imron, sahabat saya,  bahwa kita minum tanah air Indonesia, kita makan dari tanah air Indonesia,  kita lahir di tanah air Indonesia dan kita mati di tanah air Indonesia. Indonesia adalah tanah air kita.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.