(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Kekejian Bangsa Israel Derita Warga Palestina

Opini

Bangsa Israel pernah menjadi bangsa yang terusir dari tempat tinggalnya, yaitu di kala mereka  diusir oleh Raja Fir’aun pada masa Nabi Musa alaihis salam. Bangsa Israel secara historis adalah umat Nabi Musa alaihis salam. Pada waktu pemerintah Fir’aun di Mesir, bangsa Israel merupakan sebuah suku bangsa yang mendapatkan tempat di dalam wilayah kekuasaan Raja-Raja Fir’aun. Sebagai bangsa,  kaum Israel merupakan kelompok yang tertindas. Oleh karenanya, kemudian diselamatkan oleh Nabi Musa alaihis salam diajaklah untuk berpindah dari dataran Mesir di Afrika untuk menuju wilayah Asia, tepatnya di Palestina, yang di dalam cerita berbagai Kitab Suci Agama Semitis, dikaitkan dengan mukjizat Nabi Musa alaihis salam yang berhasil membelah laut dengan tongkatnya. 

  

Lalu di masa kepemimpinan Hitler di Jerman, maka sekali lagi bangsa Israel menjadi sasaran kekejian yang dilakukan oleh penguasa Jerman. Hitler dan pasukannya melakukan tindakan pembunuhan terhadap orang Yahudi, sehingga juga terjadi eksodus besar-besaran ke Amerika Serikat dan negeri-negara lain yang memberikan jaminan keamanan. Orang Israel Yahudi  menjadi bangsa yang terusir dari tempat-tempat yang selama ini telah lama dihuninya. Sekali lagi bangsa Israel mengalami penderitaan akibat genosida yang dilakukan oleh pasukan Jerman di bawah komando Hitler. Peristiwa holocaust ini sungguh membuat orang Yahudi  sangat menderita, tetapi kemudian justru memperoleh keuntungan. Yaitu dengan berimigrasi ke tanah leluhurnya di sekitar Palestina. 

  

Beruntunglah bangsa ini kemudian memperoleh pertolongan dari Inggris dan Amerika Serikat. Dengan kekuatan negara-negara adidaya, maka bangsa Israel dapat kembali ke tanah idaman, tanah pembebasan dan kemudian melalui full support Amerika, maka bangsa Israel dapat memiliki negara yang merdeka pada tanggal 14 Mei 1948. Setelah memperoleh kemerdekaan dengan dukungan negara kuat ini, maka Israel kembali kepada watak aslinya, yang menganggap bahwa mereka adalah  bangsa yang terpilih. Dan kemudian terus berangan-angan bahwa negara Israel itu merupakan jelmaan dari Kerajaan Nabi Sulaiman AS, yang wilayahnya membentang di Yerusalem sampai beberapa wilayah di Timur Tengah. Jadi kalau mereka ingin menjadikan Gaza menjadi bagian wilayahnya, maka hal ini merupakan impiannya bahwa Negara Israel merupakan keberlanjutan dari Emperium Solomon atau kerajaan Nabi Sulaiman. 

  

Sementara itu, bangsa Palestina yang secara genealogis bukan masyarakat Yahudi, merasa bukan menjadi bagian dari bangsa Israel. Bangsa Palestina terdiri dari umat Islam dan Nasrani, yang juga menghuni di seputar wilayah yang menjadi bagian impian dari negara Israel. Di antaranya mendiami jalur Gaza dan sekitarnya. Baik orang Israel Yahudi, orang Islam dan Nasrani Palestina juga memiliki klaim bahwa Yerusalem merupakan tanah Sucinya. Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad juga menganggap bahwa Yerusalem merupakan kota Nabi-Nabi dan menjadi kota suci. Bahkan di awal perkembangan Islam, pernah menjadikan al Aqsha di Yerusalem sebagai kiblat untuk melakukan shalat, sampai kemudian diubah berkiblat ke Ka’baitullah di Mekkah al Mukarramah. 

