Sistemik Vs Parsial? Sistem Ekonomi Islam Mampu Menjadi Antibiotik Ekonomi Islam
HorizonOleh: Athi’ Hidayati
(Mahasiswi Program studi Doktor Ekonomi Islam UINSA)
Selamat dari krisis 98, Bank Muamalat menjadi salah satu “pupuk” yang berhasil menstimulasi semakin mengakarnya rumpun ekonomi Islam di Indonesia. Akademisi dan praktisi mulai percaya bahwa sistem perbankan berbasis syariah mampu menjadi obat mujarab dalam mengatasi krisis yang telah menjadi momok abadi negara. Atas dasar inilah sistem ekonomi Islam yang menjadi ibu dari perbankan syariah, terus menerus dikaji untuk menciptakan solusi-solusi parallel dalam perekonomian. Ekonomi pasar bebas yang digadang-gadang kaum kapitalis sebagai solusi dalam ekonomi dinilai telah gagal dan hanya mampu menjadi anastesi temporal yang justru memberikan dampak lebih buruk bagi Kesehatan perekonomian. Hegemoni-hegemoni kekayaan yang dilakukan secara besar-besaran telah berhasil menciptakan jurang ketimpangan antara si kaya dan si miskin semakin dalam dan tajam. Penumpukan kekayaan dan tidak meratanya distribusi menjadi bom waktu yang kemudian meledak dan menciptakan krisis yang lebih besar di masa depan. Lalu yang menjadi pertanyaan, siapa yang seharusnya menjadi sejahtera? Seperti apa sejahtera yang seharusnya diberikan?
Sering kali terlewat oleh kita, Ketika melakukan kajian atau belajar tentang sistem ekonomi terkait dengan pertanyaan untuk apa kita belajar sistem ekonomi? Mengapa kita butuh sistem ekonomi? Sistem ekonomi sejatinya merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan utama, yaitu ekonomi yang sehat yang mampu menawarkan kesejahteraan bagi seluruh kalangan tanpa terkecuali. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana ekonomi yang sehat itu? Hingga tulisan ini dibuat, analogi yang sangat pas dan relevan bagi penulis adalah milik bapak Dwi Condro Triono dalam bukunya yang berjudul Ekonomi Pasar Syariah, semoga Allah SWT memberikan berkah kepada beliau. Kita analogikan ekonomi yang sehat adalah tubuh manusia yang sehat. Ada jantung yang mampu memompa darah agar mengalir ke seluruh tubuh, baik tubuh bagian atas maupun bagian bawah. Tubuh yang sakit adalah saat aliran darah tidak terpompa dengan baik ke seluruh tubuh. Adanya hambatan aliran inilah yang menyebabkan tubuh menjadi sakit dan tidak berfungsi dengan semestinya.
Dalam ekonomi yang sehat, perlu diperhatikan darah dan aliran darahnya. Uang yang menjadi darah dalam perekonomian. Kita semua memahami bahwa manusia butuh uang. Tapi perlu diingat bahwa uang bukanlah alat pemuas bagi manusia. Kita tidak mungkin memakan uang di saat kita lapar. Tapi dengan uang, kita dapat dengan mudah untuk mendapatkan makanan. Dengan kata lain, fungsi uang memiliki kesamaan dengan fungsi darah yang akan membawa sari makanan ke seluruh tubuh manusia, akan tetapi tubuh manusia tidak akan memakan darah tersebut. Uang pun demikian, ia bertindak sebagai alat penghantar transaksi manusia agar manusia dapat mendapatkan segala bentuk kebutuhannya. Aliran dalam ekonomi yang sehat mencerminkan Kesehatan dari ekonomi itu sendiri, ketika aliran uang dalam ekonomi terhambat tentu kita telah ketahui apa yang akan terjadi.
Hal inilah yang dikesampingkan oleh sistem ekonomi yang ada saat ini. Ironisnya masyarakat justru sepertinya enggan untuk mengakui dan semakin mendikotomi sistem ekonomi Islam hanya diperuntukkan untuk golongan dan agama tertentu. Padahal realitanya justru ekonomi dengan sistem ekonomi pasar bebas inilah yang secara mata telanjang telah “mendeskriminasi” masyarakat. Bagaimana mungkin? Kita ilustrasikan sistem ekonomi pasar bebas sebagai ring tinju, siapa saja yang ingin bertarung dapat naik keatas ring tanpa adanya pemisahan kualifikasi, kondisi yang terjadi adalah pihak yang kuat akan menindas pihak yang lemah secara terus menerus. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem ekonomi ini hanya menawarkan kesejahteraan bagi masyarakat yang kuat atau kaya. Lalu bagaimana Islam menyelesaikannya.
