(Sumber : www.sanglah-institute.org)

Melangkah Tepat dalam Ruang Percepatan Paulo Virilio

Horizon

Oleh: Choirul Anam*

  

Kemajuan dalam teknologi saat ini menjadikan manusia lebih dan cepat dalam banyak hal. Untuk menempuh jarak yang jauh saat ini seseorang bisa leluasa memilih transportasi apa yang ia pilih. Untuk berkomunakasi dengan seseorang di jarak yang jauh bahkan teknologi telah berhasil memangkas ruang dan waktu dan mempertemukan manusia dalam suatu ruang yang kemudian disebut dengan ruang maya. Tapi disisi lain kemajuan teknologi ini memiliki dampak yang lumayan mengancam bagi manusia. Terkait melubernya informasi misalnya, seseorang bisa berdiri satu jam terpaku memperhatikan cepatnya informasi di gadget-nya, bisa dua tiga jam duduk atau tidur dalam posisi yang sama dan masih di hadapan gadget-nya. Hal ini menjadi semacam ketergantungan di waktu selanjutnya. Ketergantungan atas informasi? Tidak juga rupanya.

  

Ketergantungan manusia dengan produk teknologi modern tidak bisa dipisahkan. Apa yang bisa diperbuat manusia tanpa teknologi, kesehariannya pun tak bisa dipisahkan layaknya manusia berpasangan. Disaat yang bersamaan pula kapitalis berlomba-lomba untuk membuat teknologi yang laku dipasaran dan diminati oleh konsumen.

  

Adalah Paulo Virilio mengenalkan tentang “Dromologi” yang secara harfiah memiliki arti “pengetahuan tentang fenomena kecepatan”. pemikir era posmodern ini melihat fenomena dewasa ini adalah tentang kecepatan, yaitu bagaimana kecepatan menentukan atau membatasi cara  dalam proses fenomena  hadir di tengah manusia. Dengan artian hal ini muncul secara relative dan tanpa bisa dibendung, apabila Marx melihat dalam satu aspek determinasi ekonomi, ini adalah overdeterminasinya. Rangkaian fenomena kecepatan ini membentuk individu dan pemahaman akan ruang dan waktu (James,I: 2007).

  

Tentang kecepatan ini oleh Virillio disebut ssebagai ruang “speed-space and dromospheric space” atau bisa kita sebut ruang dromosfer. Dalam ruang ini terbentuk cara manusia melihat informasi layaknya sebuah iklan di TV, paparan informasi yang sebegitu banyaknya datang dan pergi. Images-images datang dengan cepatnya lalu hilang dan datang images lain, hal ini menyebabkan sebuah kekacauan penerimaan informasi. Pertanyaannya disini apakah ruang dromosfer memberikan ruang berfikir kepada manusia kita informasi tersebut datang? tentu tidak, malah kita paksa untuk menelan mentah-mentah images yang disajikan oleh ruang percepatan tersebut. Celah untuk berfikir dalam ruang ini menjadi semakin kecil, dikarenakan sistem yang dibuat memang tidak dirancang untuk manusia berfikir atau merefleksikan dirinya sebagai manusia yang bebas berfikir namun sebagai manusia yang mengkonsumsi images yang diproduksi(Hauer,T:  2014).

  

Ada sebuah paradoks dalam implementasi teknologi yang kaitanya dengan informasi hari ini, Ruang dromosphere menjadikan manusia untuk bisa dan mungkin bergerak dengan cepat melewati lintas ruang sebagaimana halnya transportasi yang cepat. Hal ini  tidak jauh berbeda dengan sarana hyper-communicabality yang dihadirkan  berkat komunikasi modern. Dalam konteks percepatan informasi ini, tentang dromosphere ia  menyajikan dan memfasilitasi manusia dengan kemudahan akses informasi dimanapun ia berada dan kapanpun waktunya. Manusia diberikan kemampuan untuk dapat mengarungi lautan informasi hanya dalam hitungan sepersekian detik, namun disisi lain infomasi tersebut datang begitu cepat sekaligus berbeda dengan cepat pula dan terkadang berganti dan ditindih dengan informasi yang lain dengan cepat, kecepatan ini kemudian bukan hanya menjadi fasilitas tapi juga bisa saja menjadi sajian yang harus diterima dan dilihat tanpa henti.

  

Masih terkait informasi, akan begitu cepat kita mengakses kemudian menemukan sebuah informasi. Media massa online akan berlomba untuk memberitakan suatu persitiwa dengan cepat, hal ini tidak memandang media massa besar atau kecil. Tidak hanya berita inti akan tetapi hal-hal detail dengan peristiwa bahkan yang hubunganya sangat kecil dengan peristiwa akan dibeberkan dengan cepat. Misal ketika Argentina dengan Messi-nya menjadi juara di Piala Dunia Qatar, sontak apa saja yang berkaitan dengan Messi akan bertebaran di lini masa Twitter atau beranda Instagram. Mulai dari kisah masa kecil, baju pertama Messi, pelatih pertama Messi, anak-anak Messi sampai design rumah di kampung halaman Messi akan diberitakan. Dalam titik ini manusia harus bijak dan melangkah dengan tepat, ia bisa saja membaca semua berita tersebut dalam sehari penuh. Tapi pertanyaanya apa manusia tersebut membutuhkan informasi tersebut? Sampai kapan ia akan ingat informasi tersebut? Untuk apa dia mengiangat informasi tersebut? Ini adalah pertanyaan-pertanyan yang patut disadari ditengah ruang kecepatan infomasi.

  

Dalam hal lainnya, misal dalam hal mode atau gaya. Kecepatan berpengaruh besar dalam dunia mode atau style. Rumah produksi atau industri-industri sepatu misalkan, mereka berlomba untuk secepatnya menciptakan mode terbaru, terkini dan ter-relate denga napa yang viral dan menjadi trend dikalangan anak muda.itu kecepatan tersebut dibutuhkan demi persaingan pasar. Namu sebagai konsumen kita patut berpikir ulang dan bersabar dihadapan gempuran iklan dan atau tawaran diskon sepatu tersebut dari e-commerce berwarna orange. Pertanyaan yang harus disadari adalah sampai kapan akan terus mengikuti trend? Berapa banyak sepatu yang benar dibutuhkan? Apa yang terjadi ketika kita tidak memakai sepatu terbaru tersebut?

  

Menurut Virilio, masyarakat era ini begitu terikat dengan diskursus percepatan. Keterikatan ini kemudian akan membentuk pola tindakan mereka. Percepatan ini pula menurutnya dapat menyulitkan untuk membedakan dimensi ruang dan waktu, disisi lain salah satu asumsi dasar era kini adalah siapa yang cepat dialah pemenang. Maka ditengah ruang percepatan era kini seseorang dituntut untuk terus berpikir dan kemudian melangkah tepat bukan hanya cepat. Dalam hal arus informasi misalnya, seseorang harus menginga-ingat skala prioritas yang ia tentukan sejak awal. Mana informasi yang ia butuhkan untuk pengembangan skillnya, atau pengembangan wawasan inteletualnya maka ia harus baca dan cari sebanyak-banyaknya. Dan mana pula informasi yang ia butuhkan “agar tidak ketinggalan obrolan di tongkrongan”, hendaknya dibaca sekedarnya saja.

  

* Mahasiswa Doktoral Studi Islam UIN Jember