Pemeringkatan 100 Ilmuwan Sosial: AD Scientific Index
OpiniSaya mendapati banyak pesan di dalam WhatsApp Group (WAG) Asyraqalan, yang menghimpun para sahabat yang masih menjabat atau tidak lagi menjabat pada Kementerian Agama (Kemenag), yang seingat saya diinisiatifkan oleh Alm. Dr. Afandi Mochtar. WAG ini dijadikan sebagai sarana untuk saling bersilaturahmi antar satu dengan lainnya. WAG ini ternyata memang bisa menjadi tempat untuk saling bertukar pikiran, bertemu gagasan dan juga bahkan sebagai sarana untuk merumuskan hal-hal terbaik bagi para sahabat.
Pada tanggal 27 Oktober 2022, terdapat pesan di dalam WAG Asyraqalan yang isinya menggambarkan tentang peringkat 100 dosen dalam bidang ilmu sosial. Yaitu peringkat dosen yang dipublish oleh sebuah Lembaga pemeringkatan internasional yang setiap tahun mengeluarkan rilis tentang ranking dosen dalam semua cabang keilmuan. AD Scientific Index. Di antara sahabat di WAG Asyaraqalan tersebut mengucapkan selamat atas keberhasilan saya masuk dalam ranking 100 social scientist di Indonesia. Mula-mula Mas Hadi Rahman yang memposting World Top 100 Indonesia Scientist and University Social Sciences in Indonesia Rank dan mengirimkan screenshot ranking saya di laman dimaksud dengan pesan “Prof. Nur Syam mantap”. Kemudian gayung bersambut Cak Umar menyatakan: “Alhamdulillah…ikut senang Pak Prof. Semoga beliau sehat selalu. Amin”. Kemudian Cak Kamal Pasha juga mengirimkan pesan: “Alhamdulillah Mabruk." Cak Ruhman Bashori juga menyatakan: “Selamat Prof. Berkah manfaat”. Cak Ridwan juga menyatakan: “Alhamdulilllah.. ikut bangga”, kemudian Cak Mastuki menyambutnya: “Mabruk Prof. Nur Syam teladan”, Pak Ahmad Bahiesy lalu menimpali: “barakallah”. Cak Iman Syafi’i juga memberikan komentar: “kalau Suzuki semboyannya inovasi tiada henti, kalau Prof. Nur Syam ide menulis tidak pernah habis”. Cak Sholla bertanya: “Jika Yamaha Pak Karo?”. Cak Khoirul Huda memberikan sambutan: “selamat Prof. Nur Syam. Menjadi teladan kita semua. Mengabdi tiada pernah berhenti, beribadah tiada kenal Lelah, menulis tiada pernah habis (HR. Imam Syafi’ie)”. Cak Imam Syafi’ie maksudnya. Saya lalu menjawab dengan Bahasa Suroboyoan: “iki opo temenan tah. Masyaallah. Thanks beritanya. Verba volant scripta manent”. Tidak ketinggalan Cak Rahmad Mulyana juga mengucapkan tahniahnya: “alhamdulillah keren Prof”. Mbak Ida Nur Qasim juga menyambut: “Selamat dan sukses Prof”, Mas Aceng juga memberikan ucapan selamatnya: “Alhamdulillah. Keren Prof. Selamat dan sukses”. Yang berikutnya, Cak Ali Ghazi juga memberikan tahniahnya: “alhamdulillah, berkah, berkah, berkah”.
Saya tentu menyambut dengan gembira informasi dari sahabat-sahabat ini. Tanpa informasi dari sahabat-sahabat WAG Asyraqalan, saya tentu tidak tahu informasi penting ini. Saya memang tidak suka melakukan browsing atas informasi-informasi yang datang dari media social. Saya tergolong orang yang “pelit” berkomentar di WAG. Saya lebih suka menuangkan pikiran dan ide saya di dalam tulisan atau artikel lepas atau karya ilmiah popular. Karya ilmiah popular dalam ragam tema dan bahasan. Bisa artikel keagamaan, social, budaya, politik dan ekonomi. Cakupan yang luas tentu saja. Tulisan saya tersebut tersebar di dalam rubrik opini, horizon, khazanah, informasi dan kelas milenial pada nursyamcentre.com
Setelah memperoleh informasi, kemudian saya melakukan browsing pada laman peringkat dosen ilmu social tersebut. Pada halaman pertama tidak saya dapatkan nama saya. Yang muncul justru Prof. Imam Suprayogo, Prof. Irwan Abdullah dan Prof. Idi Warsah. Tiga orang yang memang dikenal dalam dunia karya ilmiah. Prof. Imam Suprayogo memiliki ribuan karya ilmiah popular, dan Prof, Irwan Abdullah memiliki banyak karya berupa artikel terindeks di Scopus dan WoS atau Thomson. Demikian pula Prof. Idi Warsah. Banyak karyanya yang terbit terindeks di Scopus. Baru pada lembar kedua, saya dapatkan nama saya berada pada peringkat 14 dan Prof. Ramlan Surbakti, guru saya, berada pada peringkat ke 10. Saya melihat juga ada Prof. Dr. Abdul Muhid dan Prof. Dr. Yuliati. Cuma saya tidak ingat pada lembar ke berapa.
Pengukuran peringkat ditentukan berdasarkan berapa banyak karya dosen yang dapat dimasukkan dalam peringkat tertentu. Ukurannya adalah High Index Score, 1-10 high index score, sitasi dan banyaknya karya ilmiah yang masuk di dalam peringkat indexes, misalnya Google Scholar dan institusi pemeringkatan lainnya. Pemeringkatan dilakukan secara global atau specifik sesuai dengan areanya, misalnya Afrika, Asia, Eropa, Amerika Utara, Oceania, Liga Arab dan sebagainya. Pemeringkatan juga dilakukan dalam berbagai disiplin keilmuan, misalnya ilmu social, ilmu alam dan humaniora.
Pemeringkatan ini tentu tetap memiliki fungsi akademiknya terutama bagi institusi pendidikan. Semakin banyak tenaga dosennya yang memiliki peringkat dalam rilis dunia akademik tentu dapat mengangkat citra institusi pendidikan, dan ujungnya tentu berguna bagi kepentingan akreditasi sebagai salah satu rekognisi institusi dimaksud.
Jadi, dirasa penting untuk mendorong para dosen untuk terus menulis dan mengupayakan bisa dicitasi oleh para pembacanya. Para dosen harus menghasilkan karya ilmiah, baik buku, artikel jurnal maupun karya ilmiah popular. Sungguh menulis bukan hanya kewajiban bagi dosen tetapi kebutuhan. Rasanya perlu ada Gerakan Citasi Institusi, yang dapat menjadi pendorong bagi pengembangan PTKIN.
Wallahu a’lam bi al shawab.

