(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Menjadi Bagian Komunitas Asyraqalan: Temu Kangen dan Gelak Tawa

Khazanah

Memang disengaja bahwa pertemuan sahabat anggota Asyraqalan ditempatkan pada hari Kamis malam. Waktu itu bersamaan dengan selesainya acara fit and propertest untuk Calon Rector PTKIN, UIN Imam Bonjol Padang dan UIN SMH Banten, yang diselesaikan pada jam 12.30 WIB. Acara komisi Seleksi dimulai pada jam 13.30 Hari Rabu, 16/07/2025 dan diselesaikan pada Hari Kamis, 17/07/2025. Ada banyak acara yang harus dihandle oleh para pejabat, sehingga waktu benar-benar digunakan secara efektif dan efisien. Malamnya diadakan pertemuan di Rumah Jabatan, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Amien Suyitno, MA. Acara itu diselenggarakan di Rumah Jabatan Ciracas, yang menjadi aset Kemenag. 

  

Tanah dan rumah ini pernah menjadi sengketa antara Kemenag dengan pihak ketiga,  dan Kemenag yang memiliki sertifikat tahun 1980-an nyaris kalah, sebab sudah kalah di Pengadilan Negeri Jakarta Timur dan Pengadilan Tinggi Jakarta. Untungnya masih ada peluang untuk bertarung di Mahkamah Agung. Lewat berbagai persidangan, akhirnya Kemenag memenangkan kepemilikan yang sah berdasarkan Keputusan Kasasi, 2017. Rumah dan tanah di Ciracas ini sekarang ditempati oleh para Pejabat Eselon Satu atau JPT Utama dan JPT Pratama atau Eselon Dua Kemenag. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu:

  

Pertama, ucapan selamat berulang tahun yang ke 56 untuk Professor Amien Suyitno. Sebuah usia emas yang menentukan atas prestasi dan achievement yang sangat luar biasa. Semua itu sudah tertulis di alam ruh, tentang takdir untuk manusia. Kelahiran, kematian, pekerjaan atau rezeki dan jodoh itu merupakan takdir Tuhan. Prof. Suyitno menjadi dirjen merupakan kehendak Allah yang tidak bisa digugat oleh siapapun kecuali yang memiliki takdir. 

  

Acara malam itu diikuti oleh sahabat-sahabat lama, seperti sahabat Amin Haidari, sesepuh Pendis,  dan para sahabat lintas Satker Pusat dan bahkan juga ada Rektor SMH Banten, Prof. Wawan Wahyudin. Kebanyakan yang hadir adalah para pejabat dan staf di Pendis, sebab yang punya hajat adalah Dirjen Pendis, Prof. Dr. Amien Suyitno, MA. Saya seharusnya malam itu akan pulang ke Surabaya, sebab ada acara lain di Mojokerto pada hari Sabtu. Akhirnya saya tunda kepulangan saya dan menghadiri acara unik di Komunitas Asyraqalan

  

Kedua, Sebagaimana biasa,  acara ini diselenggarakan dengan bacaan Barjanzi secara bergantian. Sahabat Khoirul Huda memulainya dengan bacaan salawat, lalu dilanjutkan dengan tuan rumah untuk membacanya dan seterusnya para hadirin. Saya menjadi teringat puluhan tahun yang lalu, kala masih di desa, setiap malam Jum’at atau Kamis malam, selalu diadakan pembacaan Barjanzi. Lengkap dengan upacaranya dan alat-alat yang digunakan. Misalnya ada kembang gading yang ditempatkan secara khusus dan minyak wangi. Di masa lalu, kala mahalul qiyam, maka semua peserta diperciki dengan minyak wangi dan memegang bunga gading sambil dicium. Sebuah upacara yang ekspresif atas kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Semua yang hadir menikmati pembacaan Barjanzi yang bisa dihadirkan dengan lagu-lagu khas. Mengembalikan nuansa pedesaan di tengah perkotaan.

  

Ketiga, Sahabat Mastuki, sahabat Prof. Suyitno, saya  dan Sahabat Imam Syafi’i memberikan sambutannya. Jika saya bertemu dengan Cak Imam Syafi’i pasti gayung bersambut. Ada saja guyonan yang dapat disampaikan. Sahabat Imam Syafi’i sekarang ditugaskan di Badan Sensor Film (BSF). Ia bercerita beberapa saat yang lalu diminta untuk mengedit film yang berjudul “Guna-Guna Istri Muda.” Kala ditanya di dalam pertemuan tentang judul ini agar diubah, maka Cak Imam dengan kemampuannya yang khas menjawab:  “sebaiknya yang digunakan sebagai  judul film adalah  “Gunanya Istri Muda.” Sontak seluruh ruangan bergemuruh dengan tawa yang membahagiakan.

  

Sebelumnya juga saya sampaikan bahwa “hari ini ulang tahun Prof. Suyitno yang ke 56. Itu usia yang di atas, tetapi usia yang di bawah sudah 76,” maka hadirin semuanya tertawa, termasuk ibu-ibu. Saya rasa target untuk tertawa lepas sebanyak 17 kali terpenuhi. Acara ini memang didesain untuk tersenyum dan tertawa sepenuhnya. Sebuah acara yang cocok  untuk kangen-kangenan. Masyaallah.

  

Tetapi juga ada yang serius. Saya sampaikan bahwa di dalam dunia birokrasi itu ada aspek politik birokrasi dan ini berlaku di seluruh dunia. Bukan hanya di Indonesia. Jangan khawatir,  semuanya sama. Oleh karena itu agar dipahami bahwa ada kepatuhan kepada pemimpin birokrasi. Jangan melawan. Kita harus menjadi satu tim yang naik kereta api, kita harus sampai di stasiun secara bersamaan. Bukan seperti naik bus yang bisa naik turun di sembarang tempat asalkan jalan yang dilalui bus. 

  

Pemimpin pasti secara arif akan membina atau menempatkan staf  pada tempat yang tepat. Jangan berpikir bahwa orang dimaksud sedang dibuang. Sebagai aparat sipil negara (ASN) kita harus tetap loyal pada organisasi. Jangan hanya loyal kepada pemimpinnya,  tetapi harus loyal kepada institusi di mana kita mengabdi melalui kepatuhan kepada pemimpin pada saatnya. Pemimpin bisa berganti tetapi institusi tidak berganti. Tetap. 

  

Jangan sampai kita hidup sekarang tetapi masih berpikir masa lalu. Sekarang ya sekarang, bukan masa lalu. Oleh karena itu, jaga kepatuhan yang benar kepada pemimpin. Kita pahami bahwa pemimpin dapat “menempatkan” ASN di mana saja. Jadikan jabatan sebagai instrument dan bukan tujuan. 

  

Jika menjadi instrumen,  maka dapat berubah tetapi tujuan akhirnya dipastikan tidak berubah. Di manapun berkarir,  maka tujuan kita satu yaitu untuk meninggikan kalimat Allah, untuk menjaga kemanusiaan dan kebaikan. Memahami dan mengamalkan agama dengan rasa cinta.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.