Alumni
pepelingOleh: Jambedaweh
Sebelum jauh kesadaran kita mengikuti tulisan ini, mari membacakan surat al-Fatihah pada Cak Dul, seorang penjual kerupuk yang istimewa tapi tak menyadari keistimewaannya. Pada Cak Dul, al-Fatihah.
Suatu hari di bulan Rabiul Awal tahun 1439, Pak Zaini menghadiri resepsi pernikahan salah satu mahasiswinya bernama Tari di Jombang. Tari merupakan mahasiswa bimbingan skripsi dari Pak Zaini. Orangnya bertubuh mungil, berkulit sawo matang, periang, gaya bicaranya ceplas-ceplos, dan kerap mengeluarkan kelakar saat bergaul dengan teman-temannya.
Pak Zaini tiba setelah Isya’ bersamaan dengan beberapa tamu undangan lain yang di antara mereka merupakan teman-teman Tari satu program studi waktu kuliah, sehingga mereka tentu mengenal Pak Zaini. Kebanyakan teman-teman Tari itu datang bersama pasangannya, walau ada beberapa yang masih menjaga “kedaulatan” statusnya sebagai makhluk lajang. Terlihat sesekali mereka saling bergurau seolah-olah berusaha mengembalikan suasana saat masih kuliah dulu.
Di meja-kursi undangan, Pak Zaini terlihat duduk dan berbincang-bincang dengan beberapa mahasiswa yang mengatur posisi mengitari dosen mereka itu. Walau bukan perkuliahan, uraian dan pertanyaan sering keluar dari Pak Zaini, sedangkan anak-anak muda di hadapannya lebih sering mendengar dan berusaha menjawab sesuai dengan pertanyaan yang tertuju padanya. Dari sekian banyak pertanyaan Pak Zaini, kebanyakan terkait dengan aktifitas, pekerjaan, dan rumah tangga. Tema pertanyaan terakhir ini tetap menjadi problem favorit bagi teman-temannya Tari.
Tapi di balik itu semua, tampak jelas bahwa para sarjana muda itu berusaha sekuat tenaga menunjukkan bahwa mereka telah meraih keberhasilan hidup sebagai sarjana. Klaim keberhasilan itu mereka argumentasikan dengan saling menyebut nominal penghasilan, menunjukkan penampilan yang perlente nan meyakinkan, dan tak segan-segan memasang tampang sinis yang dibalut kesombongan ketika menyinggung nama lain yang dianggap lebih sukses. Maka jadilah resepsi pernikahan itu seolah-olah pertunjukan klaim kesuksesan sepihak dari anak-anak muda yang belum genap berusia matang.
“Tidak lama setelah wisuda, atas bantuan dari teman dekat papa, saya kerja di instansi pemerintahan Pak. Kalau gaji sih ndak seberapa, tapi saat ada kegiatan dengan pihak lain saya dapat tambahan penghasilan. Lumayan juga, belum dua tahun ini saya sudah bisa kredit mobil.” Begitulah cerita Adi, salah seorang dari mahasiswa Pak Zaini sambil menunjuk mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka duduk.
“Kalau saya pernah ditawari Om untuk bekerja di instansi pemerintahan sama dengan Adi, tapi saya tidak mau sebab gajinya kecil. Akhirnya atas bantuan ayah, saya sekarang kerja di perusahaan swasta milik temannya. Gajinya lumayan besar sehingga sekarang saya dapat nyicil perumahan dan mobil sekaligus, walau permulaan kerjanya sama dengan Adi.” Pengakuan tokoh kedua ini tak kalah mentereng dibanding dengan tokoh pertama. Bahkan lakon kita bernama Feri ini terlebih dulu menyulut rokok sebelum bertutur dan melirik teman yang dideterminasinya. Seulas senyum sinis kemenangan tergambar di bibirnya saat menghisap rokok. Entah menang dari siapa dan atas apa, agaknya hanya Feri sendiri yang tahu.