  

Mimpi bangsa Israel untuk menguasai wilayah sekitarnya tak akan pernah pupus. Melalui dukungan negara-negara besar, khususnya Amerika Serikat, maka bangsa Israel terus melakukan terror terhadap  penduduk Palestina. Tiada hari tanpa korban kedua belah pihak, tetapi jumlah korban dari Palestina tentu jauh lebih besar. Bayangkan terkadang orang Palestina hanya menggunakan ketapel untuk melawan tentara Israel yang bersenjata lengkap. Orang Palestina, tentu juga menjadi nekad sebab sudah tidak ada harapan lagi di dalam kehidupan. Jika seseorang sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia, maka secara psikhologis juga akan menjadi nekad. Itulah sebabnya mereka berpikir lebih baik mati berkalang tanah dari pada tidak ada satupun keluarganya di dunia ini. 

  

Dalam kerangka membikin propaganda di dunia internasional, maka Hamas sebagai salah satu kekuatan organisasi sipil di Palestina dinyatakan sebagai organisasi teroris. Tentu kita bisa bertanya, siapa yang sesungguhnya teroris, Hamas Palestina ataukah negara Israel. Banyak kalangan yang justru beranggapan bahwa Israel adalah State Terrorism. Tidak tanggung-tanggung bahwa yang melakukan terror adalah negara. Tindakan kekejian yang dilakukan oleh tentara Israel sudah tidak lagi berperikemanusiaan. Sudah benar-benar extra ordinary crime. 

  

Sayangnya,  negara-negara Arab yang tergabung dalam Liga Arab juga tidak melakukan tindakan yang signifikan untuk membela Palestina. Di dalam bayangan kita, bahwa negara-negara Arab pastilah membela Palestina, dan ternyata tidak. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa beberapa negara Arab telah memiliki hubungan diplomatik dengan Israel tahun 2020.  Misalnya Bahrain dan Uni Emirat Arab. Dan menurut beberapa pengamat bahwa hubungan diplomatik ini ditentukan oleh factor kerja sama ekonomi melalui fasilitasi Amerika Serikat. Perusahaan di Mesir, dan Arab Saudi telah memiliki kerja sama dengan perusahaan Israel di bidang ekonomi, khususnya telekomunikasi dan perdagangan. Israel memiliki kemampuan yang luar biasa dalam media intelligent dan juga artificial intelligent sehingga sangat diperlukan oleh Arab Saudi. 

  

Berdasarkan informasi bahwa negara yang masih konsisten dalam memberikan dukungan kepada Palestina adalah Indonesia. Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, dengan tegas menyatakan di dalam Pertemuan Majelis Umum PBB terkait Palestina (16/05/2021) bahwa Indonesia memberikan support secara penuh terhadap kemerdekaan Palestina dan dukungan agar Israel menghentikan serangan dan pendudukan atas wilayah Palestina. Agar Israel menghentikan penganiayaan dan pembunuhan terhadap perempuan dan anak-anak serta bangsa Palestina secara umum. Dukungan ini dilakukan oleh Pemerintah berdasarkan atas Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, bahwa Indonesia mendukung terhadap perdamaian abadi dan keadilan sosial.  

  

Korban terbunuh dalam serangan Israel terhadap warga Palestina sebanyak 244 orang dalam waktu 11 hari. Terdapat sebanyak 232 warga Palestina dan 65 anak-anak yang terbunuh. (www.kompas.com). Jika kita menonton televisi atau media-media sosial lainnya betapa tergambar “kengerian” sebagai akibat serangan roket-roket ke wilayah pemukinan Palestina. Konflik Palestina dan Israel sungguh telah meninggalkan luka kemanusiaan yang tidak terkira. Sungguh juga disayangkan bahwa Badan-Badan Dunia tidak memiliki kepekaan dalam melihat kenyataan ini. Tidak hanya itu saja, negara-negara Teluk yang seharusnya berempati terhadap Palestina juga tidak membelanya.

  

Jika kita menilai terhadap kenyataan tersebut, maka pantaslah bahwa Israel semakin berani melakukan attacking terhadap bangsa Palestina, sebab sudah diyakini bahwa negara yang berlabel Islampun tidak membelanya. Jika begini maka harapan terakhir adalah kapan Allah SWT memberikan pertolongan kepada bangsa Palestina dan kemudian memberikan siksaan kepada Bangsa Israel. Sebagai umat Islam Indonesia tentu yang bisa dilantunkan hanyalah doa semoga semuanya segera berakhir.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.