(Sumber : Kompas.com)

Wasiat Tradisi: Belajarlah dari Padi

Horizon

Sokhi Huda

(Kaprodi KPI Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya)

  

Pendahuluan

  

Indonesia, negeri tercinta ini, adalah ibu pertiwi yang kaya tradisi, berakar kuat di dalam kehidupan masyarakatnya sendiri. Kearifan lokal bukan hanya menjadi bagian, tetapi juga nafas dari kehidupan sehari-hari di berbagai lapisan masyarakat. Setiap daerah memiliki simbol-simbol kebijaksanaan yang diturunkan dari leluhur mereka, mencakup banyak aspek mulai dari cara bertani, berinteraksi, hingga menjalani hidup. Akan tetapi di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi, tradisi-tradisi ini semakin terpinggirkan. Generasi muda, yang seharusnya menjadi penerus warisan budaya, kini justru kian menjauh dari nilai-nilai lokal dan lebih tertarik pada budaya asing yang dianggap lebih “kekinian.” Hal ini dapat menjadi perhatian bersama bahwa seiring waktu, kearifan lokal mungkin dapat hilang jika tidak dijaga dan dilestarikan dengan baik.

  

Salah satu simbol yang kuat dalam kebudayaan kita yang mengandung nilai-nilai luhur adalah “padi.” Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, padi bukan sekadar tanaman pangan, tetapi juga lambang kehidupan, kemakmuran, dan kebijaksanaan. Filosofi “belajarlah dari padi” mengajarkan tentang rendah hati dan bijaksana. Mungkin sebagian orang melupakan maknanya di tengah budaya kompetisi yang merajalela. Pesan ini, yang dulu diwariskan dari generasi ke generasi, kini sering kali terdengar usang dan kurang relevan. Padahal, di era modern yang penuh persaingan, nilai-nilai padi justru sangat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan hidup. Kegagalan dalam mempertahankan filosofi ini bukan hanya ancaman bagi budaya, tetapi juga bagi karakter generasi mendatang yang mungkin akan tumbuh tanpa fondasi kebijaksanaan lokal.

  

Filosofi Padi: Semakin Berisi, Semakin Merunduk

 

Ungkapan “semakin berisi, semakin merunduk” adalah gambaran dari padi tumbuh dan berkembang. Ketika padi mulai menua dan mengisi bulir-bulirnya, tangkainya pun semakin menunduk. Hal ini melambangkan sikap rendah hati dan kesadaran akan pengetahuan serta pengalaman. Orang yang memiliki ilmu atau kemampuan yang mendalam sebaiknya tidak menunjukkan kesombongan, melainkan tetap rendah hati dan menyebarkan manfaat dari ilmunya.

  

Dalam masyarakat yang penuh dengan persaingan dan ego tinggi, sifat merunduk ini menjadi kualitas yang langka namun sangat bernilai. Sebagaimana padi yang merunduk tidak berarti lemah, demikian pula manusia yang rendah hati bukanlah mereka yang tidak memiliki kualitas, melainkan justru adalah mereka yang memiliki kecerdasan dan pemahaman tinggi.

  


Baca Juga : Fesyen dan Musik, Sebuah Inovasi Kampanye Lingkungan

Belajar dari Padi untuk Mencapai Kemakmuran

  

Padi telah menjadi simbol kemakmuran di banyak kebudayaan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Proses bertani padi mengajarkan kita tentang kerja keras, ketekunan, dan kesabaran. Mulai dari menanam hingga panen, petani harus melalui berbagai tahap, menghadapi tantangan cuaca, hama, dan kekurangan air. Proses ini menunjukkan bahwa kemakmuran dan hasil yang baik hanya dapat dicapai melalui kerja keras dan ketekunan.

  

Di era modern ini, prinsip kerja keras dan ketekunan masih relevan dalam setiap aspek kehidupan. Dalam bekerja atau mengejar impian, tidak ada hasil yang instan. Semangat bertani padi ini mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang berharga dalam hidup membutuhkan waktu dan upaya sungguh-sungguh untuk diraih. Ada wise word (kata bijak) “success never comes to the indolent” (keberhasilan tidak akan pernah datang kepada pemalas).

  

Siklus Kehidupan dan Nilai Kebersamaan

  

Proses tumbuhnya padi juga mencerminkan siklus kehidupan manusia. Mulai dari benih hingga padi siap panen, semua tahapan memiliki tantangannya sendiri. Pada saat padi masih berupa benih, ia memerlukan perhatian khusus, air yang cukup, serta sinar matahari yang tepat. Ketika mulai tumbuh, padi memerlukan perlindungan dari hama dan penyakit.

