Tradisi Nyongkolan Sebagai Prosesi Sakral Pernikahan di Lombok
HorizonOleh: M. Syukur Ifansyah
Pulau Lombok akhir-akhir ini semakin dikenal oleh dunia Luar. Namanya yang semakin melejit tak lepas dari sebuah persembahan negara yang begitu luar biasa berupa sirkuit Mandalika. Selain itu, destinasi-destinasi wisata, agama dan budaya siap untuk memanjakan mata dan fikiran yang sudah lelah bekerja.
Dalam hal budaya seperti sebuah perkawinan, nyongkolan merupakan sebuah tradisi sakral dimana pengantin yang telah menikah diarak oleh masyarakat ramai menuju rumah pengantin perempuan. Hal tersebut bertujuan untuk mengabarkan bahwa pasangan pengantin sudah menjadi suami dan istri yang sah. Selama prosesi nyongkolan ini, pengantin diiringi oleh pemuda dan pemudi, keluarga, anak-anak bahkan hampir dari semua kalangan masyarakat.
Jika jarak rumah antara pengantin laki-laki dengan pengantin perempuan dakat, biasanya akan langsung mulai diiringi dari kediaman laki-laki. Akan tetapi jika jaraknya jauh, maka akan mulai diiringi dari tempat yang ditentukan. Biasanya dari awal perbatasan dusun atau desa kediaman pengantin perempuan.
Tidak hanya itu, semua yang ikut mengirigi pengantin harus menggunakan pakaian adat khas suku Sasak. Untuk pengiring dari kalangan laki-laki biasanya menggunakan pakaian khas sasak yang dinamakan dengan pegon. Di bagian kepala, biasanya menggunakan sapuk (kain yang diikatkan di kepala) dan dibagian bawah menggunakan wirot atau imut yang memiliki corak-corak batik. Adapun untuk pengiring dari kalangan perempuan menggunakan lambung yang terdiri dari dress berwarna hitam berbentuk huruf V ditambah dengan selendang yang menjuntai ke bahu bermotif ragi, terlebih lagi dipadukan dengan ikat pinggang anteng yang dililitkan dan ujungnya berumbai dibuang di pinggang kiri. Sehingga jika dilihat dari kejauhan, menjadi sebuah pemandangan yang indah dipandangan mata.
Bagaikan sebuah Raja dan permaisuri, selama prosesi nyongkolan kedua mempelai diiringi oleh dayang-dayang dan pengawal istana. Selama perjalanan menuju rumah pengantin perempuan, kedua mempelai dipayungi oleh pengawal yang setia. Biasanya beberapa dari mereka membawa sebuah hantaran seperti buah-buahan dan sayur mayur yang diberikan kepada pihak perempuan.
Prosesi tersebut menjadi sangat menarik, terlebih lagi diiringi dengan variasi sauara dari gendang beleq yang merupakan alat musik khas suku Sasak. tarian-tarian khas Sasak juga menjadi sebuah budaya yang dihadirkan dalam prosesi sakral tersebut. Biasanya, nyongkolan diadakan di akhir-akhir pekan supaya bisa dihadiri oleh banyak orang. termasuk juga anak-anak yang biasanya harus belajar di sekolah. Jadi, jika ada prosesi nyongkolan maka anda harus bersiap-siap untuk bersabar dan melewati jalan secara perlahan dikarenakan jalan yang diramikan oleh iringan raja dan permaisuri.
Sebelum tiba di kediaman pengantin perempuan, rombongan kecil yang terdiri dari pemuka adat dan agama akan mendahului rombongan kemudian memberikan Sorong Serah Aji Krame. Prosesi tersebut merupakan sebuah seremonial yang menjadi simbol serah terima antara keluarga dari pihak laki-laki dan keluarga dari pihak perempuan. Dan jika sudah tiba di kediaman perempuan, maka pasangan pengantin sudah disediakan kuwade atau pelaminan yang merupakan singasana sebagai tempat duduk bersama antara seorang raja dan permaisuri tercinta. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi foto bersama antara keluarga dan kerabat dan kemudian dengan memohon do’a dan restu dengan menghampiri semua kerabat yang hadir dalam prosesi yang sakral tersebut.

