Dakwah Sunan Ampel : Mulai Dari Alam, Budaya, Hingga Tepis Wiring
InformasiBelum lama Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Ampel Surabaya melaunching sebuah karya buku berjudul Madzhab Dakwah Wasathiyah Sunan Ampel sebagai bentuk persembahan di usia emas yang ke-50 tahun, (26/03/2021).
Selain untuk menyebarkan paham ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, terbitnya buku ini bertujuan untuk melihat dan mengenal lebih dekat kiprah kanjeng Sunan Ampel dengan harapan dapat mengedukasi dan menginspirasi generasi muda untuk terus berdakwah. Seperti yang disampaikan perwakilan tim peneliti sekaligus penyusunan buku, di awal presentasi Prihanato mengatakan, seperti apapun dan siapapun harus terus berdakwah.
"Jangan berhenti diwacana, tapi dengan tindakan. Apapun profesi kita harus semangat terus berdakwah," imbuhnya.
Dalam hasil temuan dan analisis tim peneliti dijelaskan bahwa Sunan Ampel menggunakan dua konsep dalam menyebarkan ajaran agama Islam di bumi nusantara, yaitu kosmologi dakwah dan akulturasi.
Kosmologi Dakwah dan Akulturasi
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Prihananto mewakili tim peneliti dan penyusunan buku berdasarkan hasil analisis dan temuan mengatakan, Sunan Ampel menyebarkan agama Islam dengan melalui dua konsep, yaitu kosmologi dakwah dan akulturasi. Kosmologi dakwah merupakan sebuah konsep dalam menyebarkan agama Islam yang selalu mengimbangi antara alam dan budaya.
"Contohnya masjid dan sumur yang menjadi pendekatan dakwah yang utama para wali. Ada juga makam, pesantren, dan pitutur luhur. Pitutur luhur yang dimaksud disini yaitu adanya dialektika antara budaya lokal dan Islam. Terjadi pembumian ajaran Islam," ucapnya.
Adapun konsep kedua yang digunakan oleh Sunan Ampel dalam menyebarkan agama Islam yaitu akulturasi. Demikian yang dikatakan oleh Prihananto, ia mengatakan bahwa akulturasi juga menjadi konsep yang digunakan oleh Sunan Ampel dalam berdakwah. Salah satunya yaitu konsep Angajawi. Angajawi merupakan kerangka strategi transfer ide dan pengetahuan global yang bersumber dari ulama dan ahlu al-Jawi yang disalurkan ke seluruh bagian lain dari dunia.
"Sehingga hal ini dibuktikan oleh Sunan Ampel ketika ditanya seorang ulama Arab. Syekh Sarifudin "Wong pundi tuwan?". Sunan Ampel menjawab, "Hamba wong Jawi. Demikian terdapat kata Ngajawi di beberapa referensi, yang bertuliskan, Nyenyunari niskara sesining bumi, kang nyata lan kang samar. Pon duriyating Rasululullah kang badhe mencar ngajawi. Pan punika, wiwitane wang ajawi, milane gami Slam," ujarnya.
Pola Dakwah Tepis Wiring
Selain memiliki konsep berdakwah yang selalu mengimbangi antara budaya lokal dan Islam. Berdasarkan slide presentasi Prihananto juga dijelaskan bahwa Sunan Ampel memiliki peta dan pola jalan tersendiri dalam melakukan penyebaran agama Islam. Sunan Ampel dinyatakan memulai dakwahnya dari pinggir. Hal ini sebagaimana filsafat makan bubur dari pinggir ke tengah untuk hasil yang maksimal. Selain itu, berdakwah dari bawah ke atas atau bottom-up. Dimana peta dan pola ini yang kerap disebut Tepis Wiring.
"Sunan Ampel berdakwah dengan memberdayakan masyarakat sekitar Sunan Ampel Denta. Baru kemudian berdakwah keluar komunitas tersebut," tuturnya.
Hingga dari hasil penelitian dan analisis tim peneliti dan penyusunan buku berjudul Madzhab Dakwah Wasathiyah Sunan Ampel dinyatakan, dakwah Sunan Ampel merupakan corak dakwah wasathiyah. Seperti yang disampaikan Prihananto mewakili tim peneliti dan penyusunan buku menyampaikan bahwa dakwah Sunan Ampel adalah dakwah wasathiyah dengan kepekaan yang adaptif terhadap budaya lokal.
"Hal ini tercermin melalui 9 sikap dan amaliyah. Pertama, tawasuth yang artinya mengambil jalan tengah atau adil. Kedua, tawazun yang artinya berkesinambungan. Ketiga, i'tidal yang artinya lurus dan tegas. Keempat, tasamuh yang artinya toleransi. Kelima, musawah yang artinya egaliter. Keenam, syura yang artinya demokratis. Ketujuh, islah yang artinya reformatif. Kedelapan, aulawiyah yang artinya prioritas. Dan kesembilan, tathowur wa ibtikar yang artinya dinamis dan inovatif," pungkasnya.(Nin)

