Memperbanyak Introspeksi di Masa Pandemi
HorizonOleh: Dr. Sokhi Huda., M.Ag
(Dosen Magister Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya)
Pandemi akibat Covid-19 telah menguasai hampir semua sisi kehidupan manusia di seluruh dunia. Pandemi datang tanpa diundang. Memang ada sebab yang dapat diketahui dan ada akibat yang dapat dimengerti. Wuhan menjadi wilayah yang dianggap sebagai sebab Covid-19. Sebab ini menjadi muara pandemi dan new normal dengan menjaga jarak (physical distancing dan social distancing). Pakai masker dan sering cuci tangan bukan hanya sebagai #hashtag tetapi benar-benar menjadi kebutuhan, bahkan kewajiban yang disadari oleh banyak orang, bahkan mulai masuk ke pembahasan materi hukum. Pesan apa yang sesungguhnya ada di balik realitas mendunia ini? Pernahkah ada di pikiran kita atau di hati kita tentang kemungkinan adanya peringatan Tuhan di balik pandemi ini? Dua pertanyaan ini kiranya patut kita perhatikan secara seksama untuk introspeksi.
Pandemi mengingatkan kepada kita untuk menjaga tangan agar tidak menyentuh apa saja yang bukan hak kita dan menjaga lisan, hidung, dan mata agar tidak berefek atau menyerap efek negatif. Tangan, lisan, hidung, dan mata menjadi media yang potensial bagi transformasi Covid-19. Di antara empat organ ini, tangan merupakan media yang paling potensial. Tangan memiliki sidik jari sebagai identitas unik setiap individu. Menurut ilmu sidik jari (Dermatoglyphics, diperkenalkan oleh Dr. Harold Cummins & Dr. Charles Midlo pada 1926), tidak ada sidik jari yang sama di antara manusia sedunia. Kasus “Kopi Jessica-Mirna” merupakan sebagian contoh uji forensik keunikan sidik jari. Lisan mungkin berkelit, tetapi sidik jari bicara bukti. FBI Amerika Serikat mengelompokkan sidik jari menjadi delapan pola; radial loop (melengkung ke jempol), ulnar loop (melengkung kelingking), double loop (dua lengkungan), central pocket loop, plain arch, tented arch (menjulang runcing seperti menara atau gunung), plain whorl (garis melingkar atau spiral), dan accendental.
Ada sejumlah hal yang dapat dijadikan instrumen untuk melakukan respon terhadap realitas pandemi ini. Di antaranya adalah prior message dalam Q.S. Yasin [36] ayat 65: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” Pesan ini sesungguhnya mengingatkan kepada kita agar menjaga tangan dan mengendalikan kaki. Tangan merupakan media yang paling potensial untuk melakukan berbagai aktivitas, sekaligus sebagai recorder. Kaki menjadi alat transportasi dan penyanggah untuk transformasi.
Pada “hari pembalasan perbuatan”, hasil recording tangan bicara sendiri dan ketika itu lisan terbungkam sehingga tidak mampu beralibi. Pada masa hidup di dunia orang mungkin berkata jujur atau berbohong, memuji atau mencaci, tetapi pada hari itu, sidik jari mewakili semua bukti, dan kaki menjadi saksi. Ayat tersebut sesungguhnya mengingatkan kepada kita untuk kesekian kali, agar kita menjaga tangan; tidak menyentuh (cukup memandang saja jika memandang itu hak kita) dan tidak menguasai apapun yang bukan hak kita. Kita secara global diingatkan agar berintrospeksi secara serius di masa pandemi ini. Mungkin saja pandemi ini muncul sebagai akibat tangan dan kaki kita yang bergerak leluasa secara bebas, khususnya pada era kemajuan teknologi informasi.
Semakin maju teknologi informasi, tangan dan kaki semakin tandas jejaknya dalam “digital trace” (jejak digital). Jejak dapat lebih mudah terungkap ketika orang terhubung dengan dunia maya. Kode IP dapat menjadi instrumen untuk mengidentifikasi pelaku, lokasi, bahkan jenis media teknologi yang digunakan. Misalnya, hacking terhadap akun facebook dapat dilacak lokasinya dengan prosedur layanan facebook sendiri atau jenis layanan aplikasi lainnya.
Saat ini, sebelum tiba hari pembalasan, tangan sudah bicara secara leluasa melalui jemari meskipun lisan berbungkam, kaki sudah menjadi saksi ketika seseorang berbagi lokasi (sharing location). Mungkin kita sering terlena oleh keleluasaan itu. Bahkan problem keluarga pun mudah dibagi ke publik melalui medsos. Whatsapp Group kadangkala atau mungkin sering terisi oleh pesan-pesan problematik, bukan pesan yang bermanfaat dan mencerahkan bagi mayoritas anggotanya. Semua ini bersumber dari jemari yang bicara atau suka bicara tanpa kendali.
Ketika pesan Tuhan melalui kitab suci-Nya tidak cukup sebagai peringatan, maka peringatan diberikan dalam bentuk lain. Pandemi ini mungkin juga sebagai peringatan serius Tuhan kepada kita semua. Jika demikian, maka kita semua dapat memperbanyak introspeksi. Kita perlu belajar mengontrol diri, mengendalikan jemari, menggunakan masker dan hati, tidak mengumbar emosi, tidak berbuat semena-mena kepada orang lain apalagi kepada saudara sendiri. Jika pandemi ini, tsunami, gempa bumi, dahak gunung berapi, dan lumpur lapindo yang belum berhenti tidak cukup sebagai peringatan, mungkin ada peringatan dalam bentuk lainnya. Na’udhu billa min dhalik. Wa Allah a’lam.
Para kiai telah memberikan bekal spiritual untuk menghadapi pandemi ini melalui Shalawat anti-Corona versi Shaykh Habib Luthfi bin Yahya (sang Suhu Tarekat), Shalawat Tibbil Qulub karya Shaykh Ahmad al-Dardir, doa anti-Corona yang dianjurkan oleh para kiai sepuh, dan doa-doa lainnya. Semua bekal ini dapat kita jadikan sebagai asupan berharga dalam usaha memperkuat introspeksi dan aksi. Hurmatan lahum, al-Fatihah.

