(Sumber : CNBC Indonesia)

Arab Saudi di Tengah Gejolak Perubahan Sosial

Informasi

Siapa yang bisa menolak perubahan social? Saya kira nyaris tidak ada. Perubahan social adalah keniscayaan duniawi yang paling potensial untuk terus terjadi kapan dan di manapun. Perubahan social telah memenuhi seluruh aspek kehidupan masyarakat, bisa aspek politik, kebudayaan, ekonomi dan bahkan agama. Selama ini terdapat pandangan bahwa yang relative stabil di dalam menghadapi perubahan social adalah agama. Dasar pemikirannya tentu bahwa agama merupakan institusi yang melibatkan tidak hanya tafsir atas duniawi,  akan tetapi juga tafsir ukhrawi berbasis pada pada kalam suci, baik dari Tuhan atau Allah SWT maupun para Nabi utusan Tuhan.

   

Negara di dunia juga mengalami pasang dan surut, naik dan turun, berubah dan ajeg yang dikaitkan dengan perubahan social. Institusi social yang berupa negara tentu merupakan institusi social yang relative tidak mudah berubah misalnya dalam konteks ideologi kenegaraan, dan kebangsaannya. Terdapat gradasi yang luar biasa dalam perubahan negara sebab banyak melibatkan dimensi ideologis, regulasi dan birokrasi atau apparat pemerintah di dalamnya. Tetapi negara pun bisa berubah sesuai dengan tuntutan perubahan social yang terjadi di tengah kehidupan kemasyarakatannya. Meskipun tidak berubah dalam konteks ideologinya, tetapi regulasinya bisa berubah menyesuaikan dengan tuntutan perubahan dunia. Misalnya secara idelogis Indonesia tidak mengubah Pancasila sebagai dasar negara, akan tetapi Undang-Undang Dasar berubah dan bukan hanya bergeser. Perubahan yang mencolok tentu terkait dengan system politik kenegaraan.

  

Yang sekarang sedang berada di dalam sorotan, khususnya media social adalah negara-negara di Timur Tengah, khususnya Arab Saudi. Perubahan social di Arab Saudi dapat dikaitkan dengan Visi Saudi Arabia 2030 untuk menjadi negara super modern. Sebagaimana dinyatakan oleh Pangeran Mohammad Bin Salman (MBS) bahwa Arab Saudi harus menjadi Eropanya dunia. Harus menjadi negara yang paling modern dan memiliki kota yang paling modern. Visi Saudi Arabia 2030 itu memicu perubahan yang drastic dalam banyak bidang kehidupan. Di antaranya adalah melakukan perubahan besar-besaran dalam tradisi bangsa Arab yang selama ini nyaris tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan. Di antaranya adalah tradisi relasi social lelaki dan perempuan. Selama ini pembagian relasi itu sangat jelas. Lelaki di ruang public dan perempuan di ruang domestic. Lelaki dan perempuan berada di dalam sekat yang tegas. Tidak ada ruang bersama di antara dua jenis kelamin tersebut dalam ruang publik. Perubahan yang mencolok, misalnya diperbolehkannya perempuan untuk mengendari mobil sendiri, menonton konser music, menonton bola, dan berada di ruang public secara bersamaan. Bahkan peragaan busana dalam fashion week

  

Yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan di media adalah mengenai diperkenankannya perayaan Valentine’s day dan Upacara Haloween. Dua ritual tahunan ini selama ini dilakukan negara-negara barat dan negara lain yang merayakannya. Tetapi Arab Saudi sebagai negara Islam konservatif tidak membolehkannya. Bisa dilakukan oleh komunitas-komunitas tertentu misalnya oleh komunitas orang Barat di Arab Saudi secara tertutup. Tetapi sekarang seirama dengan keinginan untuk menepis bahwa Arab Saudi merupakan negara yang eksklusif, maka perayaan tahunan tersebut diperkenankan untuk dilakukan yang tentu dalam batas kewajaran dan etis. 

  

Namun demikian, kebolehan melakukan upacara-upacara ini tentu sudah sangat luar biasa. Mengingat bahwa sebagai negara dengan paham keagamaan Salafi Wahabi dengan tingkat rigiditas pemahaman dan perilaku keagamaannya, maka sungguh perubahan itu sepertinya di luar keyakinan selama ini. Beyond believe. Negara yang dianggap selama ini sebagai pengekspor teologi Salafi Wahabi dan praktis keberagamaan yang puristik, yang ortodoks, tetapi dalam waktu yang sangat singkat berubah menjadi paham keagamaan yang lebih terbuka. 

  

Tentu ada factor yang menjadi penyebab atas perubahan social yang sangat cepat tersebut. Di antaranya adalah factor ekonomi, Arab Saudi menginginkan Saudi menjadi negara yang terbuka, sehingga memungkinkan baginya untuk bekerja secara multilateral khususnya dengan negara-negara Barat yang selama ini memiliki tradisi keterbukaan dan open mindedness. Penerimaan tradisi-tradisi Barat yang seperti itu untuk menciptakan citra bahwa Arab Saudi sudah berubah dan menjadi negara yang terbuka. Diharapkan bahwa dengan membuka keran keterbukaan dimaksud, maka akan terdapat investasi timbal balik, untuk menyongsong Visi Arab Saudi 2030 dan ekonomi global. Cadangan minyak dan gas bumi yang semakin menipis, memaksa Arab Saudi untuk lebih terbuka dengan realitas social di depannya.

  

Selama ini yang menjadi pengekang terhadap perubahan social adalah pemahaman agama yang konservatif yang berbasis pada pemahaman Salafi Wahabi. Pemahaman agama yang ortodoks yang mengikat kuat terhadap perkembangan social di dalamnya. Oleh karena itu, pemahaman agama seperti itu lalu direkonstruksi dengan visi Arab Saudi 2030 yang lebih terbuka dan harus mencitrakan Saudi Arabia yang welcome atas paham keagamaan yang berbeda. Hipotesis ini penting untuk didalami bahwa perubahan kebijakan MBS untuk New Saudi Arabia akan mengalami hambatan dari dalam ataukah justru akan menuai dukungan internal. Menilik gaya MBS, maka siapapun yang menghambat atas upaya mewujudkan gagasan besarnya akan bisa saja disingkirkan.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.