Era Baru Manajemen PTKI: Perlu Birokrasi Lincah (3)
OpiniDi era yang perubahan berjalan sangat cepat, maka institusi atau birokrasi memerlukan kecepatan dan kelincahan agar bisa mengimbangi atau mengadaptasi perubahan demi perubahan tersebut. Perusahaan-perusahaan di Korea Selatan berkembang dengan cepat dan mampu menguasai pasar dunia, misalnya produk Samsung (baca hand phone), di antaranya disebabkan oleh kecepatan mengadaptasi perubahan dan prediksi yang tepat di masa depan. Di kala Nokia menguasai pasar dunia, maka para manajernya lupa bahwa teknologi android akan sedemikian digdaya. Ketika para direksinya ditawari aplikasi ini, mereka menolaknya, dan gilirannya Samsung yang memutuskan untuk menerimanya, dan akhirnya keputusan tersebut menjadi pilihan yang tepat dan benar. Samsung merajai pasar dunia di dalam bidang ini.
Ilustrasi ini menggambarkan bahwa seorang menejer dan pemimpin institusi yang cepat menerima dan mengembangkan inovasi, maka dialah juga yang akan menguasai terhadap posisi institusi yang setara dengannya. Saya sungguh berharap bahwa para pimpinan PTKI merupakan sosok yang terus berpikir dan berupaya untuk melakukan perubahan sekecil apapun perubahan tersebut. Ibaratnya, jangan duduk terlalu lama, sebab ketika kita berada di zona nyaman, disimbolkan dengan duduk, maka kita lupa berdiri, padahal banyak hal yang harus dilakukan dengan berdiri dan melangkahkan kaki. Kita tidak bisa menunggu durian runtuh, tetapi berupaya agar bisa memanjat dan menemukan durian yang siap untuk disantap.
Birokrasi yang cepat tanggap merupakan harapan kita semua. Dan kecepatan tanggap dihasilkan dari berpikir melalui kemampuan komunikasi dan kolaborasi. Tidak ada seseorang yang bisa menguasai seluruh persoalan, tetapi melalui komunikasi dan kolaborasi maka akan didapatkan solusi yang tepat untuk setiap masalah untuk menjawab tantangan masa depan. Jadi, kerja sama merupakan salah satu cara untuk menggerakkan yang lamban agar menjadi cepat sehingga bisa berseirama dengan lainnya, tetapi juga mengerem yang terlalu cepat agar juga seirama dengan lainnya. Pimpinan adalah seorang dirijen yang menyelaraskan berbagai bunyi alat music untuk menjadi nyanyian yang enak dan nyaman didengar. Pimpinan merupakan nakhoda yang bisa mengantarkan kapalnya ke pantai tujuan. Harus kukuh dan tahu arah sehingga tidak mudah diombang-ambingkan oleh ombak yang besar sekalipun.
Birokrasi PTKIN juga harus bergerak cepat dengan target yang jelas. Misalnya dalam manajemen kelembagaan, baik akademis maupun non akademis. Secara kurikuler, bahwa harus terdapat konvergensi antara pendidikan/pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Konvergensi ini hanya akan berjalan jika seluruh kelembagaan pendidikan/pengajaran, riset dan pengabdian masyarakat dapat bekerja sama. Perlu rekonstruksi kurikulum agar bisa berseirama dengan tuntutan perubahan Era Revolusi Industri 4.0 yang diterjemahkan sebagai kampus merdeka atau merdeka belajar. Tuntutan mahasiswa, orang tua mahasiswa dan stakeholder lainnya akan keterkaitan dengan kebutuhannya juga pasti mengedepan. Makanya para pimpinan PTKIN harus meresponnya dengan rekonstruksi kurikulum.
Mengenai kelembagaan penelitian dan pengabdian masyarakat, kiranya perlu direkonstruksi dengan perubahan struktur. Bukan dengan konsep lembaga, pusat dan kelompok, akan tetapi memilah kewenangannya dengan lembaga di tingkat institusi, lalu pusat di tingkat institusi dan pusat di bawah Fakultas. Di dalam konteks ini, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat: mewadahi semua penelitian, kajian dan pengabdian kepada masyarakat yang bercorak lintas fakultas/prodi.
Pusat kajian di tingkat institusi: mewadahi segala riset dan kajian yang bercorak lintas fakultas/prodi (interdiscipliner, crossdiscipliner, multidiscipliner dan transdiscipliner)
Pusat Pengabdian Masyarakat: mewadahi segala pengabdian yang bercorak lintas Fakultas/prodi (interdiscipliner, crossdiscipliner, multidiscipliner dan transdiscipliner)
Pusat kajian di tingkat fakultas: mewadahi semua corak implementasi keilmuan yang bercorak monodisipliner.
Sesungguhnya, para pimpinan PTKIN sudah memiliki sejumlah upaya, namun demikian saya kira perlu sekali lagi untuk merefresh dengan terus berupaya memperkuat akreditasi nasional maupun internasional, 1) Bagi yang sudah terakreditasi A, maka diharapkan bisa lanjut ke akreditasi internasional, 2) Perlu dibikin roadmap penguatan akreditasi, 3) Perlu dibikin roadmap untuk penataan jurnal, HAKI, dan Patent. 4) Perlu penguatan kelembagaan melalui berbagai instrument penguatan kompetisi akademis maupun nonakademis baik regional, nasional maupun internasional. 5) Perlu penguatan kerjasama dengan intitusi lain baik lembaga pendidikan tinggi maupun lembaga nonpendidikan tinggi. Kerja sama ini sungguh diperlukan seirama dengan kepentingan menjemput Kampus Merdeka dan Belajar Merdeka.
Dengan demikian, pimpinan PTKIN dapat mengembangkan lembaga-lembaga baru sambil melakukan pemetaan, mana lembaga yang sudah ada yang masih fungsional dan mana yang sudah tidak fungsional. Semua ini dilakukan semata-mata untuk menyongsong era baru tata kelola di tengah nuansa kompetensi dan kompetisi yang semakin ketat di era disruptif yang tak terelakkan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

