Ukhuwah Kolaborasiyah dalam Pengembangan PTKIN: Rektor Persemakmuran (Bagian Pertama)
KhazanahProf. Dr. Nur Syam, MSi
Yang dimaksud dengan Rektor Persemuran adalah para rektor yang institusinya di masa lalu menjadi cabang dari IAIN Sunan Ampel. Di masa lalu disebut sebagai IAIN Sunan Ampel Cabang Malang, Tulungagung, Ponorogo, Kediri, Jember, Pamekasan, Samarinda, dan Mataram. Kini, para rektor tersebut telah menjadi Rektor UIN Malang, UIN Jember, UIN Tulungagung, UIN Kediri, UIN Samarinda, UIN Pamekasan, UIN Ponorogo, UIN Kediri, UIN Mataram dan UIN Sunan Ampel. Ada delapan institusi di masa lalu menjadi cabang IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan sekarang sudah merdeka dan telah menjadi PTKIN yang unggul dalam belantika akreditasi nasional. Luar biasa! Pertemuan Forum Rektor Persemuran dilakukan di UIN Sultan Aji Muhammad Idris, Samarinda, 07-09/11/2025.
Sebagai pendamping Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, maka Kementerian Agama mencanangkan Asta Protas atau Delapan Program Prioritas, yaitu: Meningkatkan kerukunan dan cita-cita kemanusiaan, Penguatan ekoteologi, Layanan keagamaan berdampak, Mewujudkan pendidikan unggul, ramah dan terintegrasi, Pemberdayaan pesantren, Pemberdayaan ekonomi, Pemberdayaan rumah ibadah, dan Digitalisasi tata kelola.
Di antara indikator bahwa Kemenag hadir di tengah masyarakat adalah adanya pelayanan yang optimal atau pelayanan berbasis pada kepuasan pelanggan. Kotler (2019) menyatakan bahwa kualitas layanan adalah bentuk penilaian konsumen atau pelanggan atas pelayanan yang diterima yang sesuai dengan harapannya. Untuk mengukur pelayanan, maka ada empat hal yaitu: bukti fisik (bukti fisik), kehandalan (keandalan), daya tanggap (jaminan) dan empati (kepedulian).
Sebagai pimpinan Perguruan Tinggi (PT), maka pelayanan pendidikan dapat memuaskan pelanggan apabila memenuhi atas empat indikator tersebut, yaitu: 1) Terdapat bukti empiris yang menunjukkan bahwa pelayanan PTKIN memang sesuai dengan kenyataan. Misalnya alumninya memiliki kemampuan sesuai dengan hard skill dan soft skill-nya . 2) Terdapat bukti bukti pelayanan yang dibuktikan dengan secara empiris menghasilkan produk sarjana yang mampu dan memiliki kapasitas yang diharapkan. 3) Adanya jaminan kualitas lembaga pendidikan yang dapat diandalkan sesuai dengan hard skill dan soft skill-nya . 4) Adanya kepedulian institusi untuk melakukan perubahan sesuai dengan harapan masyarakat atas pelayanannya untuk berdampak pada alumni.
Kita memahami ada sekian banyak jenis layanan pendidikan, yaitu: Layanan administrasi pendidikan berbasis digital, Layanan kurikuler berbasis KBC dan Ekoteologi, Layanan non kurikuler berbasis soft skill, Layanan perpustakaan berbasis digital, Layanan pembelajaran berbasis hybrid system, Layanan penelitian dampak, Layanan pengabdian masyarakat berdampak, Layanan pusat bahasa, kebudayaan dan teknologi informasi berdampak, Layanan keagamaan berbasis Islam rahmatan lil alamin. Masing-masing harus memiliki distingsi dan ekselensinya. Seluruh layanan PTKIN harus memiliki keunggulannya masing-masing dapat berbeda antara satu institusi dengan institusi lainnya.
Jika PTKIN ingin berdampak, maka ada dua syarat, yaitu: menjadi institusi pendidikan berkualitas dan menjadi institusi pendidikan yang berdampak bagi masyarakat. Sebagai perguruan tinggi yang harus berdampak, maka PTKIN harus memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang dibuktikan dengan akreditasi Institusi dan prodi yang unggul. Bagi kita, pendidikan berkualitas memiliki indikator pengakuan lokal dan internasional, memiliki jaringan lokal dan internasional, memiliki reputasi kompetisi lokal dan internasional. Memiliki relevansi tujuan, sasaran, kurikulum dan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Baca Juga : Marriage Is Scary : Menggali Ketakutan dan Kecemasan dalam Pernikahan
Selain itu, juga memiliki keberhasilan dalam program pendidikan berbasis pada Work Based Learning (WBL) atau Outcome Based Education (OBE) dengan ciri bahwa siswa memiliki kemampuan hard skill dan soft skill yang memadai. Memiliki tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang mampu dalam kinerjanya. Memiliki kepemimpinan yang futuristik atau kepemimpinan transformatif dan berbasis pada Friendly Leadership yang bereksistensi dalam kehidupan kampus dan juga memiliki kerja yang sama berdampak bagi PTKIN dan masyarakat.
Untuk memahami dampak PTKIN, maka dapat dilihat dari indikator, yaitu: menghasilkan lulusan yang memiliki masa depan di dalam kehidupannya. Dewasa ini masih cukup besar sumbangan kemiskinan di kalangan sarjana. Berdasarkan data diketahui ada sebanyak 7,8 juta (2025) kemiskinan dan kebanyakan berasal dari Ilmu sosial, humaniora dan ilmu agama. Tiga institusi PT ini yang menjadi penyumbang kemiskinan terbesar di Indonesia.
Oleh karena itu diperlukan upaya untuk menghasilkan lulusan yang berseirama dengan kebutuhan dunia kerja dan dunia usaha atau berkemampuan menciptakan lapangan usaha sendiri. Tidak hanya itu, PTKIN dan civitas akademikanya harus berkontribusi pada perubahan akseleratif sosial yang dirancang bersama masyarakat. Mereka menguasai pembangunan masyarakat melalui Participatory Action Research (PAR) maupun pendekatan Aset Based Community Development (ABCD) yang dapat dijadikan sebagai piranti kampus untuk berdampak. Yang tidak kalah pentingnya adalah mengembangkan masyarakat berbasis pada konvergensi tridharma PTKIN. Pengajaran menghasilkan penelitian dan berakhir pada pengabdian masyarakat dan secara sirkular terus bergulir.
PTKIN juga harus konsisten dengan program pendidikan sesuai dengan subyek kajian atau prodinya, tetapi juga terus berupaya dan menghasilkan perubahan sosial bersama masyarakat. PTKIN dapat memanfaatkan jejaring dan kolaborasi dengan Dunia Industri dan Dunia Usaha (DIDU) untuk kepentingan perubahan terencana sosial dalam berbagai aspek, seperti sosial, ekonomi, politik, budaya dan keagamaan.
PTKIN harus menjaring kerja sama dengan DIDU untuk kepentingan program yang akan berdampak pada mahasiswa dan juga masyarakat. Bagi saya masih ada perlunya mengembangkan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dengan berbagai proyek pengembangan mahasiswa yang terukur.
Wallahu A'lam bi al shawab.

