Marbot
pepelingOleh: Jambedaweh
Mengawali pembacaan, marilah kita bacakan surat al-Fatihah untuk tokoh kita kali ini, Wak Kasan. Untuknya, al-Fatihah.
Umumnya masyarakat di kampung kami tidak menemukan keistimewaan khusus bila melihat sosok Wak Kasan. Bukan sebab Wak Kasan tidak memiliki keistimewaan, tapi memang begitulah cara pandang dan cara berpikir umumnya orang kampung kami –atau bahkan pada banyak warga kampung lain—yang agaknya sulit–atau bahkan enggan—melihat sisi kelebihan orang lain. Terkecuali bila sosok tersebut dianggap mampu memberi keuntungan secara material yang faktual, tentu akan mudah memberikan cap bahwa sosok itu merupakan orang yang luar biasa. Apalagi bila perolehan atau keuntungan tersebut tidak menuntut kompensasi apapun, tentu sosok itu akan dipuja bak dewa dan dielu-elukan bak pahlawan yang baru pulang dari medan perang.
Wak Kasan merupakan marbot masjid di kampung kami. Sebagaimana kaprahnya marbot, sehari-hari tugas Wak Kasan adalah memastikan masjid berada dalam kondisi suci sehingga dapat digunakan sebagai tempat beribadah. Selain itu, Wak Kasan dianggap memiliki keahlian terkait kelistrikan, sehingga keahlian itu melengkapi tugasnya sebagai marbot. Bila ada persoalan tentang listrik di masjid, takmir tidak perlu menggunakan jasa orang lain. Cukup Wak Kasan yang menyelesaikannya. Bahkan warga di kampung kami juga kerap meminta bantuan Wak Kasan membenahi problem kelistrikan di rumahnya. Tapi legitimasi sosial sebagai marbot yang plus ahli listrik menjadikan Wak Kasan sering mendapatkan upah berupa ucapan “terima kasih” setiap menyelesaikan order-nya.
Secara lahiriah, Wak Kasan sebenarnya bukan termasuk orang miskin sehingga ia berhak mendapat belas kasihan. Tapi ia juga bukan orang kaya yang bergelimang harta. Lima kamar kos dan sepetak kios kecil yang dimilikinya lebih dari cukup untuk menghidupi kebutuhan keluarganya yang terdiri dari tiga anak dari satu istri. Paling tidak hal itu dapat dilihat dari sangat jarangnya –bahkan belum pernah ditemui—Wak Kasan atau keluarganya “mengeluh” atau berhutang pada para tetangga. Fakta lainnya, setelah menamatkan pendidikan di pesantren, tiga anaknya kini sedang menjadi mahasiswa di beberapa perguruan tinggi yang tentunya membutuhkan pengeluaran rutin tiap bulan.
Menurut catatan buku keuangan takmir, sebagai marbot Wak Kasan mendapat upah tiap bulan sebesar 500.000 rupiah. Konsekwensinya, Wak Kasan harus memastikan gedung dan area masjid suci, termasuk kawasan pasucen. Dua kali dalam sehari Wak Kasan mengepel lantai masjid, biasanya setelah isya dan sebelum maghrib. Namun bila setelah isya ada kegiatan sosial kemasyarakatan seperti tahlilan, jamiyah, atau walimah, Wak Kasan memindah tugas mengepel pada saat sebelum zuhur.
Selain itu, ada bonus istimewa dari fungsi Wak Kasan sebagai marbot. Bonus itu adalah menjadi muazin hampir pada tiap pelaksanaan shalat lima waktu. Bonus itu menuntut Wak Kasan harus selalu stand by beberapa saat sebelum masuk waktu shalat untuk membuka pintu-pintu masjid, mengecek kesiapan sarana peribadatan, dan memastikan semuanya layak difungsikan. Ketika jamaah usai, Wak Kasan menjadi orang yang paling akhir keluar masjid, sebab ia harus kembali menutup dan mengunci pintu-pintu masjid. Selain itu ia harus memastikan berbagai peralatan seperti kipas angin, sound system, AC, lampu, kran dan pompa air, serta berbagai beberapa fasilitas lain telah dimatikan.
Baca Juga : Dasar Profetik Transendental Indonesia Sebagai Negara Sejahtera Hukum
Bila ada para ibnu sabil yang “i’tikaf” selepas shalat –dan biasanya ini terjadi saat waktu shalat zuhur--, Wak Kasan kerap menunggui mereka. Tujuannya memberikan pelayanan pada para tamu Allah itu, sekaligus menjadi petugas keamanan untuk mengantisipasi bila ada di antara ibnu sabil itu yang iseng dan panjang tangan atas barang-barang inventaris masjid.
Memang Wak Kasan menjadi orang yang kali pertama ditanya bila ada sesuatu yang tidak berfungsi atau hilang di masjid, kecuali alas kaki jamaah yang kerap saling tertukar. Pernah suatu kali diketahui seperangkat alat sound system masjid hilang pada jam 14.30 WIB sebelum masuk waktu ashar. Padahal pada jam 12.30 WIB selepas jamaah zuhur di hari yang sama alat-alat itu masih ada. Jendela ruangan tempat alat-alat itu tersimpan jebol. Sontak hampir semua warga–termasuk yang biasa berjamaah dan lebih tahu kondisi masjid—melimpahkan kesalahan pada Wak Kasan bak direksi perusahaan memarahi karyawannya. Tapi mendapatkan perlakuan itu semua, Wak Kasan hanya menjawab “inggih, matur nuwun” atau “inggih, ngapunten.”
