(Sumber : Katadata )

Rayakan Idul Fitri dengan Cinta

Opini

Melaksanakan hari raya, baik idul fitri maupun idul adha secara bersamaan merupakan dambaan umat Islam, khususnya di Indonesia. Untuk tahun 1446 H atau tahun 2025, puasa dimulai dengan bersamaan antar berbagai elemen masyarakat dan juga diakhiri dengan kebersamaan. Muhammadiyah, NU, Pemerintah dan organisasi-organisasi Islam di Indonesia serentak melakukan hari raya secara bersamaan.

  

Masyarakat Indonesia sudah sangat memahami tentang dua hari raya di dalam agama Islam, khususnya di Indonesia,  yaitu hari raya idul fitri dan hari raya idul adha. Ada kalanya bersamaan waktunya dan ada kalanya berbeda. Kedewasaan paham dan ekspresi keberagamaan tersebut dapat diketahui, meskipun berbeda hari raya akan tetapi tidak mengusik persaudaraan di antara umat Islam Indonesia. Biasa saja.

  

Padahal perbedaan hari raya tentu berimplikasi secara fiqiyah. Artinya bahwa ada dimensi fiqih yang kemudian diabaikan, misalnya Muhammadiyah sudah menentukan terlebih dahulu mengenai jatuhnya hari raya, misalnya idul fitri, maka pemerintah dan NU baru pada hari berikutnya melakukan hari raya. Secara fiqih, datangnya bulan syawal adalah tanda berakhirnya puasa. Dan pada hari tersebut umat Islam seharusnya dilarang untuk berpuasa. Akan tetapi kala ada yang berbeda misalnya NU yang masih berpuasa, maka dianggaplah yang seperti ini bukan halangan untuk saling meyakini keyakinan masing-masing. 

  

Inilah masyarakat Indonesia yang memang memiliki varian paham dan ekspresi keagamaan. Meskipun berbeda akan tetapi tidak membawa dampak adanya disharmoni di dalam kehidupan social. Akur-akur saja. Nyaris tidak menjadi masalah serius. Bahkan yang kita lihat perbedaan tersebut justru menjadi bahan joke di antara dua entitas masyarakat yang berbeda. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat dengan tingkat paguyuban yang masih kental, sehingga perbedaan bukanlah halangan untuk saling bersatu.

  

Di Indonesia terdapat tradisi yang sangat baik. Tradisi untuk saling bersalaman dan memaafkan. Tradisi ini semula merupakan tradisi masyarakat pedesaan, yang memang terkenal dengan sikapnya yang suka bergotong royong, saling menolong dan yang paling mendasar adalah saling memaafkan. Tradisi ini sudah berurat akar pada masa yang sangat jauh, kira-kira semenjak datangnya Islam di Indonesia. Para  penyebar Islam generasi pertama menjadikan tradisi masyarakat di masa sebelumnya yang sudah mandarah daging untuk diadaptasinya. Makanya banyak tradisi yang secara kolaboratif didialogkan dan kemudian dijadikan sebagai tradisi baru yang bersemangat keagamaan. 

  

Islam merupakan agama rahmah. Agama yang mengajarkan kasih sayang di antara sesama umat Islam dan bahkan sesama manusia. Islam juga mengajarkan agar manusia melestarikan alam sebagai perwujudan kasih sayang. Kehadiran Nabi Muhammad SAW dengan ajaran Islamnya menandai suatu era di mana kasih sayang menjadi inti atau substansi agama. Islam tidak hanya mengajarkan formalisme agama, akan tetapi mengajarkan juga substansi agama. Substansi agama tersebut adalah rahmah, yang di dalam Bahasa Indonesia  disebut sebagai cinta dan kasih sayang.

  

Jadi cinta dan kasih sayang adalah substansi agama. Cinta adalah perasaan mendalam yang dimiliki oleh manusia yang bersumber dari jiwa dan roh yang merupakan pancaran Tuhan. Cinta hanya akan mewujud jika jiwa dan roh menyatu dalam pancaran Tuhan. Bukan kemenyatuan jasad dan jiwa yang cenderung menghasilkan syahwat, akan tetapi yang terjadi haruslah kemenyatuan antara jiwa dan roh. Misalnya Malaikat, maka yang menyatu adalah jiwa dan roh Tuhan. Malaikat memiliki jiwa dan roh tetapi tidak memiliki nafsu badaniyah. 

  

Ajaran agama sesungguhnya mengajarkan kelembutan hati dan jiwa. Agama itu berfungsi untuk mengasah perasaan dan hati agar tumbuh rasa dan hati yang lembut, pemaaf, dan penyayang, yang dikonsepsikan sebagai cinta. Secara kategorikal, cinta memiliki kategori cinta yang berbasis jiwa dan mengarah ke fisikal, dan ada cinta yang berbasis jiwa yang mengarah kepada roh Tuhan. 

  

Secara tipologis, cinta seperti itu didapatkan melalui representasi tokoh sufi, Rabiah Al Adawiyah, seorang sufi perempuan yang hidupnya sarat dengan cinta kepada Allah, dan hanya kepada Allah semata. Sepanjang hidupnya, Rabiah Al Adawiyah, hanya mencintai Allah sehingga tidak ada yang disebut dalam keluar masuknya nafas kecuali Allah SWT. Di dalam wiridnya, maka semuanya mengekspresikan akan kecintaannya hanya kepada Allah semata.

  

Kita, sebagai orang yang beragama dengan standart “awam”, tentu tidak dapat menggapai keberagamaan sebagaimana  para tokoh tasawuf tersebut. Namun demikian, tidak berarti bahwa kita tidak dapat mengekspresikan agama dengan cara-cara yang unik. Di antara yang unik adalah melakukan tradisi hari raya yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. 

  

Kecintaan anak pada orang tua,  orang tua kepada anak, cinta terhadap sesama saudara, kerabat, sahabat  dan bahkan masyarakat. Bisa dibayangkan orang bermudik ria untuk pulang kampung hanya untuk melampiaskan kerinduan kepada keluarga, kerabat, saduara dan sahabat-sahabatnya. Jalanan macet dan crowded karena keinginan untuk jumpa dan mengenang masa lalunya. Orang rela bermacet-macetan untuk mengikuti keinginan berjumpa dengan rumah lamanya. 

  

Basis social cinta seperti ini yang menjadi ciri khas Masyarakat Indonesia, yang menjadikan agama dan upacara-upacara keagamaan sebagai wahana untuk saling membangun kebersamaan, persamaan dan persaudaraan yang tulus dan Ikhlas. Hal seperti ini tidak dijumpai pada masyarakat yang menjadikan agama berada di dalam wilayah privat. Agama dalam ruang public, salah satunya diindikatori dengan kebersamaan dalam melaksanakan hari raya yang penuh dengan cinta dan kasih sayang.

  

Agama memang mengajarkan tentang cinta, tidak hanya cinta kepada Allah tetapi juga cinta kepada sesama manusia, bahkan juga cinta kepada alam semesta. Sebuah hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhori menyatakan: “man la yarham la yurham”, yang artinya “ Barang siapa yang tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi.” Sudahkah kita melakukan di hari ini. Pasti sudah melakukannya.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.