(Sumber : Istock)

Cerita Door to Door Menjemput Anak-anak ke Sekolah

Informasi

Oleh: Eva Putriya Hasanah

  

Berawal dari keresahan saat melihat banyak anak jalanan yang tidak berangkat di Surabaya, Enda Sulistiawati, seorang gadis asal Gresik mulai memodifikasi banyak hal tentang anak-anak jalanan di dalam pikirannya. "Di mana orang tuanya?" dan "Mengapa mereka tidak menyekolahkan anaknya?"

  

Endah yang saat itu masih menempuh pendidikan di bangku kuliah, memutuskan untuk mencari jawaban atas pertanyaannya dengan menjadi relawan pengajar dalam organisasi di kampusnya yang saat itu memiliki program mengajar di kampung binaan mereka.

  

Dalam perjalanannya itu, ia semakin menemukan fakta-fakta baru terkait dengan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan. Ia merasa bahwa masih banyak anak-anak yang tidak mendapatkan hak untuk belajar padahal daerah tersebut berada di sekitar kampus-kampus besar Surabaya. Di sisi lain, Endah merasa perlu memberikan penanganan yang tepat guna, sebab menurutnya anak-anak tersebut memiliki kondisi yang cukup beragam sehingga kebutuhannya juga berbeda.

  

Di tahun 2017, Endah bersama tiga orang temannya memunculkan gagasan untuk membuat sebuah komunitas yang kini dikenal dengan nama Sahabat Belajar. Fokus dari komunitas ini adalah membantu dan menunjang fasilitas pendidikan, yang meliputi tiga hal yakni pertama, menyediakan jasa pengajaran gratis baik secara komunal maupun privat, kedua, memberikan biaya pendidikan dan ketiga, menyediakan fasilitas perlengkapan sekolah seperti sragam, buku dan sepatu. 

  

Endah bercerita pada mulanya komunitas ini hanya memiliki dua anak binaan di daerah Keputih yang dijemput secara door to door untuk beasiswa. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan wajib, cukup diperoleh dari iuran relawan komunitas. Namun seiring berjalannya waktu, komunitas binaan anak terus bertambah dari beberapa daerah di Surabaya yakni daerah Pandegiling, Semolowaru, Kejawan Putih Tambak dan Keputih Tegal Timur Baru. Saat ini anak binaan komunitas Sahabat Belajar berjumlah 30 orang dengan tahapan umur yang berbeda-beda. Maka untuk memenuhi kebutuhan mereka, kini dana diperoleh dari donatur tetap maupun donasi yang digalang secara umum yang kemudian dialokasikan pada program-program pendidikan seperti membayar SPP bagi anak-anak di sekolah formal, menyediakan dan membayar pengiklan untuk sekolah privat, 

  

Sebenarnya di komunitas sahabat belajar ini kami tidak menuntut mereka untuk sekolah, sekolah dalam arti sekolah formal, ya. Jadi kami lihat dulu kebutuhan mereka itu apa karena di setiap orang itu kebutuhannya beda-beda. Bahkan di jenjang umurnya pun juga berbeda. Ada yang memang sudah lama tidak bersekolah, usianya terlanjur dewasa yaitu usia lima belas tahun. Kalau mau sekolah formal lagi itu jelas tidak bisa apalagi mau sekolah negeri kan. Jadi yaudah yang kami pilih adalah ujian kejar paket, kami ikutkan ujian kesetaraan. Kemudian untuk Anak yang memang usianya masih kecil yaitu tujuh tahun dan memungkinkan untuk sekolah negeri, kami akan daftarkan. Lalu ada juga Anak yang sudah tidak mau sekolah lagi kak, dia maunya bekerja gitu, yaudah kami berikan fasilitas berupa pelatihan kerja. Jadi disesuaikan dengan kebutuhan mereka. 

  

Ekonomi dan Pendidikan

  

Pendidikan dan ekonomi merupakan dua aspek yang memiliki hubungan satu dengan yang lain. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia menunjukkan bahwa angka putus sekolah terus mengalami kenaikan di tahun terakhir. memperlihatkan bahwa persoalan pendidikan di Indonesia masih menjadi masalah yang belum juga selesai. Salah satu faktor penyebab dari tingginya angka putus sekolah adalah tingkat perekonomian masyarakat yang rendah. Diperparah dengan kondisi pandemi Covid 19 tahun 2020 lalu, Kementerian Sosial RI mencatat 30 ribu anak di Indonesia kehilangan orang tua sehingga setengah dari jumlah tersebut menjadi anak yatim dan harus sekolah. Padahal dua hal tersebut, ekonomi dan pendidikan memiliki ketergantungan untuk memperbaiki satu dengan yang lain.

  

Senada dengan itu, Endah juga menceritakan temuannya di lapangan bahwa hampir semua penyebab anak-anak yang tidak bersekolah adalah faktor ketidaktersediaan biaya. Maka orang tua lebih suka memberi tahu anaknya bermain dan kemudian mereka bekerja sebagai pengamen, pemulung, pemilah sampah, penjual koran, dan asisten rumah tangga. Di samping itu, pendidikan orang tua yang rendah juga berdampak pada pemahamannya terhadap pentingnya pendidikan. Meski telah menyediakan program untuk pendidikan, namun sebagian orang tua dari anak binaan Sahabat Belajar tidak memberikan dukungan sepenuhnya kepada anak-anak mereka naik melainkan lebih memilih untuk memintanya langsung bekerja. Hal inilah yang kemudian menjadi tantangan yang sering ditemui oleh Endah dan teman-temannya.

  

Jujur kami itu merasa sedih dan kecewa karena memang kelihatannya menyekolahkan anak-anak itu mudah, gitu ya. Kita hanya sekedar mengumpulkan uang lalu mendaftarkan sekolah mereka, selesai. Ternyata tidak kak. Jadi ada banyak sekali hambatan-hambatan yang harus kita lalui. Dan salah satu faktor yang menurut saya sangat mempengaruhi keberhasilan ini adalah dari keluarga. Jadi banyak sekali keluarga yang tidak paham tentang pentingnya pendidikan. Mereka merasa bahwa yang penting adalah bekerja karena bekerja itu menghasilkan uang. Karena kalau dikaitkan dengan kondisi ekonomi saat ini mereka juga sedang melemah gitu ya sehingga mereka berharap kalau anak-anak mereka itu bisa membantu perekonomian keluarga dengan cara langsung bekerja agar bisa menghasilkan uang, bisa menghidupi kehidupan saat ini begitu.

  

Endah dan teman-temannya yang tergabung dalam komunitas Sahabat Belajar hanya ingin mencapai satu tujuan yakni agar anak-anak binaannya bisa mendapatkan haknya untuk memperoleh pendidikan dengan layak, menerapkan ilmu yang mereka dapatkan untuk kesuksesan dirinya dan bermanfaat untuk sekitar. 

  

Pihaknya akan terus berupaya untuk tetap menghidupkan komunitas ini hingga sekarang dan nanti. Kini meraka memiliki tim penggerak 15 orang yang terdiri dari pembina dan pengurus inti. Di sisi lain komunitas ini juga berkolaborasi dengan perkumpulan mahasiswa dari berbagai kampus. Sehingga pembelajaran komunal dilakukan oleh mahasiswa. Endah juga mempertegas bahwa komunitasnya membuka pintu bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi baik dengan cara menjadi donatur maupun menjadi sukarelawan.