Fesyen dan Musik, Sebuah Inovasi Kampanye Lingkungan
InformasiOleh : Eva Putriya Hasanah
Tanganangie, begitulah sebutan brand fesyen yang di garap oleh PT. Tangan Kreatif Lestari. Perusahaan asal Banyuwangi yang di buat oleh gadis muda bernama Putri///nn Angie. Di tengah maraknya fast fashion yang memicu rusaknya lingkungan, brand ini tampil beda dengan fesyen yang diorientasikan menjadi media kampanye menjaga lingkungan.
Berdiri sejak tahun 2020, musikalisasi kaos bumi menjadi produk pertama yang diperkenalkan pada masyarakat. Konsep yang di usung dida//nlamnya tergolong unik dan menarik. Selain terbuat dari bahan ramah lingkungan, 70% serat tumbuhan dan 30% katun, kaos ini juga dipadukan dengan cetakan Barcode sebagai motifnya. Barcode tersebut dapat di scan menggunakan aplikasi spotify, lalu muncul musik yang bisa didengarkan oleh konsumen//n. Dengan tema bercerita tentang lingkungan, musik yang terdapat pada kaos tersebut di buat oleh musisi lokal dengan beragam judul, diantaranya Bumi Hancur Kau Juga, Baduy, Rumah dan Lazuardi.
Saat dihubungi melalui Instagram, Putri Angie memaparkan bahwa target pasar dari produknya adalah gen Z, melihat bahwa generasi ini memiliki kepedulian yang lebih besar terhadap lingkungan. Namun, menurutnya memasarkan produk ramah lingkungan juga tidak terlepas dari tantangan yang harus dihadapi. Seban//b, meski gen Z tergolong memiliki kepedulian lingkungan namun pengeluaran mereka tidak besar maka perlu menciptakan kaos yang juga ramah di kantong sehingga bisa di jangkau oleh pasar.
“Tantangannya go to marketnya sih, gen z indo memang mulai peduli lingkungan, tapi rata-rata pengeluaran mereka nggak besar. Sedangkan rata-rata produk ramah lingkungan bernilai 1juta an... jadinya Tangan Angie gima//na caranya bikin produk bisa di bawah 1 juta, biar bisa dibeli gen z Indonesia gitu kak.” Paparnya.
Disamping itu, edukasi menjadi bagian tak kalah penting dalam memasarkan produk ramah lingkungan. Hal ini masih tidak terlepas dari harga produk ya//ng pada umumnya tergolong mahal sehingga memungkinkan pasar menjadi lebih sulit di jangkau. Ini disebabkan oleh standar ramah lingkungan yang harus /dipenuhi. Dari pemilihan bahan baku hingga proses produksi, pengolahan limbah, pengemasan, dan terakhir sampai di tangan pelanggan. Produksi ramah lingkungan memerlukan biaya yang lebih tinggi daripada produksi konvensional, menurut The Conversation. Produk ini membutuhkan pengolahan limbah, bahan baku yang lebih jarang digunakan daripada bahan kimia, dan proses yang biasanya lebih lama. Ditambah lagi jika produk memiliki kampa/nye yang ramah lingkungan, seperti menanam pohon, daur ulang limbah, dan lain-lain.
“Tantangan kedua, edukasi ke market, kalau membuat baju semakin murah itu ada banyak hal hal yang biasanya tuh dikorbankan. Supaya temen-teman gen z mulai sadar //kalau beli baju 150rb-600rb ramah lingkungan itu enggak mahal, tapi itu no/rmal. Malah murah...” kata gadis asal Banyuwangi tersebut.
Fesyen Berkelanjutan (Sustainable Fashion)
Produk fesyen ramah lingkungan semacam ini disebut sebagai fesyen berkelanjutan (sustainable fashion). Istilah ini mencakup konsep fesyen secara keseluruhan dan tidak hanya mengacu pada kain atau bahan tekstil yang digunakan; itu juga mencakup beberapa hal seperti bahan baku, proses, tanggung jawab sosial, ekonomi, dan bagaimana limbah dibuat sehingga tidak mencemari lingkungan dan mengganggu kehidupan manusia. Jadi, dari sini dapat dikatakan bahwa konsep fesyen berkelanjutan adalah tentang lingkungan dan kemanusiaan. Bagaimana para pelaku fesyen peduli dengan lingkungan adalah contoh pertama dari konsep berkelanjutan lingkungan. Perancang busana, produsen, distributor, dan akhirnya pembeli adalah semua pelaku fesyen tersebut. Pemanfaatan sampah dengan cara yang lebih ramah lingkungan adalah cara terbaik untuk menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Misalnya, memperlambat model fesyen dengan menggunakan benang bekas untuk hiasan, atau pakaian dari limbah kain perca, bahan-bahan alami dan sebagainya. Namun, elemen ramah lingkungan ini tidak hanya terbatas pada pemilihan bahan baku; metode yang digunakan juga harus mempertimbangkan lingkungan.
Di samping aspek lingkungan, kemanusiaan adalah komponen penting dari gagasan besar fesyen yang berkelanjutan. Industri fesyen atau pembuatan fesyen harus mempertimbangkan aspek sosial seperti membuka lapangan pekerjaan, memberdayakan pekerja, memberikan upah yang adil dan kondisi kerja yang baik. Dengan mengadopsi gagasan fashion berkelanjutan, para produsen pakaian diharapkan mau bekerja sama untuk membuat produk yang lebih ramah lingkungan dan memberdayakan industri.
Tanganangie, brand yang telah mendapatkan penghargaan dari Apresiasi Kreasi Muda dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) ini telah berusaha untuk memenuhi standar fesyen berkelanjutan. Upaya ini bisa di lihat dari bahan produk yang digunakan, mulai dari bahan dasar hingga proses pewarnaan yang menggunakan metode pewarnaan alami yakni dari limbah sabut kelapa, daun ketapang, nila dan lain-lain. Disamping itu, sisi tanggungjawab sosialnya juga tercermin dari upaya membangun komunitas dampak sosial dengan nama “Tangan Manusiap” yang memberikan dukungan kepada para artis lokal di daerah Banyuwangi untuk bersama mempromosikan gaya hidup berkelanjutan melalui musik yang telah di buat.
“Tujuan yang paling ingin dicapai bantu gen z dapat diaktifkan, berdaya, dan berkarya dengan waras ga adalah karena kondisi bumi.….Mengapa penting? Supaya berlanjut, tantangan lingkungan makin komple/ks. perubahan iklim, masalah lingkungan sangat mendesak. Krisis iklim akan menghancurkan rumah tangga dan rutinitas sehari-hari gara2 kecemasan lingkungan. Dan... pada mulamula menjaga bumi itu mandat yg diterima manusia buat hidup manusia sendiri. Krn klo bumi /, kita juga” tegasnya.
Keseriusan dalam membuat brand ini bukanlah tanpa tujuan. himbauan ada tekat yang kuat untuk mewujudkan manusia khususnya gen Z untuk tetap berkarya, berdaya da//n bergaya tanpa merasa khawatir atas kerusakan bumi.

