Takdir
HorizonBanyak orang yang tahu tentang Robert Lewandowsky, pemain Bayern Muenchen, yang baru saja memenangkan Piala Champion Eropa 2019/2020, beberapa saat yang lalu. Di final, Bayern mengalahkan Paris Saints Germain (PSG) dengan skore 1:0. PSG yang diperkuat oleh Neymar tidak kuasa memenangkan pertandingan yang sangat penting bagi PSG. Semenjak klub ini didirikan belum pernah marasakan atmosfir menjadi jawara Piala Champion Eropa. Dan masuk final di piala tersebut juga yang pertama kali pada tahun ini.
Tetapi, ada yang menarik dari Lewandowsky, bahwa bergabungnya dia dengan Club Raksasa Jerman disebabkan oleh kejadian di masa lalu, yaitu saat Lewandowsky akan mengikat kontrak dengan Blackburn Rovers, Club Inggris, yang menjadi tujuan bergabung. Semua perangkat sudah disiapkan dan tinggallah berangkat ke Inggris, tetapi tiba-tiba ada kejadian alam yang luar biasa, yaitu meletusnya gunung di Islandia, gunung berapi Eyjafjallajokull, menyebabkan kepergiannya tertunda, dan selama sepekan bandara Islandia tidak operasional, sehingga keinginan bergabung dengan Blackburn Rovers pun melayang.
Pada saat kritis itu datanglah tawaran dari Borussia Dortmund club hebat dari Jerman agar Lewandoswky bergabung dengan Dortmund. Tawaran ini tentu tidak disia-siakan sebab targetnya memang bisa bermain di club Eropa yang sudah memiliki nama besar dan Dortmund tentu menarik. Apalagi saat itu, Dortmund dilatih oleh Juergen Klop, yang biasa dipanggil Kloppo, dan ada yang menarik, bahwa dalam sessi latihan, Lewandowsky ditantang jika bisa memasukkan gol ke gawang partner latihannya, maka akan diberi hadiah, tetapi jika tidak bisa maka dia didenda untuk membayarnya. Mula pertama dia hanya bisa memasukkan sedikit gol, tetapi seirama dengan perkembangan latihan tersebut, maka Lewandowsky bisa memasukkan gol lebih dari 10. Saat itulah Kloppo menyatakan bahwa dia tidak bisa lagi membayarnya. (Jawa Pos.com. 28/08/20).
Apa hubungan antara karir Lewandowsky dengan takdir Tuhan. Inilah yang saya kira menarik untuk ditelaah secara ringkas tentu saja. Takdir adalah kata yang penting di dalam ajaran agama, terutama ajaran Islam. Islam mengajarkan bahwa ada takdir Tuhan yang bersifat azali, yaitu tentang kematian, rejeki, jodoh, dan perceraian. Manusia pasti tidak akan mampu melawan kematian. Seberapa hebatnya seseorang, seberapa terkenalnya seseorang dan seberapa kuatnya seseorang, dia tidak akan bisa mengingkari kapan dia harus lahir, kapan muda, kapan tua dan kapan akan mati.
Siapa yang tidak tahu Freddy Mercury, Elvis Presley, Michele Jackson, atau John F. Kennedy, seberapa hebatnya yang bersangkutan, akan tetapi tidak bisa menghindari kematian. Selalu ada jalan untuk memasuki alam kematian. Kematian adalah takdir Tuhan yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia sendiri sebab ini adalah hak prerogatif Tuhan. Kemajuan teknologi yang luar biasa juga tidak mampu untuk menjawab mengapa manusia harus mati pada waktu itu dan bukan pada waktu yang lain. Semua ini lalu dihukumi sebagai takdir Tuhan.
