Situs Suci Islam di Yerussalem
Riset AgamaArtikel berjudul “Hasyimiyahs’ Custodianship of Jerusalem Islamic Holy Sites” merupakan karya Karimah Suleiman Aljedayah, Nabeel Ali Alatoom, Mohammad Ibrahim Abu Jraiban, Mohammad Husni Abumelhim, Abdel-Rahman Abu-Melhim, dan Mahmoud Ali Rababah. Tulisan ini terbit di Qudus International Journal of Islamic Studies (QIJIS) tahun 2022. Tujuan dari penelitian ini adalah menunjukkan pemeliharaan kesucian situs Islam di Yerussalem dan peran Kerajaan Hasyimiyah dalam melestarikan identitas Islam dari upaya Yudaisasi yang coba dilakukan oleh Israel. Terdapat tiga sub bab dalam review ini. Pertama, Kerajaan Hasyimiyah. Kedua, era rekonstruksi Kerajaan Hasyimiyah. Ketiga, peran Kerajaan Hasyimiyah dalam mempertahankan identitas Yerussalem melalui UNESCO.
Kerajaan Hasyimiyah
Sesuai dengan judul penelitian di atas, di sub bab pendahuluan penulis menjelaskan secara rinci siapa dan bagaimana Kerajaan Hasyimiyah beserta keturunannya. Kaum Hasyimiyah (disebut juga Hasyim) merupakan salah satu keturunan Arab, baik langsung maupun kolateral dari Nabi Muhammad SAW. Mereka kemudian menciptakan dinasti Hasyim abad ke 20 di Yordania, Suriah dan Irak. Kaum Hasyim telah memerintah Yordania sejak 1921 setelah pemberontakan besar di Arab. Berdasarkan sejarah, Raja Abdullah I memerintah Yordania sebagai Emir Transyordania dari tahun 1921 hingga 1946, kemudian menjadi Raja Kerajaan Hasyimiyah Yordania dari tahun 1946 sampai ia terbunuh pada 1951. Raja lain yang pernah memerintah Yordania adalah Raja Talal dari tahun 1951-1952; Raja Hussein dari tahun 1952-1999; dan Raja Abdullah II menjadi Raja Kerajaan Hasyimiyah hingga saat ini.
Para penulis juga menjelaskan tujuan dan sisi menarik atas penelitian yang mereka lakukan yakni mengenai peran keluarga kerajaan dalam merawat tempat-tempat suci di Al-Quds Al-Sharif (Yerussalem). Klaim keturunan seakan memberikan legitimasi besar guna melestarikan tempat suci di wilayah Yerussalem. Silsilah mereka kembali ke Nabi Muhammad SAW melalui putriya Fatimah Az-Zahra dan suaminya Ali bin Abi Thalib. Kemudian, dari keturunan mereka muncul kaum “Al-Syad” dari keturunan Hassan, dan “Ashraf” dari keturunan Hussein. Hasyimiyah adalah bagian dari Ashraf yang memerintah Makkah dari 1201 M sampai 1925 M.
Fakta tersebut menjelaskan bahwa Kerajaan Hasyimiyah seakan memiliki tanggung jawab untuk menjaga situs suci di Yerussalem di tengah upaya Israel yang mencoba untuk “meyahudikannya” dengan melenyapkan ciri Islamnya. Selain itu, orang Arab dan muslim terkait erat dengan Yerussalem karena kesuciannya dan keyakinan Islam serta sejarah. Hal ini termasuk pada area Masjid Al-Aqsa.
Era Rekonstruksi Kerajaan Hasyimiyah
Pada sub bab ini akan dijelaskan mengenai rekonstruksi Kerajaan Hasyimiyah yang terjadi sebanyak tiga kali. Tentu, Di dalamnya akan dijelaskan pula bagaimana Kerajaan Hasyimiyah merawat ritus-ritus suci di Yerussalem beserta alasannya. Hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa kaum Hasyim memberikan perhatian khusus kepada situs suci umat Islam di Yerussalem untuk menjaga karakteristik dan identitas Islamnya. Kepedulian ini menjadi salah satu reaksi terhadap Israel yang memiliki rencana untuk menghancurkan Masjid al-Aqsa dan menghapuskan identitas Islamnya. Jelas bahwa Israel kerap kali melakukan upaya untuk menyerangan Masjid Al-Aqsa tapi Kerajaan Hasyim selalu siap mencegah serangan ini.
Pada rekonstruksi pertama, Sharif Hussein bin Ali adalah orang pertama yang menanggapi seruan masyarakat Yerussalem ketika ia memprakarsai Dewan Agung Islam di Yerussalem pada tahun 1922. Organisasi tersebut merupakan non-pemerintah Islam yang bertugas untuk melestarikan warisan mulia Yerussalem. Pada tahun 1924, Haji Muhammad Amin Al-Huseini sebagai delegasi Yerussalem mengunjungi Sharif Hussein. Ia menjelaskan berbagai bahaya yang dihadapi oleh Masjid Al-Aqsa. Akhirnya, Sharif Hussein memberikan donasi yang menjadi dasar dana Islam untuk pembangunan kembali Masjid Al-Aqsa dan masjid lain di Palestina. Peristiwa ini dianggap sebagai rekonstruksi pertama situs suci umat Islam di Yerussalem.