Baca Juga : Megan, Sinden Amerika Pecinta Karawitan
Pemandangan berbeda tampak di wajah Adi. Kebanggaan yang tersirat jelas di wajahnya, seketika sirna dengan terpaan pengakuan dari Feri. Bahkan kini Adi merasa apa yang telah diakuinya, tidak lebih top dari apa yang telah diakui Feri. Sejurus setelah Feri menuntaskan kalimatnya, Adi bangun dari duduknya tanpa permisi pada yang hadir di tempat itu dan berjalan menuju meja makanan, lalu mengambil sepiring nasi rawon yang kemudian disantapnya dengan lahap seolah-olah belum makan tiga hari.
“Kalau kamu bagaimana Dinda?” Tanya Pak Zaini pada seorang wanita cantik ber-make up menawan yang duduk bersebelahan dengan Feri. “Saya sekarang jadi sales mobil Pak. Soal penghasilan tentu kalah dengan Adi dan Feri. Tapi dengan pekerjaan ini saya dapat berkenalan dengan orang-orang kaya, banyak dapat tips, dan yang paling penting sering diajak dalam pertemuan-pertemuan dengan fasilitas yang mereka miliki. Kebutuhan saya sehari-hari terpenuhi dengan tips dari konsumen, sedang gaji dan bonus pekerjaan saya tabung untuk masa depan saya nanti Pak.” Begitulah Dinda membeberkan pencapaiannya. “Kapan-kapan kamu kuajak ketemu orang-orang kaya kenalanku ya Din.” Feri menyahut penuturan Dinda, sedang yang ditawari tertawa meringis, sedang Pak Zaini sekali lagi tersenyum menyimak penuturan dan dialog mahasiswanya itu.
Sekali lagi Pak Zaini bertanya pada seorang pemuda yang dari tadi hanya diam di samping Dinda. “Selepas wisuda saya langsung kuliah lagi Pak. Sebenarnya saya sempat ditawari kerja seperti Adi dan Feri, tapi saya tidak mau.” Paparnya dengan datar. “Mengapa Jarwo?” Tanya Diana. “Karena aku ingin penghasilan yang lebih besar dari kalian semua. Berbekal ijazah sarjana, kalian mampu mendapat penghasilan sebesar itu. Padahal bila kalian tidak meningkatkan keahlian, tidak lama lagi kalian akan tergeser oleh orang-orang yang lebih ahli. Salah satu cara menjadi ahli adalah dengan sekolah. Sedang untuk biaya kuliah S2 dan hidup sehari-hari, orang tuaku masih cukup kaya untuk menghidupiku.” Begitulah pemuda yang disapa Jarwo itu menjelaskan. Feri dan Dinda menyambut paparan itu dengan tawa, sedang Adi sudah menyelesaikan kesibukannya makan rawon dan kembali bergabung lalu berkata sambil menunjuk ke satu sudut tempat yang agak jauh, “Bapak belum bertanya pada Bejo.”
Semua yang ada saling menoleh ke arah yang ditunjuk Adi seakan ingin menemukan sesuatu. Tak lama pandangan Pak Zaini dan para mahasiswanya tersebut tertambat pada sesosok pemuda tinggi kurus yang dari caranya berpenampilan tak seglamour yang lain. Pak Zaini melambaikan tangannya pada pemuda itu sebagai tanda perintah untuk mendekat. Pemuda itu beranjak mendekat. Tampak jelas kecanggungannya. Meskipun begitu, pemuda yang disebut Bejo itu duduk di kursi kosong yang sengaja disiapkan Adi. “Aku mungkin kalah dari kalian bertiga, tapi ada yang lebih miskin dariku.” Begitulah gumam Adi di hatinya. Adapun Feri, Dinda, dan Jarwo seakan kompak mampu menebak jalan pikiran Adi, terlihat antusias menyiapkan kursi panas untuk Bejo.
“Bagaimana denganmu Jo?” Pak Zaini bertanya. “Saya bukan orang sukses seperti mereka Pak.” Jawab Bejo sambil menunduk malu. Adi, Feri, Dinda, dan Jarwo sudah tersenyum sinis menyiapkan amunisi tawa. “Apa kerjamu sekarang Jo?\" Pak Zaini mengulangi pertanyaannya. “Saya jualan kerupuk Pak.” Jawab Bejo dengan tetap tertunduk. Setelah saling memberi kode, Adi, Feri, Dinda, dan Jarwo kompak berkata, “Kasihan nasibmu Jo.”