Lalu, rejeki seseorang juga bagian dari takdir Tuhan, sesuai dengan tingkat kerja keras yang dilakukan. Kebahagiaan atau ketidakbahagiaan seseorang merupakan bagian dari takdir Tuhan yang dipengarui oleh seberapa upaya itu dilakukan. Artinya, bahwa ada faktor ikhtiar dibalik takdir yang ditentukan Tuhan tersebut. Inilah yang kemudian dikenal sebagai dengan konsep ikhtiar dan tawakkal. Orang bisa saja telah berusaha secara sangat memadai, tetapi ternyata ada variable pengganggu yang menyebabkan upaya keras tersebut tereduksi oleh kenyataan yang terhampar di depannya. Di sini dikenal istilah kegagalan. Semua upaya sudah dilalui, tetapi ada faktor takdir yang juga terlibat di dalam produknya. Di dalam konteks rejeki, maka biasanya manusia bisa memaknainya ketika sesuatu sudah terjadi. Biasanya dengan ungkapan: “ya sudah memang takdirnya seperti ini”. Takdir di dalam konteks ini disebut sebagai ketentuan Tuhan yang sudah ditetapkan sedari semula.
Terkait dengan takdir, maka dikenal ada dua kata yang sering disatukan di dalam pengungkapannya, yaitu qadla dan qadar. Ada yang menyamakan makna dua istilah ini dan ada yang membedakannya. Yang menyamakan beranggapan bahwa antara qadla dan qadar adalah dua istilah yang memiliki makna ketentuan Tuhan yang bersifat azali. Sedangkan, yang membedakan menyatakan bahwa qadla adalah ketentuan yang bersifat azali dan qadar adalah ketentuan yang sedang terjadi.
Terlepas dari hal ini, maka kita bisa memahami bahwa ada kepastian atau ketentuan Tuhan yang bersifat azali, dan ketentuan Tuhan tersebut sudah terjadi jauh dari terciptanya alam dan semua isinya ini. Hadits Nabi Muhammad SAW menjelaskan: “Allah telah mencatat seluruh takdir makhluk 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi” (HR. Muslim, At Tirmidzi dan Abu Dawud). Takdir inilah yang kemudian dikenal sebagai kepastian tentang jodoh dan perceraian, rejeki dan kematian.
Takdir tentang rejeki sebagaimana lakon Lewandowsky adalah kepatian tentang rencana dan takdir Allah tentang di mana seseorang akan meperoleh rejeki. Bahkan tidak hanya manusia yang diberikan rejeki oleh Allah, akan tetapi juga seluruh makhluk hidup. Jika kita melihat seekor Kijang dimakan rame-rame oleh sekumpulan Singa, maka juga dipastikan bahwa itulah takdir Tuhan untuk Singa dan Kijang tersebut. Ada yang mati dan ada yang hidup. Semua sudah ditentukan Tuhan semenjak azali sebagai kekuasaan Allah untuk hambanya.
Menduduki jabatan juga takdir Tuhan. Tidak ada yang bisa melawannya jika Allah sudah mentakdirkannya. Hanya saja untuk yang satu ini tentu ada washilah atau perantaranya. Perantara itu bisa saja berupa orang, barang atau lainnya. Para Presiden Republik Indonesia itu terpilih karena tentu ada takdir Tuhan dan ada upaya atau washilah yang terlibat di dalamnya. Menjadi presiden tentu washilah-nya adalah lewat pemilu, dengan berbagai “uba rampen” atau segala persyaratan, baik fisik maupun materi, agar bisa menjadi presiden.
Di sinilah saya menyatakan bahwa menduduki jabatan dalam hierarkhi apapun adalah pemberian Tuhan dan bukanlah pencapaian individual. Kita ini diberi jabatan oleh Allah dalam bentuk amanah yang dikaruniakan kepada hambanya. Makanya, ketika diberikan amanah oleh Allah maka amanah tersebut harus ditunaikan dengan benar, agar amanah tersebut tidak dicabutnya di tengah jalan dengan berbagai kejadian yang tidak diprediksi sebelumnya.
Jadi setiap sesuatu ada takdirnya, dan saya kira kita harus mempercayainya, sebagaimana umat Islam memang diwajibkan untuk mempercayai keberadaan qadla dan qadar Tuhan Yang Maha Esa untuk hambanya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

