Quarter Life Crisis, Muara Problema Menginjak Dewasa
HorizonOleh: Moh. Lukman Hakim (02040720019)
Pascasarjana KPI UIN Sunan Ampel Surabaya
Fitrah seorang manusia adalah tumbuh dan berkembang, emerging adulthood adalah satu periode atau tahapan dalam pertumbuhan manusia yang biasa disebut sebagai masa transisi dari remaja akhir menuju dewasa awal. Di tahun 1950-an, seseorang yang sudah berusia 20 tahun biasanya sudah mandiri finansial, menikah, hingga memiliki anak. Namun di tahun 20-an dan selanjutnya terdapat penundaan usia pernikahan dikarenakan bertambahnya usia pendidikan. Menurut para ahli, dalam masa inilah seseorang tumbuh dari remaja menjadi dewasa. Fase ini akan tiba saat seseorang sudah memasuki usia 18-29 tahun. Dewasa merupakan tahap yang berpotensi menjadi perkembangan yang paling signifikan setelah remaja dalam hal kesehatan, kebugaran fisik dan kehidupan sosial. Dalam pemahaman ilmu psikologi, tahap bertumbuh menjadi dewasa terdiri dari tiga tingkatan yakni dewasa awal, dewasa menengah dan dewasa akhir. Fase dewasa awal adalah peluang pembuka yang besar dalam proses eksplorasi dan pengenalan diri, namun di sisi lain juga menjadi fase awal dalam mengenal berbagai macam tantangan besar. Seseorang yang berada di tahap ini akan dianggap mulai mampu mengatur kehidupannya dengan mandiri, sebab di masa awal dewasa ini seseorang mulai menyesuaikan dengan peran dan pola barunya dalam kehidupan pekerjaan, sekolah tingkat tinggi, pernikahan dan sebagainya.
Dalam lingkungan masyarakat, seseorang yang sudah memasuki fase dewasa biasanya akan mulai mendapat pertanyaan-pertanyaan tentang masalah sosial, status dan kesehariannya seperti kapan wisuda, kapan menikah, kapan mendapat pekerjaan atau penghasilan sendiri dan lain sejenisnya. Pertanyaan pertama dalam kasus di atas biasanya muncul saat seorang dewasa tersebut dalam masa perkuliahan, hal ini menjadikan mereka harus siap untuk menghadapi salah satu tantangan sosial ini agar mereka dapat dianggap sebagai seseorang yang dewasa. Namun dalam kenyataannya, tidak sedikit justru dari kasus di atas menjadi awal mula timbulnya masalah psikologis dalam diri seorang dewasa yakni Quarter Life Crisis.
Quarter Life Crisis atau yang biasa disebut dengan krisis seperempat abad, istilah ini ada untuk menggambarkan tahap perkembangan sosioemosional seseorang saat memasuki fase dewasa awal. Seseorang yang berada dalam fase ini biasanya sudah mulai menghadapi berbagai kehidupan sosial baru seperti pekerjaan, pendidikan tingkat tinggi, pernikahan dan perkembangan pola pikir dan lingkungan yang baru. Fase ini menjadikan seseorang berada dalam puncak transisi pendewasaan diri. Dalam hal ini, mereka akan mulai lebih banyak berfikir dan mempertanyakan tentang kehidupannya, mulai bingung dan ragu akan pilihan yang dijalani, mulai flashback masa lalu tentang pencapaian dan apa saja yang sudah dilakukan selama ini serta mempertanyakan bagaimana masa depan kehidupan berikutnya.
Istilah Quarter Life Crisis (QLC) ini pertama kali dikemukakan oleh Robbins dan Wilner sebagai ahli psikhologi pada tahun 2001. Penemuan ini mereka dasarkan pada pemuda di Amerika saat itu. Istilah yang dulu mereka berikan adalah “twentysomethings” yaitu seseorang yang baru saja meninggalkan masa kenyamanan hidup sebagai pelajar dan mulai memasuki dunia sesungguhnya dengan berbagai tuntutan di dalamnya. Perasaan dan emosional yang bermuara pada QLC ini terjadi saat transisi fase remaja akhir menuju dewasa awal. Ada banyak mitos dan fakta yang umum diketahui tentang QLC ini, seperti perasaan cemas dalam pilihan hidup, seorang perempuan tidak perlu sekolah terlalu tinggi, pertemanan adalah kualitas bukan kuantitas, merasa kehilangan motivasi hidup, kepercayaan diri dan makna hidup hingga menarik diri dari pergaulan. Umumnya, perasaan-perasaan tersebut akan diwakili dengan kegalauan akan hidup yang terasa monoton dan kekhwatiran tentang masa depan serta berbagai penyesalan yang timbul setelah berbagai keputusan dimasa lalu.
