(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Megan, Sinden Amerika Pecinta Karawitan

Khazanah

Saya sangat bersyukur hingga sekarang masih bisa menikmati music gamelan, yang di masa lalu dipandang oleh kaum santri sebagai musik yang kurang  Islami. Pada waktu kecil memang saya sering mengikuti pagelaran wayang kulit yang tentu saja menggunakan gending Jawa sebagai pengiring acara wayangan. Jika ada acara wayangan di sekitar desa, maka saya dan beberapa penggemar wayang berjalan kaki untuk menonton.  Saya  masih sekolah di SDN Sembungrejo kala itu. Kira-kira kelas 4 atau kelas 5. Pernah saya akhirnya jatuh sakit karena tiga malam berturut-turut nonton wayang kulit. 

  

Sebagai akibatnya, maka saya mengenal dengan sangat baik para pandita dan kesatriya di dalam dunia pewayangan. Saya mengenal tokoh-tokoh bala kiwa dan bala tengen. Jika di dalam episode Ramayana, maka yang termasuk bala kiwa adalah Rahwana Raja dan segenap jajarannya, dan yang termasuk bala tengen adalah Ramawijaya dan seluruh jajarannya. Sedangkan dalam episode Baratayuda, maka bala tengen  adalah Pandawa dan jajarannya, sedangkan bala kiwa adalah Kurawa dan jajarannya. Bahkan sampai hari ini saya masih bisa menebak lakon wayang kulit hanya dengan melihat jejeran pertama dalam pagelaran wayang kulit. Menggambarpun masih bisa, misalnya menggambar Raden Arjuna, Bima Sena, Gatut Kaca, Kresna dan sebagainya. 

  

Ikhwal musik gamelan dianggap kurang selaras dengan ajaran islam disebabkan musik ini digunakan untuk acara tayuban atau sindiran dengan waranggana atau penari atau sindir yang berpakaian terbuka di bagian atas dan juga dengan acara beksan yang terkadang kurang sesuai dengan ajaran Islam. Bahkan juga biasanya menggunakan minuman arak, atau minuman  beralkohol yang memabukkan. Tidak jarang juga terjadi mabuk-mabukan pada saat terjadinya acara tayuban tersebut. Pada tahun 1970-1980-an, acara tayuban masih banyak diselenggarakan oleh masyarakat Jawa, baik untuk acara sunatan atau mantenan. Bahkan juga digunakan untuk acara nyadran di sumur dan tempat-tempat yang dianggap sakral oleh penduduk setempat.

  

Musik gamelan merupakan musik yang paling hebat. Untuk menguasai pembuatan alat musik ini, maka diperlukan seperangkat pengetahuan tentang metalurgi dan keahlian tentang ilmu pertambangan yang baik. Dibandingkan alat musik dari Barat yang hanya terbuat dari kayu dan senar, atau alat musik Timur Tengah, yang hanya terdiri dari kayu dan kulit binatang, maka alat musik gamelan itu lebih rumit. Begitu pernyataan Gus Muwafiq. Sayangnya bahwa gamelan  di masa lalu dijadikan sebagai alat untuk acara tayuban yang berkaitan dengan pelanggaran syara’, sehingga  musik ini dianggap bertentangan dengan Islam. Padahal sesungguhnya bukan alat musiknya yang salah, tetapi tradisinya yang kurang tepat. Gamelan di Solo dan Jogya adalah musik yang adiluhung dan menggambarkan keluhuran dunia kesenian. 

  

Tetapi kita dikejutkan dengan kehadiran seorang waranggana atau pesinden dari Amerika yang menyuarakan kecintaannya terhadap  dunia karawitan. Megan adalah salah seorang pencinta tradisi Jawa, khususnya tradisi karawitan. Di dalam pengembaraan ke dalam dunia seni, akhirnya dia berlabuh menjadi sinden atau waranggana yang sangat andal. Nama aslinya adalah Megan Colleen O’Donoghue, yang pasca belajar di perguruan tinggi, semacam Institut Kesenian, di Amerika Serikat maka dia kemudian melanjutkan pengembaraannya untuk mempelajari seni karawitan, sebuah tradisi kesenian adiluhung yang menjadi kebanggaan masyarakat Jawa, khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

  

Megan, begitu panggilannya telah main sinden bersama dalang-dalang terkenal, misalnya Ki Dalang Anom Suroto, Pak Dalang Ki Soenaryo, mantan wagub Jawa Timur, Ki Dalang Enthus Susmono, Ki Dalang Mulyono Purwocarito, Ki Dalang Cahyo Kuntadi, dan juga pernah main bareng Kirun dan Didi Kempot. Di You tube dengan sangat mudah didapati aksi-aksinya dalam cecandaan dan nyanyian Jawa yang luar biasa.

