Membuat Tuhan Tersenyum
Riset BudayaArtikel berjudul “Membuat Tuhan Tersenyum: Karnaval Brigade Lucu Nahdlatul Ulama” merupakan karya Alexius Andang Listya Binawan. Tulisan tersebut terbit di Jurnal Islam Indonesia tahun 2024. Penelitian tersebut mencoba menganalisis bagaimana komunitas virtual Nahdlatul Ulama (NU) Garis Lucu yang menciptakan budaya keagamaan baru di Indonesia melalui unggahan Instagram mereka. Ada empat elemen penting dalam unggahan Instagram mereka, yaitu konten, humor sebagai sarana komunikasi, interaksi, dan media digital sebagai ruang publik baru. Konten yang dijelaskan hanya beberapa contoh yang terkait dengan tiga topik, yaitu ajaran agama, praktik keagamaan, dan konversi agama. Analisis tersebut bersifat kualitatif, dari sudut pandang filosofis kontekstual, khususnya melalui lensa konsep karnaval Mikhail Bakhtin. Konsep semacam itu menyoroti pentingnya humor dalam unggahan Instagram NU Garis Lucu. Humor mendatangkan kepercayaan, kesetaraan, dan juga ketidaksesuaian. Interaksi memungkinkan dialogisme, dan ruang digital memberikan kebebasan yang cukup. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, agama dan humor. Ketiga, semangat dan latar belakang NU Garis Lucu. Keempat, karnaval Nahdlatul Ulama Garis Lucu.
Pendahuluan
Akun @nugarislucu di dunia maya, Instagram dan Twitter, telah menjadi fenomena sosial keagamaan dan budaya yang menarik, khususnya di kalangan anak muda. Mereka fenomenal bukan hanya karena memiliki banyak pengikut, tetapi juga karena gayanya yang diikuti oleh anak muda dari agama lain. Sesuai dengannya, di dunia maya mereka menampilkan gaya yang santai dan jenaka dalam menyikapi fenomena sosial keagamaan di Indonesia. Gaya semacam itu menghadirkan nuansa atau wajah Islam yang berbeda. Orang bisa mengatakan bahwa Islam juga menghadirkan Tuhan yang tersenyum, bukan Tuhan yang kaku, yang secara tidak langsung dialami oleh orang-orang yang mengalami kekerasan dengan dalih agama. Jadi, NUFB dapat memberi warna baru bagi kehidupan beragama di Indonesia.
Agama dan Humor
Berdasarkan refleksi para filsuf, manusia adalah makhluk beragama (homo religious) sekaligus makhluk tertawa (homo ridens). Kedua sifat ini menjadikan religiusitas dan kecenderungan atau keinginan untuk tertawa sebenarnya tidak dapat dipisahkan. Baik agama maupun humor adalah konstruksi sosial yang berkembang dalam masyarakat. Atas dasar itu, pembahasan mengenai relasi agama dan humor berada pada ranah budaya. Sejak saat itu, keduanya bersifat relatif. Keduanya tidak dapat didefinisikan dengan mudah. Citra dan konsep ketuhanan dalam agama berbeda-beda, dan ini juga akan menentukan hubungannya dengan humor. Sementara itu, humor tidak hanya bersifat relatif, tetapi juga memiliki banyak jenis.
Hubungan antara keduanya sebagian besar bersifat ekstrinsik. Ini adalah hubungan di mana yang satu \'memanfaatkan\' yang lain. Di satu sisi, humor menggunakan ajaran agama sebagai materinya. Hubungan ini terjadi dalam masyarakat, termasuk di antara para pengikut agama tertentu, tetapi biasanya tidak terjadi di antara para pemimpinnya, meskipun sebagian besar bersifat tidak resmi. Di sisi lain, agama menggunakan humor sebagai sarana untuk mengomunikasikan ajarannya. Mereka menggunakan humor untuk membuat khotbah mereka lebih menarik. Namun, hubungan ini bersifat ekstrinsik karena bersifat fungsional, bukan esensial.
Hubungan hakiki antara agama dan humor terjadi jika hubungan tersebut sudah terjalin sejak awal, seperti fakta bahwa kitab suci atau ajaran resmi agama yang bersangkutan menganggap humor sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran tersebut. Pada tataran lain, humor merupakan bagian dari ajaran agama resmi yang disampaikan oleh para pemimpin agama dan dalam forum-forum formal, meskipun mungkin tidak secara eksplisit dinyatakan dalam teks kitab suci. Pada tataran ini, humor menjadi bagian dari dimensi interpretatif.
Semangat dan Latar Belakang Nahdlatul Ulama Garis Lucu
Baca Juga : Orasi Ilmiah Kepemimpinan Islam: Ilfi Nur Diana Peroleh Jabatan Profesor
NU Garis Lucu lahir dari kalangan pemuda Nahdlatul Ulama (NU). Nahdlatul Ulama adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia yang pada awalnya beraliran tradisionalis, namun dalam beberapa tahun terakhir mencoba menjadi lebih progresif, termasuk dalam hal doktrin, politik, ekonomi, dan isu sosial. NU Garis Lucu tidak lahir sebagai respons langsung terhadap situasi di Indonesia, melainkan kelompok tidak resmi yang dibentuk sebagai respons terhadap pembentukan NU Garis Lurus pada tahun 2015.