Baca Juga : KH. Hasyim Asy’ari: Sang Pemersatu Umat Islam dan Pendiri Nahdlatul Ulama
Rekonstruksi kedua terjadi di era Raja Husein bin Talal (1953-1999). Sejak naik tahta dan mengambil alih kekuasaan, ia menempatkan Yerussalem dengan ciri khas Islamnya sebagai “permata” Hasyimiyah. Segera, setelah mengambil alih secara konstitusional, ia menempatkan rekonstruksi kota Yerussalem dan pelestarian bangunan-bangunannya dalam prioritas kebijakan Yordania. Ia memerintahkan pembentukan komite untuk merekonstruksi situs suci Islam di Yerussalem yang tertuang pada Undang-Undang Nomor 32 tahun 1954. UU tersebut menyebutkan bahwa komite tersebut bertugas mengawasi pembangunan kembali Masjid Al-Aqsa dan Kubah Batu. Rekonstruksi ini berlangsung sekitar 11 tahun dan menelan biaya 11 juta dinar Yordania atau setara $15.500.000. Rekonstruksi ini termasuk pemulihan dinding batu luar, pemasangan kolom marmer untuk empat koridor di sisi timurnya, pemasangan jendela kaca patri, pemulihan langit-langit dan dinding dalam dan luar Masjid Al-Aqsa. Serta, rekonstruksi Masjid Kubat Batu dengan pemasangan kubah aluminium emas, marmer untuk dinding dalam dan luar, dan pemulihan mozaik bersama dengan tulisan ayat al-Qur’an. Tepat pada 6 agustus 1964, Raja Hussein bin Talal secara resmi menandai selesainya rekonstruksi ini.
Rekonstruksi ketiga terjadi sekitar tanggal 21 Agustus 1969 pasca Masjid Al-Aqsa dibakar oleh seorang Yahudi asal Australia bernama Denis Rohan. Akhirnya, Raja Hussein memerintahkan rekonstruksi dengan membentuk komite untuk menghilangkan efek yang disebabkan kebakaran. Anggota komite tersebut di antaranya adalah ulama, insinyur, dan teknisi yang memang ditugaskan untuk melakukan rekonstruksi dan perbaikan Masjid Al-Aqsa, Kubah Batu dan bangunan keagamaan lain. Ia menyumbang sebesar $ 8.249.000 dolar AS. Rekonstruksi tersebut terlaksana sampai pada tahun 1994.
Peran Kerajaan Hasyimiyah dalam Mempertahankan Identitas Yerussalem Melalui UNESCO
Hasil penelitian dari penulis juga menjelaskan upaya yang dilakukan oleh Kerajaan Hasyimiyah melalui bantuan organisasi internasional, yakni UNESCO. Jelas bahwa relasi antara Hasyimiyah dan Yerussalem berasal dari keyakinan mereka akan kewajiban agama san sejarah untuk melindungi kesucian Islam. Salah satu upaya yang jelas dilakukan adalah komunikasi terus menerus dan mendesak UNESCO untuk melindungi Yerussalem dan melestarikan identitas Islamnya. Bentuk keberhasilannya terlihat ketika Kota Tua Yerussalem masuk pada daftar warisan dunia pada tahun 1981. UNESCO memberikan bantuan keuangan pada pemerintah Yordania dengan perkiraan jumlah $ 160.000.
Masalah lain yang timbul dan melibatkan UNESCO adalah ketika Israel masih berusaha melakukan perusakan terhadap karakter sejarah dan budaya lokal di Yerussalem, imbasnya juga pada Masjid Al-Aqsa. Akhirnya, pada tahun 1983, Yordania membuat laporan bahwa Israel mendirikan pemukiman di sekitar Yerussalem dengan tujuan melakukan Yudaisasi di kota suci tersebut. UNESCO meresponnya dengan menunjuk perwakilan untuk menindaklanjuti masalah Yerussalem.
Kesimpulan
Secara garis besar penelitian tersebut fokus pada upaya besar dalam merekonstruksi Masjid Al-Aqsa dalam upaya rekonstruksinya. Penjelasan tersebut menyiratkan bahwa perwalian kaum Hasyim atas Yerussalem dan tempat suci di sana tidak terkait dengan relasi politik antara Yordania dan Palestina. Apa yang mereka lakukan adalah reaksi keras terhadap serangan berulang terhadap Masjid Al-Aqsa ole otoritas Israel yang bertujuan untuk melenyapkan identitas Islamnya. Meskipun Israel melakukan serangan terus menerus, tidak menjadi halangan bagi Kerajaan Hasyimiyah untuk melakukan kewajibannya melindungi situs suci Islam, sekaligus membuktikan bahwa Yerussalem adalah tanah Arab dan Islam. Hasil dari penelitian tersebut dituliskan oleh penulis dengan sangat baik dan runtut. Hasil penelitian tersebut akan lebih sempurna jika metode penelitian, serta analisis yang lebih mendalam dengan teori atau konsep tertentu dicantumkan. Meskipun banyaknya data dalam penelitian ini tidak diragukan. Penelitian ini menunjukkan betapa masih banyak kepedulian untuk Yerussalem, terutama Masjid Al-Aqsa yang memiliki sejarah tidak dapat dipisahkan dengan kaum muslim.