  

Megan yang asli Amerika Serikat ini memang sangat jago dalam menyanyikan lagu-lagu Jawa dalam musik gamelan. Dia merupakan alumni dari Cornish College of the Arts at Seattle Amerika Serikat, pada tahun 2008, sebuah perguruan tinggi yang mengkhususkan kajian tentang dunia kesenian. Dia menyelesaikan studinya dalam musik seriosa dan juga Arab. Selain itu juga menyukai musik gamelan yang berasal dari Indonesia. Selepas dari Pendidikan setara Strata 1, maka Megan mengikuti program Darmasiswa selama setahun. Program ini bernaung di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pasca kegiatan darmasiswa kemudian Megan melanjutkan studi di Institut Seni Surakarta  dan mengambil program studi karawitan.   

  

Sebagai konsekuensi untuk menulis Pesinden Amerika ini, maka saya harus beberapa kali mengikuti pagelaran wayang kulit yang menghadirkan Megan sebagai pesindennya melalui channel you tube. Megan tampil pada acara wayangan dengan dalang Ki Entus Susmono, Ki Cahyo Kuntadi dan juga Mulyono Purwocarito serta Ki Dalang Soenaryo. Ketika saya mendengarkan alunan suara Megan, maka nyaris tidak percaya bahwa suara merdu dalam nyanyian Jawa itu dinyanyikan oleh seorang perempuan Amerika. Cengkok dan nada-nada tinggi sebagaimana biasa dilagukan dalam musik gamelan dikuasainya dengan sangat baik. Selain juga penguasaan Bahasa Jawa yang menjadi syair dalam lagu Jawa juga sangat mantap. 

  

Acara gara-gara menjadi hidup dengan gurauan segar antara Pak Dalang dengan Megan. Celetukan-celetukan yang bernada banyolan juga muncul dari mulut Pak Dalang dan Megan. Melalui gaya yang cuek dan terus bertanya, maka muncullah guyonan parikena yang membuat penonton  tertawa terbahak-bahak. Ungkapan pekok yang arti sesungguhnya adalah bodoh atau bloon bisa dimaknai pinter. Makanya, Megan lalu menyatakan “saya ini sinden yang pekok. Pak Dalang juga pekok yaa”. Dengan logat yang lucu, maka acara wayangan menjadi hidup dan beraroma kesegaran atau fresh.

  

Jika orang Amerika saja mencintai music gamelan atau karawitan, lalu apakah kita akan terus menganggap bahwa music gamelan merupakan alat music yang tidak selaras dengan agama. Padahal, music ini merupakan ciri khas music Indonesia dan jauh lebih jelas corak keindonesiaannya. Makanya, sebagai bangsa besar seharusnya kita meninjau ulang sikap kita itu, sekaligus merekonstruksi agar gamelan atau karawitan justru menjadi media di dalam proses internalisasi ajaran Islam. Saya merasakan betapa dahsyatnya pengaruh wayang kulit dengan musik gamelannya ini di dalam proses islamisasi yang dilakukan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, dan kemudian Ki Enthus Susmono yang juga telah melakukannya. Sayangnya  usia Ki Enthus tidak panjang sehingga proyek dakwah melalui wayang kulitnya terhenti. 

  

Saya kira Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDK) perlu menyambut kehadiran orang seperti  Megan dengan kecintaannya pada musik gamelan sebagai contoh bagaimana orang menghargai dan mengapresiasi music tradisional, khususnya gamelan. Dan FDK sebagai institusi yang mengemban tugas menciptakan agen-agen dakwah juga dapat menjadikan gamelan sebagai media dakwah sebagaimana dilakukan oleh para waliyullah. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.