Pendidikan di Era Digital: Institut Agama Islam Uluwiyah Mojokerto
KhazanahSaya diundang oleh Ibu Rektor Institut Agama Islam (IAI) Uluwiyah Mojoketo, Dr. Hj. Nuning Khurrotul Aini, S.Pd.I, S.T, M.Si untuk memberikan Orasi Ilmiah pada Wisuda XXIII pada tahun 2024. IAI Uluwiyah hari ini, 16/11/2024 menyelenggarakan Wisuda Sarjana sebanyak 106 orang wisudawan dan wisudawati. Acara Wisuda Sarjana diselenggarakan di Padepokan Cahaya Putra (PCP) Trawas Mojokerto. Acara ini dihadiri oleh KH. DR. Zainul Ibad, selaku pimpinan Pondok Pesantren Uluwiyah Mojosari dan juga pendiri IAI Uluwiyah, Rektor Institut Agama Islam (IAI) Uluwiyah Mojoketo, Dr. Hj. Nuning Khurrotul Aini, S.Pd.I, S.T, M.Si jajaran rektorat, dekanat, para dosen, wisudawan dan wisudawati dan para orang tua. Saya menyampaikan orasi dengan tema “Pendidikan Berkualitas di Era Digital.”
Pendidikan berkualitas termasuk satu di antara yang dijadikan prioritas di dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Empat di antara hal mendasar yang menjadi prioritas tujuan pembangunan berkelanjutan adalah Indonesia tanpa kemiskinan atau no poverty, Indonesia tanpa kelaparan atau no hungry, Indonesia sehat atau Indonesia health dan education quality atau Pendidikan berkualitas.
Pendidikan berkualitas menjadi empat hal mendasar di dalam SDGs, sebab Pendidikan menjadi variabel penting di dalam usaha-usaha pembangunan. Tanpa Pendidikan yang berkualitas, maka tidak akan didapatkan atau dihasilkan kualitas manusia yang unggul di dalam merenda kehidupan. Oleh karena itu agar Indonesia memiliki manusia unggul atau memiliki kompetensi dan mampu berkompetisi, maka pendidikannya harus memenuhi standart kompetensi di era modern atau era digital.
Era digital ditandai dengan semakin meningkatnya penggunaan teknologi informasi sebagai pendukung kehidupan. Semakin banyak manusia yang menggunakan teknologi informasi baik berupa media social, artificial intelligent, big data maupun augmented reality. Media social berupa Whatsapp, Youtube, facebook, internet, dan sebagainya. Sedangkan artificial intelligent berupa robot-robot dengan multi fungsi. Ada robot untuk pelayanan, ada robot untuk perang, robot untuk bekerja yang membahayakan manusia dan sebagainya. Dengan big data maka semua data akan terakumulasi dan kemudian dapat dikategorikan dengan cepat dan tepat. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk memperoleh data apa yang kita butuhkan. Sedangkan augmented reality adalah program yang dapat menyatukan berbagai fenomena menjadi satu kesatuan dalam waktu yang bersamaan. Realitas berlipat yang dapat diintegrasikan seakan-akan kenyataan.
Pendidikan sekarang telah memasuki era ini. Misalnya dengan digunakannya berbagai aplikasi untuk program pembelajaran, misalnya Ruang Zoom, Google Class Room, aplikasi ChatGPT, Google Search, Google scholar dan sebagainya. Tidak pernah terbayangkan dunia pendidikan akan menggunakan media social untuk pembelajaran. Lima atau enam tahun yang lalu, tidak terbayangkan bahwa kita bisa memberikan pelayanan pendidikan berbasis pada online atau daring atau dalam jaringan. Sekarang semua sudah sangat akrab dengan media pembelajaran yang berupa system daring. Lalu system blended, yang mengakomodasi dalam pembelajaran campuran luring dan daring. Ada blessing in disguise yang berwujud wabah Covid-19, sehingga memaksa pendidikan harus menyesuaikan dengan realitas social yang sedang terjadi. Para guru dan pimpinan lembaga pendidikan di tingkat pedesaan pun sudah mengenal rapat online atau rapat daring atau mengajar dengan system online atau system daring. Kita sekarang sudah berada di era digital. Oleh karena itu banyak perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan dengan pola blended learning yang memang secara regulative diperbolehkan.
Secara spesifik saya sampaikan tiga hal, yaitu: pertama, ucapan selamat kepada Institusi Pendidikan IAI Uluwiyah yang turut serta di dalam kerangka pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas bergelar sarjana. Tentu tidak mudah untuk menghasilkan para sarjana di era seperti ini. Era di mana banyak orang berpikir permissive untuk menghasilkan gelar kesarjanaan, magister dan doctor. Ada sekelompok orang yang menghalalkan berbagai macam cara untuk meraih gelar akademik. Tetapi saya bersyukur bahwa para sarjana yang dihasilkan oleh IAI Uluwiyah tentu saja melalui proses yang sangat wajar. Pembelajaran dilakukan dengan benar, proses dan produknya terukur. Hasilnya adalah para sarjana yang memiliki kemampuan teoretik dan juga praktik keilmuan sesuai dengan program studinya.
