Madzhab Baru
OpiniDi dalam dua buku saya, “Perjalanan Etnografis Lima Benua” yang diterbitkan oleh LKIS, 2014, dan “Perjalanan Etnografis Spiritual” yang diterbitkan oleh Dialektika, Yogyakarta, 2020, saya menyebutkan satu konsep “light description”. Istilah ini saya jadikan sebagai label atas tulisan “selintas” tentang perjalanan yang saya lakukan di luar negeri dan kemudian saya tuliskan dalam bentuk bahasa tutur, sebagai laporan perjalanan, dan selanjutnya saya terbitkan sebagai konsep etnografis.
Waktu itu saya teringat dengan Levi Strauss, yang melakukan perjalanan ke Amerika Latin dan mencatat perjalanan tersebut kemudian menerbitkan catatan-catatan itu dengan label “Structural Anthropology”, selanjutnya menjadi madzhab baru di bidang antropologi untuk menggenapi madzhab antropologi, selama itu, yaitu madzhab evolusionisme, kognitivisme, dan fungsionalisme. Kemudian muncul juga madzhab Interpretatif simbolisme, yang dilahirkan oleh Clifford Geertz.
Tradisi para antropolog untuk melakukan penelitian selalu mengambil waktu yang lama, kurang lebih dua tahun. Mengikuti tradisi ini, misalnya adalah Clifford Geertz, Hildred Geertz, Parsudi Suparlan, Pradjarta Dirdjosanjoto, Irwan Abdullah, Muhaimin AG., Erni Budiwanti, John Ryan Bartolomew, Amri Marzali, Ahmad Fediyani Saifuddin, Mark R. Woodward, Nur Syam dan sebagainya. Semakin lama penelitian dilakukan, maka semakin kaya data dan semakin luas cakrawala pemahamannya mengenai subyek dan lokus yang ditelitinya.
Menurut Geertz, data yang kaya dan mendalam itu disebut sebagai thick description atau deskripsi rinci atau deskripsi mendalam, bukan deskripsi tebal. Bukunya yang sangat fenomenal, Javanese Religion adalah contoh mengenai deskripsi rinci yang dibuat oleh Geertz di dalam buku tersebut. Demikian pula buku saya, “Islam Pesisir” juga menggunakan pola sebagaimana ajaran Geertz dalam penulisan etnografi, termasuk buku saya yang lain, “Tarekat Petani, Fenomenologi Tarekat Syatariyah Lokal”. Hasil-hasil wawancara mendalam dan observasi terlibat dideskripsikan sesuai dengan apa yang didengar dan dilihat dalam suatu penelitian.
Berangkat dari konsepsi Geertz yang diikuti oleh banyak peneliti tersebut, maka saya mencoba menggagas satu konsep baru untuk melabel karya saya di atas, yaitu dengan sebutan light description atau deskripsi selintas bukan sebagai deskripsi ringan. Deskripsi selintas ini merupakan label terhadap hasil pengamatan terlibat atau wawancara mendalam tetapi tidak dalam rentang waktu penelitian yang panjang. Jadi hanya menggambarkan secara selintas tentang tema-tema perjalanan, dan kemudian dicatat dan diterbitkan.
Di dalam bedah buku “Perjalanan Etnografis Spiritual” untuk menandai launching Nur Syam Centre, Prof. Irwan Abdullah menggarisbawahi terhadap konsep light description tersebut dan memberikan label konsep light ethnography. Konsep ini muncul berkaitan dengan tulisan saya yang secara selintas melaporkan hasil pengamatan dan wawancara dalam konteks etnografi. Prof. Irwan menyatakan bahwa “Tulisan Pak Nur Syam ini mengingatkan tentang masa-masa awal lahir dan tumbuhnya kajian antropologi yang dilakukan oleh orang Barat. Ketika mereka pergi ke Turki dan kemudian melaporkan perjalanannya. Para antropolog awal ini melihat di suatu sore ada banyak orang datang ke masjid, mengambil wudlu lalu shalat. Para pengkaji ini tidak tahu apa kegiatan tersebut, tetapi melaporkannya dalam tulisan sistematis.”