Islam telah menjelaskan terlebih dahulu tentang kisah-kisah yang dapat menjadi tauladan dan contoh untuk kehidupan di masa depan. Islam menjadi sempurna tidak hanya dalam sistem peribadatan tetapi juga karena terdapat anjuran, aturan, perintah, dan larangan yang mengatur sistem kehidupan manusia secara menyeluruh tidak terkecuali dalam hal perekonomian. Rasulullah Saw. Telah menjadi role model yang mapan dalam berbagai sudut pandang dan diakui oleh berbagai kalangan, sejatinya telah cukup menjadi alasan bahwa sistem ekonomi dari langit ini adalah “antibiotik” yang manjur dalam mengatasi penyakit ekonomi selama ini sekaligus menjadi sistem ekonomi yang mampu menawarkan kesejahteraan social bagi seluruh rakyat. Adanya sistem ZISWAF, dilarangnya sistem riba, maysir dan gharar merupakan Sebagian kecil bukti dan solusi yang ditawarkan untuk mencapai kesejahteraan social yang dikenal sebagai falah. Selain itu, standar kesejahteraan dalam sistem ekonomi islam tidak hanya berbasis indicator yang bersifat duniawi tetapi terdapat unsur yang bersifat ukhrowi yang juga menjadi koridor dan Batasan seseorang dalam melakukan kegiatan ekonomi sehingga memungkinkan seseorang untuk tidak berbuat dzolim. Lalu apakah hal tersebut masih belum cukup bukti untuk menobatkan sistem ekonomi islam sebagai solusi yang sesungguhnya dan menggantikan jeratan solusi semu yang selama ini kita rasakan? Jika masih belum, kita kupas lebih lanjut.
Melakukan islamisasi berbagai jenis Lembaga sejatinya telah menjadi manifestasi “proses penyembuhan” dengan menggunakan kaidah syariah. Berbagai perguruan tinggi punmulai mendirikan program studi ekonomi syariah yang dapat membantu untuk memperbaiki persepsi masyarakat terkait sistem ekonomi islam. Apakah hal ini bersifat efektif? Tentu saja, tapi tidak dalam jangka Panjang dan masih terdapat efek samping karena Teknik ini sejatinya hanya hanya “menambal” bagian tubuh ekonomi kapitalis yang rusak dan ia akan berjalan beriringan dengan sistem ekonomi konvensional yang ada. Karena islamisasi Lembaga ini masih berada dalam tubuh ekonomi konvensional, efek samping yang sangat mungkin terjadi adalah adanya hegemoni kapitalis.
Proses penggantian sistem ekonomi konvensional ke ekonomi Islam yang bersifat sistemik dinilai lebih mampu menjadi anitesa dalam mengatasi penyakit ekonomi yang ada. Simulasi sederhana yang dapat dijabarkan adalah terkait dengan kepemilikan, pembagian kepemilikan menjadi kepemilikan individu, pemerintah dan umum dimana tiga kelompok ini yang diperkenankan untuk masuk ke dalam mekanisme pasar adalah kepemilikan individu. Sedangkan kepemilikan umum dan negara harus dikelola oleh negara. Dengan adanya sistem ini diharapkan tidak akan terjadi hegemoni kapitalis, terutama dalam penguasaan alam yang menguasai hajat hidup orang banyak. Mengapa demikian? Karena perusahaan swasta yang besar yang secara keuangan ditopang oleh bank dan pasar modal akan sangat mudah untuk menguasai sumber daya alam, hal ini ditambah ditambah dengan adanya dukungan prinsip pasar bebas yang berlaku untuk semua kekayaan yang ada di bumi ini. Hal ini yang harus kita pagari sejak awal agar tidak terjadi hegemoni kapitalis. Ketika kekayaan alam dikelola oleh negara, tentu saja akan diperuntukkan sebesar-besarnya untuk rakyat. Dengan demikian, jika harta kekayaan dari Allah itu ibarat sepotong kue, maka seluruh potongan kue ini tidak boleh langsung diperebutkan secara bebas dalam pasar bebas akan tetapi potongan kue tersebut harus dibagi menjadi 3 bagian terlebih dahulu.
Wallahu a’lam bishawab.

