(Sumber : Kompas money)

41 Jam Seminggu, Rp2,8 Juta Sebulan: Potret Kerja Keras di Negeri Bernama Indonesia

Informasi

Eva Putriya Hasanah

  

Pernah nggak sih kamu merasa waktu 24 jam sehari itu nggak cukup? Rasanya pagi baru mulai, tahu-tahu udah malam aja. Kerjaan belum selesai, energi juga sudah menipis. Kalau kamu ngerasa begitu, ternyata kamu nggak sendirian.

  

Badan Pusat Statistik (BPS) baru aja merilis laporan terbarunya bertajuk Keadaan Pekerja di Indonesia Februari 2025. Salah satu hal yang dibicarakan adalah rata-rata jam kerja orang Indonesia dalam seminggu. Angkanya? 41 jam. Yap, seminggu kita habiskan hampir dua hari penuh hanya untuk bekerja.

  

Kalau dirinci, para buruh, karyawan, atau pegawai formal rata-rata bekerja 43 jam seminggu. Angka ini bahkan naik dari Februari tahun lalu yang “hanya” 42 jam. Bisa dibilang, beban kerja kita stagnan, bahkan cenderung meningkat bagi mereka yang bekerja secara formal. Dan kita semua tahu, itu belum termasuk waktu lembur, macet di jalan, atau pekerjaan yang masih nyangkut saat sudah sampai rumah.

  

Upah Naik, Tapi Apakah Cukup?

  

Dengan jam kerja segitu, Anda mungkin bertanya-tanya: “Lantas, seberapa besar sih penghasilan rata-rata pekerja Indonesia?” Nah, menurut data BPS yang sama, rata-rata upah atau pendapatan bersih pekerja pada Februari 2025 adalah Rp 2,84 juta per bulan. Angka ini naik dari tahun sebelumnya sebesar Rp 2,76 juta. Artinya, ada kenaikan sebesar Rp 80 ribu dalam setahun.

  

Kedengarannya mungkin naik, tapi mari kita jujur. Apakah kenaikan itu terasa cukup, apalagi di tengah harga kebutuhan yang terus naik? Coba bayangkan: dengan pendapatan Rp 2,84 juta, seseorang harus memenuhi kebutuhan makan, transportasi, sewa tempat tinggal (bagi yang merantau), tagihan internet, pulsa, dan mungkin membantu keluarga juga. Sisanya? Bisa jadi tinggal cukup untuk ngopi sachetan sambil mikir, “Kapan bisa punya tabungan?”

  


Baca Juga : Umat Masa Depan: Teologi Feminis di Era Kompetisi (Bagian Enam)

Mengapa Ini Penting untuk Dibicarakan?

  

Karena kita sedang hidup di era yang mengagungkan produktivitas, namun sering kali lupa pada kualitas hidup. Banyak orang merasa harus terus bekerja tanpa henti, karena kalau berhenti sebentar saja, takut ketinggalan atau malah kehilangan kesempatan. Bahkan terkadang kita merasa bersalah jika sedang tidak produktif, padahal tubuh dan pikiran kita juga butuh istirahat.

  

Fenomena ini juga bisa jadi menjelaskan mengapa belakangan banyak muncul istilah seperti “quiet quitting”, “burnout”, atau bahkan “downshifting” — semacam tren di mana orang memilih hidup lebih sederhana dan meninggalkan tekanan dunia kerja yang tidak sehat.

  

Apalagi, di balik angka BPS tadi, masih ada cerita mereka yang masuk kategori pekerja informal. Mereka tidak punya jam kerja tetap, tidak mendapat jaminan sosial, dan sering kali harus bekerja lebih dari 8 jam sehari hanya untuk menyambung hidup. Sayangnya, kategori ini belum tersorot secara mendalam dalam laporan upah rata-rata tadi.

  

Bekerja Keras Itu Baik, Tapi Sampai Kehilangan Diri Sendiri

  

Kita tentu tidak menyalahkan kerja keras. Faktanya, banyak dari kita bekerja bukan karena semata-mata ambisi, tapi karena kebutuhan. Hidup di Indonesia — apalagi di kota besar — memang menuntut banyak. Tapi penting juga untuk mengingatkan diri sendiri bahwa kita bukan mesin.

  

Pekerjaan yang terus menumpuk, jam kerja yang panjang, dan pendapatan yang terasa “nanggung” bisa berpengaruh besar pada kesehatan mental dan fisik. Mulai dari kelelahan kronis, kecemasan, hingga depresi. Itu kenapa penting banget untuk punya ruang bernapas. Entah itu dengan rehat sejenak, ngobrol sama teman, atau punya kegiatan yang bikin hati senang di luar kerjaan.

  

Jadi, Harus Gimana?

  

Tidak ada solusi instan, tapi ada hal-hal yang bisa mulai kita coba. Bagi pekerja, penting untuk belajar membatasi diri dan mengenali tanda-tanda kelelahan. Kalau memang bisa, mulai negosiasi waktu kerja atau kerja hybrid yang lebih fleksibel. Bagi pemberi kerja atau institusi, sudah saatnya memikirkan keseimbangan antara target dan kemanusiaan. Karena produktivitas yang terlalu dipaksakan justru berakhir pada turunnya performa juga.

  

Dan buat kita semua sebagai masyarakat, yuk mulai peka dan lebih terbuka dalam membahas soal kerja yang manusiawi. Karena bekerja keras itu penting, tapi menjaga kewarasan dan kehidupan yang layak juga sama pentingnya.

  

Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya soal kerja 41 jam seminggu, tapi juga tentang bagaimana kita tetap bisa tertawa, pulang dengan tenang, dan bangun esok hari tanpa merasa hampa