Mengurangi Lonjakan Pengangguran, Tiga Hal Ini Efektif Dilakukan Pemerintah
InformasiDemi mengurangi pengangguran, pemerintah mengeluarkan program Kartu Prakerja. Gelombang demi gelombang peserta pendaftar program Kartu Prakerja terus meningkat. Sejak awal pendaftaran gelombang I (11 April 2020) hingga gelombang VI (31 Agustus 2020) tercatat jumlah peserta telah mencapai 3,08 juta orang berdasar data dari Head of Communication Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja Louisa Tuhatu dilansir Kompas.com, (31/08).
Berdasar unggahan laman Badan Pusat Statistika (BPS) Republik Indonesia Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Februari 2020 tercatat sebesar 4.99 persen. Sementara, dalam setahun terakhir pengangguran bertambah 60 ribu orang. Dengan rincian angkatan kerja per Februari 2020 sebanyak 137,91 juta orang. Jumlah tersebut terhitung naik 1,73 juta orang dibanding Februari 2019. Sedang, sebanyak 74,04 juta orang atau 56,50 persen bekerja di sektor informal. Demikian selama setahun terakhir per Februari 2019 hingga Februari 2020 presentase pekerja di sektor formal meningkat sebesar 0,77 persen.
Membentuk Positif Mindset
Amal Taufiqi Dosen Sosiologi UIN Sunan Ampel Surabaya mengatakan bahwa program Kartu PraKerja yang merupakan salah satu kampanye Jokowi saat Pilpres tentu tetap menjadi suatu hal yang penting guna mengurangi pengangguran di Indonesia. Adapun terdapat banyak faktor yang mengakibatkan tumbuh kembangnya pengangguran. Faktor tersebut terbagi ke dalam dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu mindset.
"Ada yang berpikiran kalau nggak PNS berarti nganggur. Kalau masih kerja informal berarti belum bekerja dan sebagainya. Kurang kemandirian dan kurang kreatif," ucapnya.
Faktor yang kedua, yaitu eksternal. Hal ini meliputi beberapa hal, seperti ketidakseimbangan antara jumlah formasi lapangan kerja dengan angkatan kerja, adanya ketidaksesuain kurikulum dengan kebutuhan pasar, dan orang yang potensial terhempas oleh oknum-oknum berkepentingan. Sedang, Amal pun mengatakan bahwa faktor utama tumbuh kembangnya pengangguran dikarenakan pertumbuhan penduduk yang tinggi dan penduduk yang not well educated.
"Maka yang perlu diperhatikan guna mengurangi pengangguran, yaitu mengontrol pertumbuhan penduduk. Kita harus mengakui bahwa tidak semua produk Orba itu jelek, misalnya program KB, transmigrasi, menunda perkawinan dan sebagainya," ujarnya.
Berdasar data Subdirektorat Statistik Demografi dalam Indonesia Population Projection 2015-2045 Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 dengan menggunakan asumsi dua skenario, yaitu skenario A dan skenario B. Skenario A berdasarkan pada asumsi terkait dengan kebijakan. Skenario B menjadi skenario pembanding yang berdasarkan asumsi sesuai dengan tren. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 berdasar kedua skenario sebesar 255,6 juta. Pada tahun 2025 berdasar skenario A jumlah penduduk Indonesia sebesar 282,4 juta dan skenario B sebesar 282,0 juta. Kalkulasi pertumbuhan jumlah penduduk dari tahun 2015 hingga 2025 berdasar skenario A yakni 1,00 persen dan berdasar skenario B yakni sebesar 0,99 persen.
Baca Juga : Ukhuwah Kolaborasiyah dalam Pengembangan PTKIN: Rektor Persemakmuran (Bagian Pertama)
Demikian dilansir dari laman Kompas.com, (12/08) Data Kependudukan Semester I 2020 per 30 Juni jumlah total penduduk Indonesia sebanyak 268.583.016 jiwa. Jumlah mengalami kenaikan 0,82 persen dibandingkan 2019, yaitu 131.676.425 jiwa.
Menumbuhkan Semangat Kemandirian Dan Enterpreuner
Lebih lanjut, Amal menyampaikan bahwa langkah awal untuk mengurangi pengangguran, yaitu menata ulang orientasi pendidikan dengan mengembangkan kurikulum pendidikan sesuai dengan kebutuhan lapangan. Demikian, juga perlu menumbuhkan semangat kemandirian dan enterpreuner. Tak hanya itu, demi efektifitas program Kartu PraKerja maka program tersebut juga perlu menyasar ke seluruh komponen masyarakat.
"Misalnya, semua komponen masyarakat dapat mendaftar, baik fresh graduate atau old graduate. Selain itu, juga perlu mempertimbangkan terkait beberapa wilayah di Indonesia yang tak dapat mendaftar akibat sinyal internet," tuturnya.
Mengembangkan Aset Social Capital Dan Cultural
Kendati demikian, program Kartu PraKerja kini justru menciptakan perilaku sosial baru masyarakat. Adanya program Kartu PraKerja akibatnya terdapat beberapa masyarakat menjadi berperilaku pragmatis dan beberapa masyarakat lainnya berpikir justru menjadi kesempatan untuk mengembangkan skill. Seperti halnya Amal mengatakan bahwa setiap orang mampu dan memiliki aset dalam diri yang bisa dikembangkan. Hal itu, tak hanya berupa aset ekonomi, tapi bisa juga social capital dan social cultural.
"Kalau meminjam istilah (Bourdieu) modal tidak hanya ekonomi. Era saat ini modal dapat berupa social capital, seperti jaringan itu menjadi penting. Selain itu, modal budaya seperti intelektualitas sarjana. Dalam pandangan Asset Based, yaitu No Body Has Nothing. Jadi setiap orang pasti memiliki sesuatu. Tinggal dia menyadari atau tidak. Mau atau tidak," pungkasnya. (Nin)

