Profesor, Ilmuwan dan Temuan Teoretik
OpiniKetika saya akan dikukuhkan sebagai professor, 01 Oktober 2005, di IAIN Sunan Ampel, saya ditanya oleh anak saya dengan pertanyaan yang menggelitik: “ayah itu menemukan apa, kok dikukuhkan sebagai professor. Saya kira professor itu seseorang yang menemukan sesuatu yang spektakuler”. Sulit juga saya menjawab atas celotehan ini, dan akhirnya saya jawab sekenanya: “ayah itu Guru Besar Sosiologi, jadi berbeda dengan guru besar di bidang teknologi”. Dia memang tidak bertanya lagi, tetapi bagi saya pertanyaan ini menyentak. Memang professor itu seharusnya menemukan sesuatu yang baru. Bisa saja konsep atau teori baru di dalam rumpun ilmu agama, ilmu sosial dan humaniora atau inovasi baru di bidang sains atau teknologi atau ilmu terapan lainnya. Professor itu identik dengan “penemu”, baik theoretical discovery ataupun practical discovery.
Beberapa hari yang lalu, saya membaca ulang para intelektual Islam yang memiliki pengaruh luar biasa di dalam pengembangan ilmu pengetahuan dalam berbagai karyanya. Mereka tidak hanya berpengaruh dalam kehidupan sosial dalam lingkup kecil tetapi bagi masyarakat dan ilmuwan dunia. Berkat temuan-temuannya, maka dunia ilmu pengetahuan menjadi berkembang dan mencapai titik tertinggi dalam berbagai bidang.
Saya membaca ulang buku tentang 147 ilmuwan muslim yang memiliki kontribusi besar di dalam kehidupan ilmu pengetahuan dan menjadi tonggak bagi pengembangan ilmu pengetahuan dalam berbagai rumpun ilmu. Sebanyak 147 tokoh ilmuwan Muslim tersebut merupakan tokoh ilmuwan terkemuka di dunia, tidak hanya di dunia Islam tetapi juga di seluruh dunia. Mereka itu adalah peletak dasar dalam ilmu pengetahuan dan ahli dalam bidang yang sangat beragam. Bahkan sesungguhnya mereka itu kaum polymath. Seseorang yang tidak hanya menguasai satu bidang ilmu pengetahuan, tetapi dalam banyak bidang ilmu pengetahuan. Mereka adalah ahli dalam bidang matematika, fisika, astronomi, geometri, ilmu kimia, sejarah ilmu pengetahuan, ilmu kedokteran, kedokteran gigi, kedokteran mata, farmasi, geografi, teknik mesin dan industri, ilmu pelayaran, ilmu bahasa dan sastra, ilmu hukum, kesenian dan musik, tata kota, pertanian dan peternakan.
Begitulah luar biasanya para ilmuwan muslim dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan begitu besar pengaruhnya terhadap perkembangan peradaban manusia berbasis ilmu pengetahuan di dunia. Masa kekhilafahan Abbasiyah adalah momentum perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat luar biasa. Melalui penerjemahan atas karya-karya para filosof Yunani, kemudian berkembang ilmu pengetahuan jauh melebihi masa kejayaan ilmu pengetahuan di zaman Plato, Socrates, Aristoteles dan sebagainya. Sentuhan ajaran Islam dalam pengembangan ilmu tersebut menghasilkan para penemu teori-teori agung, misalnya teori kedokteran, matematika, fisika, biologi, kimia, bahkan teknologi. Demikian pula filsafat, ilmu humaniora dan ilmu sosial. Diakui maupun tidak, dunia barat yang berkembang pesat dalam ilmu pengetahuan pada abad pertengahan hingga sekarang adalah sumbangsih para ilmuwan muslim yang tersebar di Timur Tengah sampai Eropa Timur dan bahkan China.
Di dalam penelusuran tentang para ahli di bidang ilmu sosial dan humaniora, maka dapat ditemukan nama-nama besar, misalnya Ferdinand de Saussure, Jacques Derrida, bahkan Noam Chomsky. Saya telusuri apa yang menjadi kekuatannya sehingga orang-orang ini menjadi besar dan sesuai dengan derajatnya sebagai professor. Sama halnya dengan Max Weber, Emile Durkheim, Karl Marx, Talcott Parson, Robert K. Merton, atau di bidang antropologi seperti Taylor, Marett, Frazier, Geertz, Woodward, Boas dan sebagainya. Mereka adalah para penemu konsep atau teori yang kemudian menjadi perbincangan dari semenjak teori tersebut dicetuskan sampai sekarang. Bahkan yang yang lebih ekstrim lagi misalnya ada sebuah pernyataan: “jika ingin mengkaji masyarakat Indonesia, maka harus membaca karya-karya Geertz, sebab Geertz adalah jendela kajian Indonesia”.
Saya ingin memberikan contoh temuan-temuan fenomenal yang dilakukan oleh Ferdinand de Saussure, misalnya teori sosiolinguistik tentang langage, langue, parole, paradigmatic, syntagmatic, diakronik dan sinkronik. Temuan ini merupakan hasil perenungan dan kajian mendalam atas teori-teori yang sudah ada sebelumnya. Jadi bukan sama sekali berangkat dari ruang hampa. Hasil pemikiran dan analisis mendalam itulah yang kemudian mengantarkannya untuk menemukan teori besar yang hingga sekarang masih dikaji dan digunakan.
Saya sedikit membaca Chomsky, ternyata dia bukan hanya teoritisi tetapi juga aktivis pergerakan. Dia menentang kebijakan-kebijakan pemerintah Amerika yang tidak sesuai dengan nuraninya, misalnya tentang Perang Vietnam. Sebagai aktivis maka yang dipikirkannya tersebut mewarnai tulisannya dan juga teori yang dihasilkannya. Dia tidak berada di menara gading ilmu pengetahuan tetapi juga memasuki dunia nyata dengan melibatkan diri dalam gerakan kemanusiaan. Artinya, selalu ada konteks sosial bahkan politik, pengaruh pemikiran sebelumnya, mazhab yang diikutinya, dan juga paradigma yang menjadi fokus kajiannya.
Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk membuat “keberanian” kita menjadi professor terhalang. Hanya saja penting rasanya untuk dipikirkan, apakah yang kita temukan dalam belantara rimba ilmu, meskipun sedikit. Apa yang kita lakukan pasca menjadi professor juga menjadi perhatian penting. Adakah kita berdiam diri tanpa upaya untuk menghasilkan pemikiran yang terpublikasi. Bisa jadi produk kajian yang terpublikasi tersebut dalam bentuk artikel di jurnal ataukah buku yang bisa dijadikan sebagai referensi. Karya-karya para pendahulu kita itu “kebanyakan” berupa buku, bahkan berjilid-jilid, seperti karya Imam Ghazali Ihya Ulumiddin dan Javanese Religion karya Geertz yang masih dibaca dan dikaji hingga hari ini.
Jadi di tengah keinginan kita untuk menulis artikel di jurnal, jangan melupakan menulis buku karena ini juga menandai dan berpengaruh atas citasi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. Di sinilah arti dari "Gerakan One Year One Article One Book”.
Wallahu a’lam bi al shawab.

