(Sumber : Jejak Pendidikan)

Sekolah Berbasis Salafi di Indonesia

Riset Agama

Artikel berjudul “The Making of Salafi-Based Islamic Schools in Indonesia” merupakan karya Jamhari dan Saifudin Asrori. Tulisan ini terbit di Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies tahun 2022. Penelitian tersebut berusaha menantang tesis sebelumnya yang menyatakan bahwa pengaruh pendidikan Salafi di Indonesia luntur oleh peningkatan usaha memerangi terois global. Oleh sebab itu, tulisan pada artikel tersebut banyak membahas mengenai sejarah, ideologi, bahkan strategi yang dianggap efektif oleh kaum Salafi dalam mempromosikan pendekatannya dalam pendidikan keagamaan. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, landasan ideologi gerakan Salafi. Ketiga, gerakan Salafi di Indonesia. Keempat, perkembangan sekolah manhaj Salafi. 

  

Pendahuluan 

  

Sekolah manhaj Salafi merupakan salah satu bentuk pendidikan Islam yang saat ini sedang berkembang pesat di Indonesia. Mereka menawarkan sistem pendidikan yang bertujuan untuk menyebarluaskan ajaran Salafi, yakni suatu bentuk praktik keagamaan Islam yang menyerukan “peniruan” generasi muslim awal dengan mengembangkan ide keagamaan berbasis teks (interpretasi literal dari naskah agama). Sekolah ini berkembang di Indonesia seiring dengan kebangkitan Islam di kalangan muslim kelas menengah, tepatnya tahun 1980-an ketika pemerintah Orde Baru secara tentative membuka ruang sosial-politik umat Islam yang lebih luas. Sebagai bagian dari gerakan Islam transnasionalis yang lebih luas, sekolah manhaj Salafi di Indonesia mengembangkan pemikiran dan gerakan yang berakar di Timur Tengah. Kiai dan ulama yang sebelumnya menikmati “monopoli” sebagai sumber utama transmisi dan produksi pengetahuan agama di Indonesia, menjadikan mereka harus berbagi otoritas dengan alumni universitas Timur Tengah yang membawa pulang pengetahuan dan struktur hierarkis keagamaan mereka. 

  

Saat ini setidaknya ada tiga kelompok Salafi yang berkembang di Indonesia. Pertama, kelompok Salafi Apolitis yang berusaha untuk menjaga kemurnian dan menghindari keterlibatan politik. Artinya, mereka apolitis dan menekankan metode dakwah yang non kekerasan, pemurnian dan berorientasi pada pendidikan. Kedua, kelompok Salafi Politik yang berorientasi pada politik atau kekuasaan dan fokus pada penerapan doktrin melalaui ranah politik. Ketiga, Kelompok Salafi Jihadi yang menganggap bahwa menciptakan kekuatan Islam bisa dilakukan dengan kekerasan, alih-alin berkompromi dengan kondisi saat ini. 

  

Pendekatan gerakan Salafi di sekolah juga memiliki model yang berbeda. Misalnya, pesantren Salafi atau tahfidz yang fokus pada pengajaran manhaj Islam salafi versi al-Qur’an. Ada juga madrasah yang memadukan mata pelajaran agama dan umum. Kemudian, sekolah Islam terpadu yang menawarkan kurikulum perpaduan antara kurikulum mata pelajaran umum, agama, dan hafalan al-Qur’an. Tujuannya tentu menghasilkan siswa yang mahir dalam mata pelajaran umum, sains, teknologi, namun juga mampu menghafal al-Qur’an.

  

Landasan Ideologi Gerakan Salafi 

  

Salafisme adalah gerakan internasional yang berusaha mengembalikan Islam pada era yang dianggap “masa keemasan”, yakni ketika Nabi Muhammad SAW dan generasi berikutnya. Secara khusus, istilah Salafi mengacu pada kelompok yang mengikuti metode dan praktik keagaamaan seperti yang diterapkan para sahabat nabi, tabiin, dan tabiut tabiin. Generasi tersebut dianggap menerapkan bentuk kesalehan yang ideal. Gerakan Salafi mengacu pada “teks klasik”, al-Qur’an dan Sunnah. Sebagai gerakan Islam, Salafisme sering kali tidak toleran, kaku, dan reaksioner atau anti reformasi. 

  

Akar teologi Salafi dapat ditelusuri kembali ke pembentukan mazhab fikih pada 10 hijriah. Pada masa ini, ulama terbagi menjadi dua kelompok besar. Pertama, kelompok ahl al-hadits yang terkenal membela otoritas agama dengan teks pada setiap aktivitas manusia. Dikembangkan oleh Ahmad bin Hanbal dan menjadi salah satu dari empat mazhab pada tradisi Sunni dan bagian dari ulama tabiut tabiin. Sebagai murid Imam Syafi’i, pendekatan Ibn Hanbal cenderung tekstualis tapi tidak absolut. Kedua, kelompok ahl al-ra’y yakni condong menggungakan ide logis untuk mendekati hukum Islam. Keduanya adalah mazhab dasar yang berkembang selama era tabiin, serta dianggap sebagai jembatan antara ijtihad periode nabi dan masa mazhab para imam. 