Menurut Robbins dan Wilner terdapat tanda dan karakter umum untuk mengidentifikasi seseorang mengalami QLC di antaranya adalah: (1) merasa tidak mengerti tujuan dan keinginan hidup, (2) pencapaian saat berusia 20-an tidak sesuai ekspektasi, (3) takut gagal, (4) tidak rela masa kecil dan remaja berakhir, (5) khawatir tidak mampu memutuskan pilihan yang tepat dan (6) sering membandingkan kehidupan sendiri dengan orang lain yang kemudian melahirkan rasa tidak mampu dan tidak berguna. Disisi lain, QLC pada diri seseorang juga dapat dilihat dari kategori QLC itu sendiri yaitu the locked-out form, saat seseorang merasa tidak mampu mengambil peran sebagai orang dewasa dan the locked-in form, ketika seseorang merasa terjebak dalam perannya sebagai orang dewasa. Meski tidak global, tapi dua kategori ini cukup representatif dalam memberikan gambaran seseorang yang ‘terjangkit’ QLC.
Salah satu aspek utama yang menyebabkan kegalauan akibat QLC ini adalah bertambahnya usia dan pilihan dalam kehidupan, sehingga menjadikan perasaan kompleks dan seolah dilema dalam berbagai hal. Di antara banyak hal yang memicu kegalauan tersebut, secara umum dapat dikategorikan dalam lima hal diantaranya (1) bimbang akan berbagai pilihan hidup, dalam fase ini seseorang akan banyak menemukan persimpangan dalam mengambil keputusan sehingga menimbulkan perasaan insecure, anxious sampai overthinking, (2) bingung dalam menentukan makna hidup, pada fase ini umumnya seseorang akan mengalami dilema antara mengikuti keinginan hidup penuh makna sebagai harapan atau tuntuan finansial yang lebih realistis, (3) ekspektasi orang lain, fase ini menjadikan seseorang bimbang untuk memilih mengikuti ekspektasi orang lain sebagai tuntutan sosial atau keukeuh dengan keputusan hidup secara pribadi, (4) circle pertemanan yang semakin mengecil, dalam fase ini mulai timbul rasa bingung karena banyaknya teman yang menjadi rekan saat masa sekolah perlahan mulai menghilang satu persatu karena kesibukan masing-masing dan (5) bingung seputar percintaan, beranjaknya usia menjadi dewasa menjadikan perasaan ingin memiliki hubungan percintaan yang lebih serius, terutama setelah melihat teman lainnya yang satu persatu memasuki jenjang pernikahan.
Dari berbagai masalah yang timbul saat masa-masa QLC, tentu melahirkan berbagai pertanyaan seperti “bagaimana menghadapi dan mengatasi masa QLC ini” agar perlahan dapat tumbuh menjadi individu dewasa yang lebih matang. Secara harfiah QLC dapat menjadi pedang bermata dua dalam fase perkembangan seseorang, menjadi batu loncatan untuk proses aktualisasi diri jika dapat dihadapi namun disisi lain menjadi depresi jika tidak segera disadari dan ditangani. Oleh karena itu, penting untuk benar-benar memahami QLC dan cara menghadapinya yaitu (1) mengenal diri lebih dalam, mencari jawaban dari berbagai pertanyaan tentang pengenalan diri seperti kekurangan dan kelebihan, pencapaian yang diinginkan, dan kesesuaian langkah dengan keinginan tersebut. Penting juga untuk berdiskusi dengan orang terdekat, sehingga melahirkan keyakinan dalam menentukan arah dan tujuan. Muara dari tahap ini adalah mencintai diri sendiri atau self-love, (2) tidak mudah membandingkan diri dengan orang lain, tahap ini menuntut untuk menghilangkan distraksi tentang pencapaian orang lain yang sudah didapat lebih dulu dan berfokus pada menikmati proses mencapai keinginan dan tujuan diri sendiri, salah satu langkah untuk tahap ini dapat dilakukan dengan mengurangi intensitas bermedia sosial, sebab salah satu efek negatif dari kemudahan media sosial adalah melahirkan polarisasi dan efek saling membandingkan antar individidu, (3) mengubah keraguan menjadi tindakan, menjadikan kebingungan sebagai kesempatan untuk mengenal tujuan hidup lebih dalam dan mengekspresikannya dalam bentuk tindakan seperti bersosialiasasi, menambah wawasan dari berbagai platform, relaksasi dan menambah keterampilan dan (4) menemukan partner yang dapat mendukung, memiliki orang-orang yang dapat selalu memberikan support dalam menggapai tujuan dapat menjadi salah satu solusi paling efektif dalam menghadapi QLC, mendapatkan partner seperti berikut dapat dicari dari orang yang memiliki visi, tujuan dan minat yang sama, atau orang yang dapat selalu memberikan inspirasi sehingga dapat menjaga kondisi sosioemosial tetap stabil.
Wallahu a’lam bi al shawab.

