(Sumber : kompasiana)

Mengejar Generasi Masa Depan: Kecermatan Guru Milenial di Era Gen Z dan Alfa

Horizon

Oleh: Ibrohim Muchlis

Mahasiswa S3 Dirasah Islamiyah (Studi Islam) UIN Sunan Ampel Surabaya

  

Tiktok satu diantara aplikasi media sosial wajib selain FB, IG, X dan WhatsApp yang ada dalam setiap gedget anak muda sekarang, tidak terkecuali saya sendiri. beberapa hari yang lalu, pasca perkuliahan Prof. Dr. Nur Syam M.Si pada matakuliah teori-teori sosial di S3 UIN Sunan Ampel Surabaya, sesampai rumah, saya membuka tiktok dan bermunculan kasus seorang guru yang dimeja hijaukan oleh wali muridnya hingga bermunculan berbagai reaksi nitizen indonesia yang dikenal ampuh dalam mengawal berbagai kasus. Sayapun terengah bukan karena kasus tersebut, tapi reaksi konten parodi yang dilakukan oleh sebagian oknum guru dan muridnya sebagai kritik pada pemerintah.

  

Terdapat pribahasa “Guru diguguh dan ditiru” yaitu seorang guru harus menjadi teladan yang baik bagi murid-muridnya, sebab murid memiliki kecenderungan untuk meniru apa yang dilakukan oleh guru mereka, baik prilaku sikap ataupun nilai-nilai yang diajarkan. Namun harus kita sepakati bersama dalam menghadapi murid dari generasi Z dan Alfa menuntut guru milenial untuk mengembangkan kecermatan dalam menghadapi tantangan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Sebab tantangan tersebut tidak hanya berkutat dengan kurikulum yang kini guru dituntut untuk menjadi fasilitator bagi generasi yang tumbuh dalam dunia digital, media sosial, dan perubahan sosial yang memiliki perubahan yang sangat cepat.

  

Tantangan ini tidak tanpa resiko, sebab belakangan ini marak sekali kasus yang melibatkan guru murid dan orang tua hingga menempuh jalur hukum. Satu diantraanya ialah peristiwa di Banyumas dimana seorang guru dilaporkan oleh wali murid terkait dugaan kekerasan verbal dan fisik, kasus lain seorang guru yang menggunduli rambut siswi tanpa persetujuan orang tua yang memicu reaksi keras dari masyarakat, terutama nitizen indonesia. Tindakan tersebut dianggap tidak hanya sebagai pelanggaran etika, juga berisiko menurunkan kepercayaan diri anak. Hingga kejadian-kejadian ini menunjukkan adanya kesenjangan komunikasi dan pemahaman antara guru dan orang tua yang dapat memperburuk kondisi psikologis anak-anak.

  

Disini guru milinial, dengan pemahaman yang lebih baik tentang teknologi, memiliki potensi untuk memecahkan persoalan ini melalui kecermatan dan pendekatan emosional, guru milinial harus lebih empatik, responsif dan sadar akan dampak psikologis dari tindakan mereka, serta memperkuat komunikasi dengan orang tua. Disisi lain, Gen Z dan Alfa membutuhkan guru yang tidak hanya kompeten dalam bidangnya, tapi juga peka terhadap kebutuhan emosional dan sosial mereka.

   

Seiring dengan perkembangan peran teknologi, guru milenial juga perlu menyesuaikan metode pengajaran mereka, tidak hanya dalam hal media pembelajaran, tapi juga dalam membangun hubungan yang lebih sehat antara sekolah dan orang tua. Pembelajaran berbasis kolaborasi, kepekaan terhadap perasaan peserta didik, dan pendekatan yang lebih inklusif merupakan sebuah kunci dalam menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan tradisional dan perubahan zaman.

  

Selain tantangan guru milenial terhadap orang tua murid, terdapat tantangan utama bagi guru milenial dalam mengahadapi murid gen z dan alfa, yaitu beradaptasi terhadap gaya belajar yang lebih digital dan interaktif. Murid gen z dan alfa yang sudah terbiasa dengan teknologi, internet dan media sosial yang juga mengubah cara mereka berinteraksi. Guru milenial perlu meningkatkan keterampilan teknologi dan menciptakan metode pembelajaran yang lebih fleksibel, menarik dan berbasis kolaborasi. Selain itu guru milenial  juga harus sensitif terhadap kebutuhan emosional dan sosial murid yang cenderung lebih terbuka dengan masalah mental dan psikologis.

  

Sedangkan tantangan psikologis guru milenia dalam menghadapi murid gen z dan alfa dalam menyesuaikan metode pengajaran dengan kebutuhan emosional yang lebih kompleks, bukan hanya di lingkungan sekolah, tapi juga dilingkungan rumah, baik orang tua dan orang-orang sekitarnya. Gen z dan alfa lebih terbuka dengan persoalan mental dan sosial, sehingga bukan hanya guru yang perlu lebih sensitif terhadap kecemasannya, tekanan sosial, dan perasaan mereka, melainkan juga orang tua dan lingkungannya yang jauh memiliki peran penting dalam mendidik anak-anak gen z dan alfa. Sebab generasi ini memiliki kecenderungan lebih mudah terdistraksi dengan teknologi, sehingga seorang guru milenial harus memiliki pembelajaran yang menarik sekaligus menjaga keseimbangan antara pembelajaran berbasis digital dan kebutuhan akan interaksi sosial yang lebih mendalam.

  

Kedepan, guru milenial dan orang tua milenial perlu lebih bijak dalam mengelola dinamika ini agar tidak hanya mengajar dan mendidik, tapi juga mempersiapkan generasi masa depan untuk menghadapi tantangan global dengan penuh percaya diri.