Saya juga mengucapkan selamat bagi para wisudawan, orang tua/wali dan keluarganya yang sudah bersusah payah untuk menyelesaikan pendidikan. Tidak banyak orang yang dapat dan memiliki gelar sarjana. Jumlahnya di Indonesia hanya sebanyak 12,44 juta atau 4,47 % dan D3 sebanyak 3,56 juta atau 1,28 % dari 267 juta penduduk Indonesia. Jadi para sarjana bisa disebut sebagai orang yang well educated, orang yang terpelajar.
Kedua, Lembaga Pendidikan IAI Uluwiyah sudah berdiri semenjak lama. Ini sudah wisuda yang ke 23. Sudah selayaknya jika IAI Uluwiyah berpikir untuk menjadi Universitas. Jika menjadi universitas, maka akan dapat mengelola ilmu keislaman integrative. Universitas dapat mengembangkan pendidikan umum bernuansa keagamaan, selain bisa mengembangkan ilmu keislaman yang merupakan legacy dari para ulama kita di masa lalu. Kita harus bekerja sama untuk mewujudkan institusi pendidikan yang bisa mengembangkan ilmu pengetahuan secara kaffah atau institusi pendidikan yang mengelola pendidikan umum dan agama dan kemudian mengintegrasikannya dalam satu kesatuan ilmu keislaman integrative dimaksud.
Untuk mencapai hal ini, maka semua harus berharokah. Bergerak secara simultan, kebersamaan dan konsisten. Para dosen mengembangkan keilmuannya melalui karya yang outstanding, baik dalam artikel di jurnal, buku dan juga artikel popular yang bisa diterbitkan oleh media surat kabar, media on line bahkan web kampus yang dimiliki oleh institusi pendidikan. Kita harus memperbaiki kualitas akreditasi prodi maupun institusi, kita harus memiliki jurnal yang berkualitas, kita harus memiliki dosen yang baik, kita harus memiliki manegeman yang tertata secara memadai. Kita harus memenuhi delapan standart pendidikan plus penelitian dan pengabdian masyarakat.
Para mahasiswa juga harus terlibat di dalam upaya membesarkan institusi, misalnya dengan karya akademis dan pengabdian masyarakat. Lakukan upaya untuk menulis di web kampus atau lakukan pengabdian berbasis lokalitas. Lakukan inovasi di dalam pengabdian masyarakat sehingga aksesabilitas institusi akan menjadi sangat baik.
Semua personal di dalam IAI Uluwiyah adalah humas-humasnya lembaga pendidikan ini. Makanya, semua harus berupaya untuk menyebarkan informasi tentang IAI Uluwiyah di tengah-tengah masyarakat. Semua menggunakan atribut IAI Uluwiyah dalam urusan kependidikan dan pembinaan masyarakat. Jika dosen khutbah atau ceramah atau menulis agar disebutkan statusnya sebagai dosen IAI Uluwiyah.
Pimpinan juga memberikan peluang yang besar agar semua berproses untuk mengembangkan diri untuk kepentingan IAI Uluwiyah. Berikan para dosen dan mahasiswa untuk menghasilkan inovasi-inovasi baik di dalam proses pembelajaran ataupun untuk masyarakat. Berikan reward bagi dosen dan mahasiswa yang beraktivitas dalam bidang pendidikan/pengajaran, riset dan pengabdian masyarakat yang unik dan menarik atau yang outstanding. Semua itu dilakukan untuk menghasilkan imej bahwa institusi pendidikan ini berkualitas.
Ketiga, kita sedang berada di era digital maka pendidikan juga harus memasuki dan beradaptasi dengan era ini. Jangan terjebak dengan pendidikan konvensional, yang tidak melakukan perubahan. Di antara perubahan tersebut adalah program pendidikan berbasis IT, misalnya dengan program blended learning. Lakukan perubahan tersebut dengan tetap berpegang pada regulasi yang telah ditetapkan. Melalui program ini maka didapatkan ragam mahasiswa yang tidak hanya berbasis local tetapi regional. Bahkan dengan program ini juga akan dapat mengakses dosen-dosen yang berkualitas di dalam program pembelajaran. Gunakan system team teaching untuk kepentingan tersebut.
Ke depan pasti akan dihasilkan image masyarakat untuk bisa mengakses program pembelajaran yang dilakukan dengan berbasis pada teknologi informasi. Bukan program distance learning, akan tetapi program pembelajaran berbasis teknologi informasi. Di era digital ada banyak pilihan dan pasti kita akan dapat memilih yang tepat bagi lembaga pendidikan ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