NU Garis Lurus mengklaim sebagai kelompok yang sah. Kelompok ini menganggap pihak lain telah menyimpang dari inti ajaran NU. NU Garis Lurus berupaya untuk memutlakkan penafsiran mereka terhadap semangat NU sehingga mereka melihat pihak lain sebagai \'bengkok\', sebagaimana tercermin dalam tagline media sosial mereka. Meluruskan pikiran yang bengkok. Daripada melawan secara langsung, sekelompok pemuda NU membentuk NU Garis Lucu pada tahun 2015.
Per 31 Agustus 2023, akun Instagram NU Garis Lucu memiliki lebih dari 909.000 pengikut dan Twitter memiliki lebih dari 956.700 pengikut. Postingan mereka tidak hanya lucu, tetapi juga inspiratif. Hal ini sesuai dengan motto mereka: \"Katakanlah kebenaran, meskipun itu lucu.\" Frasa ini merupakan adaptasi cerdas dari sabda Nabi Muhammad SAW: \"Katakanlah kebenaran, meskipun itu pahit.\" Berdasarkan slogan tersebut, kata \"meskipun\" ada dan selaras dengan kata \"meskipun\" dalam sabda Nabi, yang tidak terlalu penting artinya. Namun, perlu diperhatikan terlebih dahulu kebenarannya dan kedua humor sebagai cara berekspresi.
Respon positif terhadap NU Garis Lucu membuat beberapa kalangan muda lainnya ikut membuat akun media sosial dengan label “Garis Lucu.” Misalnya, dari kalangan Islam ada Muhammadiyah Garis Lucu di akun Instagram dengan 48.400 pengikut. Meski baru dibuat tahun 2018, postingannya sudah mencapai 254. Ada pula beberapa Garis Lucu akun-akun dari kalangan Islam, seperti Islam Garis Lucu, Cadar Garis Lucu, Sufi Garis Lucu, bahkan Wahhabi Lucu, meski selama ini pengikutnya relatif sedikit. Bahkan, anak muda dari agama lain juga membuat akun serupa, seperti Katolik Garis Lucu, Protestan Garis Lucu, HKBP Garis Lucu, GBI Garis Lucu, dan sebagainya. Pada pekmbangannya menunjukkan bahwa cara humor untuk menyikapi suatu masalah dengan cara yang ringan semakin diterima sebagai cara komunikasi yang efektif.
Karnaval Nahdlatul Ulama Garis Lucu
Sangat sulit menerjemahkan humor karena bahasanya ada secara semantik dan terikat pada batasan yang sempit pada konteks sosial budaya, baik dalam ruang maupun waktu. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa kontribusi NU Garis Lucu menegaskan sikap santai dalam menghadapi ajaran agama yang sensitif, yang terlihat dalam tiga hal. Pertama, ada pergeseran dari fokus pada perbedaan doktrin atau praktik keagamaan ke hal-hal yang lebih sekunder tetapi sifatnya mengejutkan. Hal-hal ini kemudian dikomentari. Kedua, isi komentar sering kali di luar kotak dan mengundang senyum. Ketiga, bahasa informal yang mereka gunakan, termasuk sapaan informal, membangun kepercayaan sehingga lelucon dapat diterima dan ditanggapi dengan santai.
Tentu saja, humor memegang peranan penting dalam membangun pemahaman dan kepercayaan dalam pertemuan virtual ini, tetapi itu hanyalah salah satu alat. Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah 1) isi postingan itu sendiri (dalam teks yang diunggah), 2) interaksi yang terjadi, dan kursus 3) konteks ruang digital yang memungkinkan interaksi ini terjadi dengan cara baru.
Baca Juga : Di Tengah Arus Berita Buruk, Kisah Neldi dan Sejin Mengingatkan Bahwa Dunia Masih Layak Dihuni
Fakta mendasar dalam hal ini adalah kemungkinan terjadinya pertemuan di dunia virtual atau digital. Pertemuan semacam itu tidak hanya terkait secara kuantitatif dengan jumlah orang yang terlibat, tetapi juga secara kualitatif dengan produksi teks. Dunia digital telah menjadi ruang publik atau ruang transisional baru yang menyediakan ruang untuk ekspresi dan kebebasan sehingga para peserta dapat dengan bebas mengekspresikan pendapat mereka. Berdasarkan konsep karnaval Mikhail Bakhtin, para pengguna dapat menjadi diri mereka sendiri di balik topeng, dan interaksi yang terjadi adalah interaksi kesetaraan yang tidak mengenal hierarki dan dalam arti tertentu mengejek hierarki.