   

Demikian juga dalam kehidupan manusia, kita mengalami fase-fase yang penuh tantangan. Akan tetapi dengan bimbingan, pengajaran, dan bantuan orang lain, kita dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijaksana. Tradisi gotong royong dalam bertani padi juga mengajarkan kita tentang pentingnya kebersamaan dan saling membantu. Gotong royong menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam masyarakat Indonesia, terutama di pedesaan, para petani saling membantu saat menanam maupun saat panen. Nilai kebersamaan ini sangat berharga, terlebih di zaman modern ini yang individualisme semakin marak.

  

Filosofi Kesederhanaan dan Kecukupan

  

Padi yang merupakan bahan pokok makanan orang Indonesia menjadi simbol kesederhanaan. Nasi yang dihasilkan dari padi adalah makanan sederhana yang memberikan energi bagi tubuh. Dalam budaya Indonesia, makanan yang dihasilkan dari padi hampir selalu ada di setiap meja makan, tanpa mengenal kelas atau strata sosial. Kesederhanaan ini mengajarkan kita untuk hidup sesuai kebutuhan, tanpa perlu berlebihan. Di tengah masyarakat yang sering kali terjebak dalam gaya hidup konsumtif, filosofi kesederhanaan dari padi mengingatkan kita bahwa hidup ini lebih indah ketika dijalani dengan kecukupan dan keseimbangan.


Baca Juga : Membuat Tuhan Tersenyum

  

Padi dan Rasa Syukur

  

Siklus padi, dari menanam hingga panen, penuh dengan makna rasa syukur. Petani selalu berdoa untuk hasil panen yang baik dan menghargai setiap bulir padi yang dihasilkan. Dalam tradisi Jawa, ada ungkapan “urip iku urup,” yang berarti hidup adalah tentang cara kita memberikan manfaat bagi orang lain, sama seperti padi yang terus memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

  

Rasa syukur dalam tradisi bertani padi ini menjadi pengingat bagi kita untuk menghargai hal-hal kecil dalam hidup dan tidak terlalu terfokus pada apa yang kita belum miliki. Bersyukur membuat kita lebih mudah merasa cukup, lebih menghargai proses, dan lebih menikmati setiap tahapan kehidupan.

  

Menanamkan Filosofi Padi dalam Kehidupan Sehari-hari

  

Ada banyak cara untuk menanamkan filosofi padi dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, maupun pekerjaan. Berikut merupakan beberapa hal yang dapat kita pelajari dan terapkan dari filosofi padi:

1. Rendah hati: ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang sangat berharga. Ketika kita semakin banyak tahu, maka semakin banyak pula hal yang kita sadari belum kita ketahui. Oleh karena itu, rendah hati adalah sikap yang bijaksana.

2. Kerja keras dan ketekunan: tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan. Proses yang penuh tantangan justru akan menguatkan dan mengasah kemampuan kita.

3. Kebersamaan dan gotong royong: kebersamaan dan saling bantu-membantu merupakan nilai luhur yang harus kita jaga dalam masyarakat. Dengan bersama-sama dan bekerjasama, segala pekerjaan menjadi lebih ringan.

4. Kesederhanaan: menjalani hidup dengan sederhana dan cukup adalah salah satu cara terbaik untuk meraih kebahagiaan yang sejati.

5. Rasa syukur: menghargai setiap pencapaian kecil dan selalu bersyukur akan membuat kita merasa lebih bahagia dalam menjalani hidup.

  

Renungan Hidup sebelum Mati

  

Wasiat tradisi di atas bagi kita semua dapat menjadi pesan yang sangat dalam dan penuh makna selama hidup sebelum mati sewaktu-waktu. Padi bukan hanya tanaman pangan, tetapi juga sumber inspirasi dalam menjalani kehidupan yang bermakna. Dengan mengambil pelajaran dari filosofi padi, kita dapat menjadi pribadi yang lebih rendah hati, penuh syukur, dan bijaksana dalam bertindak. 

  

Di tengah kemajuan zaman, filosofi padi tetap relevan sebagai pengingat untuk menjalani hidup dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur kita. Mari kita jadikan filosofi padi ini sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari, agar kita dapat hidup lebih damai, bijaksana, dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitar sebelum kita dijemput oleh malaikat maut. Hadis Nabi SAW mengingatkan kepada kita bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lainnya dan plaing bagus akhlaknya. 

  

(H.R. al-Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Awsath, juz VII, hlm. 58 dan H.R. Bukhari-Muslim).

  

Wa Allah a’lam.