Mbah Baqi: Teladani Keimanan dan Kesederhanaannya
OpiniAkhir pekan kemarin sungguh hari yang sibuk bagi saya. Memang sekali-kali harus menyibukkan diri agar kelihatan masih ada manfaatnya. Maklum harus menjadi professor yang impactfull meski dalam level yang kecil, bahkan nyaris tidak terdengar suaranya. Seperti reklame bahan pelumas untuk mobil diesel di masa lalu.
Setelah datang dari Jakarta pagi hari, lalu sore berangkat ke Tuban, karena hari Ahad ada acara Khaul Mbah Boqa Baqi atau Syekh Al Baqi atau Mbah Jumantoro. Seorang ulama yang menjadi penyebar Islam di desa Sembungrejo dan sekitarnya. Mbah Jumantoro ini memiliki genealogi dengan Waliyullah penyebar Islam di Tlatah Tuban dan Lamongan. Ada symbol khusus yang menunjukkan jati dirinya.
Acara khaul Mbah Baqi, Ahad, 13/07/2025, dilakukan di pelataran makam yang memang disediakan secara khusus untuk acara-acara manganan atau sedekah bumi dan sekarang diformat lebih Islami menjadi sedekah bumi, yang intinya adalah membaca tahlil dan Surat Yasin dan juga pengajian. Di masa lalu, hanya manganan saja dan salah satu cirinya adalah membuang makanan ke makam di bawah pohon beringin yang usianya sudah puluhan tahun. Waktu saya kecil pohon beringin tersebut sudah besar dan masih hidup hingga sekarang. Acara ini dihadiri oleh Kyai Jumadil Kubro, Ustad Diono, Mbah Mantan Kades, Wiryawan, Kepala Desa yang diwakili oleh Kamituwo dan perangkat desa lainnya, serta Mbah Modin dan para tokoh agama dan Masyarakat serta jam’yah tahlil di dusun Semampir Sembungrejo, Merakurak, Tuban. Ada tiga hal yang saya sampaikan:
Pertama, bersyukur karena kita diberi peluang untuk selamatan atau kendurian dengan membawa sejumlah makanan yang tidak memberatkan. Dua besek makanan tersebut lalu dibagi-bagi sesuai dengan jumlah orang yang hadir. Saling menerima dan memberi. Sebuah acara yang sangat baik untuk membangun kebersamaan dalam hablum minan nas. Kita diperintahkan oleh Allah untuk saling berbuat baik di dalam kehidupan, dan salah satu instrumennya adalah dengan selamatan atau kendurian. Apalagi tidak hanya sekedar selamatan tetapi juga membaca surat al-Fatihah, surat Yasin, tahlil dan doa yang semuanya ditujukan kepada leluhur kita yang sudah wafat. Masyaallah ini sebuah bukti kecintaan, penghormatan dan hadiah kita untuk para leluhur. Siapa lagi yang mendoakan atas mereka yang sudah sumare atau wafat kecuali kita semua. Makanya, tadi sesudah membaca Al-fatihah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya, lalu kita baca Al-Fatihah kepada leluhur kita. Tadi secara khusus kita baca Al Fatihah untuk kehidupan kita. Satu acara dengan multi makna. Luar biasa.
Kedua, sebagai umat manusia tentu saja kita bersyukur menjadi orang Desa Semampir atau menjadi orang Indonesia. Karena kita lahir di sini, maka kita menjadi orang Islam. Bapak dan Ibu serta lingkungan kita menjadikan kita sebagai orang Islam. Andaikan kita lahir di Papua atau Ambon maka kita akan menjadi Kristen atau Katolik. Kalau kita lahir di Bali kita menjadi Hindu atau Buddha. Kita tidak meminta lahir di mana, akan tetapi Allah mentakdirkan lahir di desa ini, sehingga kita semua menjadi umat Islam. Subhanallah.