Baca Juga : Darurat Predator Seks : Masalah Kriminal Hingga Kesehatan Mental

  

Selanjutnya, landasan teologis sosial dan politik kelompok Ahl al-hadits dan ahl al-sunnah dikembangkan oleh Ibn Taymiyyah dan Muhammad ibn Abd al Wahhab. Ibn Taymiyyah adalah sosok yang unik karena menganut interpretasi Islam non-meinstream. Ia juga mengeluarkan 10 fatwa dalam 10 kasus fiqh furu’iyyah. Dua bukunya yang berjudul “Naqd al-Mantiq” dan “al-Radd \'ala al-Mantiqiyyin” adalah senjatanya yang terbukti mampu mengikis tradisi penalaran logis di kalangan umat Islam. Ia menyerukan umat Islam untuk kembali pada al-Qur’an dan sunnah dengan cara yang terkait dengan generasi awal Islam. 

  

Gerakan Salafi di Indonesia

  

Sebagai gerakan Islam transnasional, Salafisme mendapat manfaat dari “evolusi” masyarakat sipil global di mana ide dan nilai disebarluaskan lintas batas dengan teknologi komunikasi. Di Indonesia, gerakan Islam transnasional mulai mendapat pijakan karena aktivitas Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), sebuah organisasi Islam yang didirikan Natsir pada tahun 1970-an. DDII adalah organisasi Islam pertama yang aktif mengirimkan mahasiswa muslim Indonesia untuk melanjutkan perguruan tinggi ke universitas di Timur Tengah, seperti Universitas Ibn Saud, Universitas Riyadh, Universitas Islam Madinah al-Munawwaarah dan Universitas Al-Azhar. 

  

Menurut Abaza dalam kajiannya berjudul “Changing Images of Three Generations of Azharites in Indonesia”, mahasiswa Indonesia di Mesir dari tahun 1970-1980an menyerap pemikiran Islam ekstremis, terlihat dari bacaan mereka yang fokus pada karya para pemikir Hizbut Tahrir. Di Indonesia sendiri, muncul Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mendapatkan momentum politik setelah jatuhnya Soeharto tahun 1998. Selain itu muncul Front Pembela Islam (FPI) tahun 1998; Laskar Jihad tahun 1999; Majelis Mujahidin Indonesia tahun 2000; dan Partai Keadilan Sejahtera tahun 1998. Selain mendukung penerapan syariat Islam di Indonesia, organisasi ini terlibat dalam peningkatan kekerasan agama, terutama antara Islam dan Kristen. Sejak saat itu muncul pula gerakan Islam berbasis kampus yang bertujuan menciptakan kader muslim saleh dengan loyalitas teguh dan sikap skripturalis terhadap ajaran Islam. 

  

Perkembangan Sekolah Manhaj Salafi

  

Terdapat dua model perkembangan sekolah Salafi di Indonesia. Pertama, Sekolah Islam Terpadu yang didirikan untuk memodernisasi pengelolaan lembaga pendidikan Islam dan memperkuat orientasi politik mereka guna membangun struktur organisasi bagi generasi muslim muda. Sebagai lembaga pendidikan Islam, Sekolah Islam Terpadu mengadopsi nilai Islam dalam al-Qur’an dan hadis sebagai filosofi yang mendasarinya dalam menyelenggarakan pendidikan, termasuk dalam kaitannya dengan kurikulum. Ada lima prinsip yang menjadi ciri khas kurikulum di semua Sekolah Islam Terpadu; (1) pendidikan dan pembelajaran Islam dalam semua aspek kegiatan sekolah; (2) pembelajaran berbasis kompetensi; (3) kemampuan membaca al-Qur’an; (4) kemampuan berbahasa Inggris dan Arab guna mempersiapkan siswa bersaing dalam lingkungan global; (5) aktualisasi kemampuan dan bakat siswa. 

  

Kedua, pesantren manhaj Salafi yakni merancang kurikulum guna menjadikan santri percaya bahwa interpretasi Islam manhaj Salafi adalah satu-satunya pemahaman Islam otentik berdasarkan al-Qur’an dan sunnah. Pesantren Salafi menekankan pada akidah dengan referensi utama ditulis oleh Muhammad ibn Abdul Wahhab sendiri. Prioritas kedua adalah studi hadis dengan kitab-kitab yang umumnya digunakan di pesantren lain, seperti al-\'Arbain Nawawi, Shahih Bukhari, dan Shahih Muslim. Pesantren manhaj Salafi terdiri dari dua model yakni pesantren eksklusif yang utamanya mengajarkan ilmu keislaman dan beberapa ilmu umum dasar, serta pesantren yang lebih inklusif dengan mengajarkan ilmu keislaman dan ilmu umum dengan mengadopsi kurikulum nasional.

  

Kesimpulan

  

Secara garis besar artikel tersebut menunjukkan bahwa manhaj Salafi merupakan model pendidikan Islam yang baru muncul untuk melengkapi keberadaan “model lama”. Kehadiran sekolah Salafi menunjukkan adanya usaha “pemurnian Islam” melalui ketaatan pada konsep mengembalikan ‘Islam Autentik’ seperti yang tercipta ketika generasi awal muslim. Artinya, sekolah manhaj Salafi adalah bagian dari gerakan Islam transnasional. Tujuannya jelas menyebarkan ide dan gerakan asal Timur Tengah tersebut ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.