Teori ini tampaknya benar dalam interaksi antar-pengikut NU Garis Lucu dan juga antar pengikut komunitas Garis Lucu. Komentar-komentar yang diunggah tampak spontan dan apa adanya karena berada di balik nama akun masing-masing, yang tidak dapat secara langsung mengungkap identitas orang yang berkomentar. Mereka juga bebas mengekspresikan diri, karena tidak ada hierarki dalam interaksi tersebut. Admin juga merupakan peserta dialog, meskipun ia memiliki kewenangan untuk menghapus posting yang berlebihan. Kemudian, dari kontennya, terlihat jelas bagaimana mereka menawarkan interpretasi yang berbeda dari interpretasi resmi ajaran agama mereka, yang dianggap kaku. Jadi, dalam hal ini, mereka melawan penganut agama yang terlalu serius dan tekstual.
Faktor pemersatu yang penting lainnya adalah humor dalam posting dan komentar. Bakhtin merefleksikan bahwa humor merupakan elemen penting dalam karnaval. Pada konteks karnaval, ia melihat humor sebagai sesuatu yang membebaskan manusia, baik membebaskan manusia dari rasa takut akan hegemoni atau tekanan dari kekuatan luar, maupun humor sebagai sesuatu yang merelatifkan perbedaan antara mereka yang berkuasa dan mereka yang dikendalikan, bahkan perbedaan antara aktor dan penonton.
Meskipun humor dianggap sebagai alat, para pengelola akun Instagram Garis Lucu berusaha membuat unggahan mereka menjadi lucu. Humor ini telah menjadi semacam ideologi yang menyatukan dan mengundang rasa percaya, kesetaraan, dan persaudaraan. Humor membuat orang merasa tidak terlalu sakit hati ketika ajaran atau praktik agama mereka disinggung. Lebih dari itu, humor menawarkan hal baru, bahkan gambaran baru tentang Tuhan.
Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah isi teks di balik humor tersebut. Mengingat nama NU Garis Lucu dan akun-akun Garis Lucu sangat erat kaitannya dengan lembaga keagamaan, maka isi teks dalam postingan mereka secara langsung maupun tidak langsung mengandung nilai-nilai keagamaan. Interaksi tekstual yang terjadi dalam ruang digital ini disebut intertekstualitas digital, yang kompleks dan mengarah pada makna baru. Dialog dalam intertekstualitas digital yang dibalut humor menawarkan perspektif baru tentang cara menangani suatu masalah, terutama yang sensitif. Melalui humor, ada proses yang saling memperkaya dan menyempurnakan yaitu tidak menyakitkan dan tidak menjadi kontraproduktif. Sudut pandang baru dan out-of-the-box ini pada dasarnya, menggunakan istilah Derrida, merupakan dekonstruksi dari sudut pandang lama atau standar. Berdasarkan perspektif dialogis, dekonstruksi berlangsung dalam proses berkelanjutan dengan sudut pandang yang diterima secara umum dan perspektif masing-masing individu yang didekonstruksi.
Berdasarkan hal tersebut, unggahan NU Garis Lucu B dapat dilihat sebagai teks teologi populis, yang diumumkan oleh komunikasi dialogis di antara umat beriman, alih-alih komunikasi monologis dari otoritas keagamaan. Perspektif ini juga menyiratkan dimensi dekonstruksi teologis tidak langsung dalam unggahan tersebut, baik karena kontennya maupun penggunaan humor, yang membuka ranah teologi baru dalam agama. Pada pendekatan baru, humor dapat diartikan sebagai “sinyal transendensi” menurut Berger. Humor dalam teologi memainkan tiga peran penting: menciptakan keseimbangan, memberikan perspektif, dan merangsang kreativitas.
Kesimpulan
Berdasarkan kajian tersebut, tampak bahwa terdapat korelasi kuat antara teks digital, humor, dan dekonstruksi teologis yang terjadi di kalangan pengikut NU Garis Lucu, meskipun dalam kapasitas formal. Humor memegang peranan penting dalam konteks ini, meskipun relevansinya dalam ranah kehidupan beragama dan teologi baru yang diakui akhir-akhir ini. Secara historis, di banyak daerah humor dianggap tabu, tetapi tidak berlaku di Indonesia. Dialog Bakhtinian terjadi, yang memungkinkan dekonstruksi perspektif keagamaan tertentu. Teks-teks yang disajikan di ruang digital NU Garis Lucu mengedepankan nilai-nilai toleransi, kesetaraan, persaudaraan, kerendahan hati, dan optimisme. Nilai-nilai ini secara signifikan berbeda dari nilai-nilai yang berkembang secara politik di Indonesia, yang meliputi intoleransi, perbedaan, konflik, kesombongan, dan pesimisme. NU Garis Lucu bersama dengan komunitas-komunitas virtual lain dalam Garis Lucu telah secara efektif menyajikan gambaran Tuhan yang menggembirakan di Indonesia melalui bahasa humor mereka dalam interaksi digital.