Etnografi sebagai ilmu pengetahuan kemudian memperoleh sentuhan yang sangat memadai dengan upaya-upaya para pengkajinya. Di Indonesia tentu makin banyak yang meminati kajian etnografi, sebagai kelanjutan para sarjana Belanda yang melakukan pelaporan atas perjalanannya di berbagai sudut Nusantara. Nama Snouck Hurgronje adalah orang yang bisa dirujuk untuk menggambarkan bagaimana tulisan-tulisannya menjadi penting di dalam “pencengkeraman” kepulauan Nusantara di tangan kaum penjajah. Sarjana Belanda lainnya, seperti Martin van Bruinessen dan Karel Steenbrink adalah nama yang sangat tersohor sebagai Indonesianis tahap berikutnya. Hanya saja dua yang terakhir lebih menekankan kajian etnografi sebagai ilmu yang ketat dengan metodologi penelitiannya.
Light Ethnography atau light description, saya kira bisa dijadikan sebagai salah satu cara bagi para peneliti yang sudah tidak lagi memiliki waktu yang panjang untuk mengkaji realitas sosial yang kompleks dan juga bisa menjadi rujukan dalam pengkajian terhadap masyarakat yang baru dikenalnya dan dipahami realitas sosialnya secara selintas. Pola baru pengkajian etnografi ini memang tidak untuk dijadikan sebagai kajian etnografi akademis yang rumit, namun saya kira tetap memiliki nuansa ilmiah yang memadai.
Melalui metode ini, maka tetap akan dihasilkan karya ilmiah melalui momen perjalanan yang terbiasa dilakukan. Selain menikmati keindahan dan suasana baru tersebut, maka seorang etnografer akan bisa menuliskan pengalamannya di dalam perjalanan itu dengan semangat dan keinginan untuk berbagi cerita. Melalui cara seperti ini, maka para peneliti yang tentu memiliki cara pandang yang berbeda dengan masyarakat kebanyakan akan tetap menghasilkan karya-karya berbobot meskipun berbasis atas kajian selintas.
Namun demikian, yang patut diperhatikan di dalam penceritaan light ethnography ini adalah sebagaimana ancangan dalam penelitian etnografi yang diajarkan oleh James P. Spradley, di dalam Ethnographic Interview bahwa terdapat delapan hal yang harus diperhatikan, yaitu: pelaku, waktu, tempat, suasana, kejadian, alat-alat yang di sekitar realitas empiris, tujuan dan makna. Delapan hal ini merupakan realitas sosial yang harus diungkapkan oleh penulis light ethnography, agar tulisannya menjadi menarik dan penceritaan menjadi lebih lengkap.
Dan yang paling penting adalah bagaimana teknis menuliskan pengalaman tersebut. Di dalam konteks ini, maka ciri penulis etnografi yang gaya tulisannya lebih bercorak cerita atau Bahasa tutur menjadi penting. Sebagaimana diungkapkan oleh Prof. Masdar Hilmy, bahwa “Buku Perjalanan Etnografis Spiritual itu jika dibaca, rasanya kita seperti dibawanya ke dalam nuansa perjalanan yang sedang dilakukan. Berangkat dari hal yang remeh temeh atau yang kecil dan tidak bermakna bisa diceritakan menjadi cerita besar yang mengasyikkan”. Dan kelebihan tulisan Prof. Nur Syam di dalam buku ini adalah mengangkat isu yang kecil menjadi peristiwa yang menarik untuk dikaji”.
Dengan demikian, karya tulis etnografi tidak harus selalu dipahami dalam pola kajian rinci, mendalam dan terfokus pada satu realitas empiris, akan tetapi bisa juga dalam pola penulisan bergaya tutur, ringan, atau selintas tetapi memberikan makna yang mendalam jika dikaji secara lebih lanjut.
Wallahu a’lam bi al shawab.