“Kamu produksi sendiri atau beli dari orang lain?” Tanya Adi tanpa dipersilahkan. “Aku beli dari produsen di Jombang ini, lalu aku jual lagi di Surabaya.” Jawab Bejo dengan masih menunduk. “Kalau boleh tahu, berapa penghasilanmu tiap bulan?” Adi meneruskan pertanyaannya. “Tidak tentu. Biasanya antara dua sampai tiga juta tiap bulan.” Jawab Bejo. “Rumahmu masih di daerah Krian?” Feri ganti mencecar, sedang yang ditanya hanya mengangguk tanda afirmasi. “Tiap hari dengan motor bututmu kamu dari Krian ke Jombang, lalu ke Surabaya, dan pulang lagi ke Krian?” Dinda meneruskan cecaran teman-temannya tanpa memperdulikan penanya pertama, Pak Zaini. Bejo sekali lagi hanya mengangguk, dan kali kedua Adi, Feri, Dinda, dan Jarwo kompak berucap sambil geleng-geleng kepala, “kasihan kamu Jo.” Tercium aroma bahwa misi empat pemuda itu accomplished.
“Apa kamu tidak capek tiap hari bersepeda dari Krian ke Jombang, Jombang-Surabaya, dan dari Surabaya pulang ke Krian?” Pak Zaini kini meneruskan pertanyaannya. “Awalnya capek Pak, tapi saya bersyukur.” Bejo menjawab. “Apa yang kamu syukuri?” Pak Zaini mengejar. “Bila waktu shalat tiba atau saat penat melanda badan, saya berhenti di masjid atau surau di sepanjang jalan antara Jombang-Surabaya Pak. Akhirnya melalui jualan kerupuk ini saya lebih terbantu mengikuti jamaah shalat. Tapi ada satu hal yang menjadi hobi baru saya Pak, dan saya sangat bersyukur atas itu.” Bejo menjawab agak Panjang.
“Akhirnya saya tahu kondisi masjid atau surau antara Jombang-Surabaya dalam rute perjalanan saya. Mana yang terurus dengan baik dan mana yang tak terurus dengan baik. Kenal pengurus dan orang-orang yang bertetangga dengan masjid-masjid dan surau-surau itu. Bahkan lambat laun saya tahu dan mengenal anak-anak yatim di sekitarnya yang tak bisa sekolah dan mengaji. Diri saya resah dan tidak terima atas situasi itu semua. Saya merasa harus melakukan sesuatu. Akhirnya, sedikit demi sedikit di sela-sela waktu istirahat dalam perjalanan, saya ajak anak-anak yatim yang tak terurus itu belajar mengaji dengan tambahan belajar baca-tulisa semampu saya. Tentu dengan izin dan dukungan dari warga sekitar masjid atau surau itu. Alhamdulillah kini sudah ada yang mendirikan tempat mengaji, dan sudah puluhan anak yatim yang terurus oleh masyarakat sekitarnya.” Bejo menguraikan pengalamannya.
Tiba-tiba Pak Zaini memeriksa handphone miliknya, lalu terlihat serius membaca dan mengetik di keyboard alat komunikasi itu. Seolah-olah tak menghiraukan penuturan Panjang Bejo. Adi, Feri, Dinda, dan Jarwo kembali saling pandang dan memasang senyuman sinis, lalu ikut memeriksa handphone mereka masing-masing. Obrolan terhenti.
Beberapa saat kemudian Dinda menunjukkan handphone miliknya pada Adi, Feri, dan Jarwo, sampai mereka berempat kompak terlihat serius memperhatikan handphone Dinda. Ternyata tak sengaja Dinda membaca Status WhatsApp milik Pak Zaini. Tertulis dengan jelas sebuah kalimat, “Sukses atau tidak sukses itu bukan ditentukan dari seberapa engkau kaya atau miskin papa, tapi seberapa engkau berguna bagi dirimu dan sesama.” Mereka berempat mencermati tiap huruf dari tulisan tersebut sambil merasa satu hal yang aneh merasuki kesadaran diri mereka.
“Enak musiknya ya?” Pertanyaan Pak Zaini membuyarkan konsentrasi pemuda-pemudi di hadapannya, sedang lagu berjudul “Rupiah” karya Rhoma Irama mengalun menghibur perhelatan resepsi pernikahan itu.