Cara ntuk menjadi umat Islam itu tidak sulit, hanya dua saja, yaitu beriman kepada Allah SWT dengan mengesakannya, la ilaha illallah, tidak ada Tuhan kecuali Allah dan kita bersaksi atas hal tersebut. Bahkan dalam sehari kalau kita shalat, maka kita membaca syahadat 11 kali, selain membaca shalawat juga sebanyak 11 kali. Ini menandakan bahwa kita telah mengesakan Allah SWT. Bagi yang belum shalat marilah kita lengkapi keyakinan kita dengan melakukan shalat yang benar. Di masa lalu ada yang memberikan sesajen kepada batu besar, pohon besar disertai permintaan kepada nini among kaki among yang menjadi cikal bakal desa dan sebagainya, maka sekarang sudah tidak ada yang melakukannya. Jika kita meminta hanyalah kepada Allah melalui washilah kepada Nabi Muhammad SAW., atau langsung tidak melalui washilah Nabi Muhammad SAW. Jika ada yang bisa dijadikan sebagai perantara, dan itu adalah Nabi Muhammad SAW kenapa kita lakukan seperti itu.
Kemudian lainnya adalah beramal yang saleh. Kita sudah melakukan kebaikan kepada sesama manusia. Orang sini ini baik-baik. tidak ada yang suka menggunjing, tidak ada yang suka untuk bertengkar, tidak ada yang suka menghardik atau membentak dan juga tidak ada yang suka berkata yang jelek. Semua baik-baik saja. Umat merasa menjadi sesama sesaudara. Al muslimun akhul muslimin, seorang muslim bersaudara sesama orang muslim lainnya. Oleh karena itu menjadi orang Islam merupakan sungguh kebahagian.
Ketiga, salah satu di antara ajaran Islam dalam kaitannya dengan amalan baik kepada Allah dan sesama manusia adalah sedekah. Bentuk sedekah itu macam-macam. Ada yang menggunakan uang, barang dan bahkan jasa. Termasuk juga saling menyenangkan. Bagi orang kaya dan cukup, maka sedekahnya dengan uang, barang atau sebagian kecil harta. Bagi yang tidak kaya boleh saja bersedekah dengan senyuman atau menyenangkan hati orang. Jangan khawatir. Siapa saja bisa bersedekah. Di antara sedekah tersebut adalah dengan melakukan selamatan. Kali saya yang menyelenggarakan selamatan dan yang lain di waktu lain.
Momentum untuk sedekah bagi yang masih hidup adalah atas upacara kematian
Di sinilah kita harus mencontoh atas ajaran para waliyullah untuk hidup sederhana. Jangan segala sesuatunya berlebihan. Ada ayat Alqur’an Surat Al A’raf ayat 31 yang menyatakan: “wa qulu wasyrabu wa la tusyrifu innahu la yuhibbul musyrifin,” yang artinya “dan makan dan minumlah jangan berlebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai yang berlebihan.” Jika kita qiyaskan antara bersedekah di dalam upacara kematian dengan ayat ini, maka sesungguhnya Allah menyukai yang tidak berlebihan.
Jadi janganlah mengada-adakan secara berlebihan. Jika kita punya harta yang cukup maka lakukan sedekah di dalam acara kematian, tetapi jika tidak punya dan bahkan hutang, maka sedekahnya tidak diterima oleh Allah. Tidak sah. Bagi yang tidak memiliki harta yang cukup seharusnya justru menerima bantuan biaya kematian dan bukan sebaliknya memberikan sedekah yang berlebihan. Apa yang kita punya yang kita sajikan dan bukan mengada-adakah. Jangan sampai keinginan untuk dielu-elukan orang, lalu melupakan makna sedekah yang berdimensi kesederhanaan.
Allah tidak suka atas amal yang berupa sedekah dan sebagainya yang berlebihan. Lakukan amalan shalihan sesuai dengan anjuran Rasulullah sesuai dengan ajaran Islam yang diturunkan oleh Allah SWT kepada kita semua.
Wallahu a’lam bi al shawab.