Selain itu, bila masjid ada kegiatan yang bersifat massal seperti pengajian umum, pelaksanaan shalat hari raya, atau peringatan hari besar Islam (PHBI) lain, maka Wak Kasan menjadi tenaga serabutan yang paling repot baik sebelum maupun setelah kegiatan. Pernah suatu kali di tengah malam setelah pengajian umum, hampir semua panitia telah pulang termasuk para sinoman. Hanya Wak Kasan yang dengan bertelanjang dada merapikan perabotan masjid, lalu mengepel seluruh lantai masjid setelah sebelumnya membersihkannya dari sampah-sampah sisa peserta pengajian. Baru sekitar jam dua dini hari Wak Kasan pulang ke rumahnya dan pada jam 03.30 WIB sudah kembali ke masjid untuk melaksanakan tugas rutinnya.
Membuka pintu-pintu masjid, memastikan kesuciannya, azan dan iqamah, dan datang-pergi sebelum-setelah pelaksanaan jamaah shalat, tentu hal-hal yang kerap tidak dianggap penting. Bisa jadi karena hal itu menjadi rutinitas, atau memang karena pekerjaan itu tidak berada pada front stage atraksi keberagamaan kita. Memang bagi sebagian kita orang seperti Wak Kasan adalah para pekerja yang ada di sisi back stage dari panggung perhelatan keberagamaan. Tentu anggapan ini diteruskan dengan jastifikasi bahwa para artis di panggung depan berhak mendapat upah lebih besar dari pekerja kasar yang ada di panggung belakang.
Telinga kita yang sudah terbiasa mendengar panggilan shalat lima kali lengkap dengan ornamen musikalisasi sound-track ilahi khas yang biasa dibunyikan sebelumnya. Bahkan mungkin kita akan protes bila pada satu waktu –misalkan sepekan saja—telinga kita tak mendengar azan dan suara-suara suci yang memprovokasi keimanan kita untuk mendekatkan diri pada rumah Allah. Namun mungkin kita tak sempat memikirkan bagaimana memastikan suara-suara suji itu tetap bertahan dan mampu mengingatkan kita bahwa agama ini masih ada di sekitar kehidupan kita yang sudah sangat ramai dan sibuk ini. Atau bisa jadi karena memang genre kehidupan dan keberagamaan kita ini lebih bercorak konsumen daripada produsen, juragan daripada pelayan, dan pemirsa daripada aktornya.
Keberadaan Wak Kasan terasa menjadi sangat penting justru ketika tiba-tiba ia meninggal. Selepas subuh sampai matahari sudah agak meninggi di pagi hari Jumat, Wak Kasan tak kunjung pulang. Saat istrinya mencari info di masjid, ia menemukan suaminya itu sudah meninggal dalam posisi menelungkup di atas sajadah di satu sudut masjid yang biasa ditempati Wak Kasan beribadah. Jadilah jenazah Wak Kasan dishalati selepas shalat Jumat dan dikebumikan di pemakaman sebelah masjid.
Saat azan berkumandang, umumnya telinga warga kampung kami agak aneh mendengar suara panggilan suci itu, walau dikumandangkan oleh orang-orang dengan suara merdu atau qori’ di kampung kami. Telinga kami lebih akrab dengan suara azan khas milik Wak Kasan. Kesucian masjid tak selevel dengan kualitas pada masa periode Wak Kasan menjadi marbot. Pengeluaran masjid kerap membengkak sebab harus mengeluarkan biaya tambahan saat ada gangguan kelistrikan. Persis dengan warga kampung kami yang kesulitan menjadi tukang listrik bila ada persoalan kelistrikan di rumahnya. Kepanitiaan PHBI kerap harus menganggarkan alokasi tambahan untuk petugas kebersihan yang biasanya itu cukup dilakukan Wak Kasan. Walhasil, semua orang di kampung kami baru merasakan “kesaktian” Wak Kasan justru saat yang bersangkutan dipanggil menghadap Sang Pencipta.
Tapi yang membuat dada kami sesak tertampar malu adalah saat petugas pengumuman infaq dan jadwal petugas khatib serta shalat Jumat mengumumkan sebuah pesan beberapa bulan setelah Wak Kasan meninggal. Info yang disampaikannya mengabarkan bahwa ada seorang donatur yang membebaskan lahan pekarangan di samping masjid dan mewakafkannya untuk masjid dan pemakaman desa. Ternyata donatur itu bernama Wak Kasan, tukang marbot masjid kami.
Selepas rangkaian pelaksanaan shalat Jumat, sebagian warga kampung kami mengkonfirmasi info itu pada Kyai Sudjak, ketua takmir sekaligus ulama panutan di kampung kami. “Jadi Wak Kasan itu menabung semua uang upahnya semenjak menjadi marbot di masjid ini. Ternyata uang itu digunakannya membeli tanah di sebelah itu. Lalu malam Jumat sebelum ia meninggal, Wak Kasan berwasiat pada anak dan istrinya untuk mewakafkan tanah yang baru dibelinya pada masjid dan makam. Menurut istrinya, masih ada sisa uang upahnya Wak Kasan sebagai marbot lengkap dengan amplopnya. Katanya, atas wasiat Wak Kasan juga, uang itu akan dibelikan alat pemutar pengajian otomatis untuk masjid.”
Begitulah mentalitas keberagamaan Wak Kasan. Bahkan ia masih berpikir untuk memastikan agama ini dan rutinitas ajakan pada Allah tetap berjalan, justru pada posisinya yang tak banyak dilihat penting dan layak mendapat apresiasi. Selamat jalan Wak Kasan, marbot kami.

