Ilmu Sebagai Aset Kehidupan
HorizonBerbahagialah orang yang bisa mengajarkan ilmunya atau ada orang lain yang bisa memanfaatkan ilmunya. Bagi saya, tidak hanya mengajar atau mendidik saja yang bisa dikaitkan dengan memanfaatkan ilmu, tetapi di kala orang lain ada yang bisa mengambil manfaat dari ilmu yang dimiliki, maka selama itu bisa dinyatakan sebagai proses transformasi ilmu. Makanya, ada transformasi ilmu yang bersifat langsung, seperti mengajar, dan ada yang tidak langsung, seperti pemanfaatan ilmu oleh orang lain. Di dalam konteks ini, maka mengajar tidak selalu harus secara langsung, akan tetapi bisa saja yang bercorak tidak langsung.
Banyak orang yang memiliki sejumlah pengetahuan, akan tetapi tidak mampu mengajarkannya kepada orang lain, namun ada juga orang yang hanya memiliki ilmu sedikit, akan tetapi mampu diajarkannya kepada orang lain. Sedikit atau banyak ilmu pengetahuan, sesungguhnya bukan ukuran bermanfaat atau tidak sebab yang terpenting adalah ilmu tersebut berkaitan dengan manfaat yang bisa diterima oleh orang lain. Kemanfaatan itu juga bukan berbasis pada proses transformasi secara langsung tetapi juga tidak langsung. Bahkan juga tidak harus dengan proses transformasi melalui lesan, akan tetapi bisa saja berbentuk kemanfaatan ilmu dimaksud.
Saya termasuk orang yang memahami bahwa ilmu itu akan dilihat dari kemanfaatannya dan bukan hanya dari prosesnya. Produk yang dihasilkan dan bermanfaat bagi manusia lain merupakan bagian dari ilmu yang bermanfaat. Jadi kemanfaatan tersebut harus dilihat dari apa yang dirasakan oleh orang lain dan bisa menjadi instrument bagi kemanfaatan kehidupan. Dengan demikian, tidak hanya ilmu agama saja yang bermanfaat, akan tetapi juga ilmu lain yang bisa mendatangkan kemanfaatan bagi orang lain. Melalui pemahaman seperti ini, maka semua ilmu yang diberikan Allah SWT kepada manusia selalu memiliki kemanfaatan.
Memang ada problem teologis tentang ilmu bermanfaat ini. Misalnya Thomas Alfa Edison, yang menghasilkan listrik. Thomas Edison ini, semula dianggap anak yang idiot, sebab tidak bisa mengikuti model pembelajaran kelas sebagaimana murid lainnya. Lalu orang tuanya dipanggil ke sekolah untuk diberitahu bahwa dengan sangat terpaksa anaknya akan dikeluarkan. Maka ketika Ibunya Thomas Edison menyampaikan kepada anaknya, bukan dengan kata: “Engkau dikeluarkan dari sekolah karena bodoh, akan tetapi engkau dikeluarkan dari sekolah karena engkau sangat pintar dan sekolah tidak sanggup mengajarimu”. Thomas Edison lalu belajar bersama ibunya dan kemudian dilengkapi segala kebutuhannya. Maka dalam usia 18 tahun, Edison telah memiliki laboratorium tersendiri dan akhirnya menemukan listrik. Secara kasat mata, maka ilmunya sangat bermanfaat dan menjadi awal bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Misalnya lahirnya era Revolusi Industri 3.0 dan 4.0. Bahkan perkembangan artificial intelligent yang sekarang tentu disebabkan oleh temuan Edison ini. Namun secara teologis, hanya Allah SWT saja yang menentukannya.
Di dalam konsepsi Islam, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mendatangkan kemaslahatan bagi diri dan masyarakat. Ilmu yang dapat menjadi fondasi bagi kebaikan perilaku. Jika ilmu yang dimiliki kemudian bisa menginspirasi perbuatan baik, maka ini merupakan pertanda ilmu yang bermanfaat. Di dalam konteks ini, baik disampaikan ataupun tidak disampaikan namun dengan ilmu tersebut dapat menjadi penyebab bagi kebaikan perilaku, maka ilmu tersebut merupakan ilmu yang bermanfaat. Pandangan ini agak berbeda dengan pandangan bahwa ilmu itu harus disampaikan terutama melalui pengajaran. Misalnya para guru, dosen atau ustadz yang mengajar dan ilmu yang ditransformasikan tersebut menjadi penyebab atas kebaikan prilaku, barulah ilmu tersebut dianggap bermanfaat.
Saya menggunakan pemahaman yang lebih luas di dalam konteks ilmu bermanfaat. Bagi saya bahwa semua ilmu datang dari Allah SWT dan jika ilmu tersebut dapat menginspirasi kebaikan perilaku, maka pastilah ilmu tersebut bermanfaat. Baik ilmu agama, ilmu sosial, humaniora, serta sains dan teknologi yang bisa menginspirasi terhadap perbuatan baik, maka ilmu tersebut merupakan ilmu yang bermanfaat.
Ilmu yang menjadi fondasi kebaikan perilaku inilah yang akan berterusan pahalanya hingga yaum al qiyamah bahkan di alam baka. Jika yang lain akan terputus ketika manusia wafat, maka ilmu yang bermanfaat tidak akan terputus pahalanya. Hal ini sesuai dengan Sabda Nabi Muhammad SAW: “idza matabnu ‘Adama inqata’a ‘amaluhu illa min tsalatsin: shadaqatin jariyatin, auw ‘ilmin yuntafa’u bihi auw waladin shalihin yad’u lahu”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Yang artinya kurang lebih: “jika mati anak Adam, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara, yaitu: sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shaleh yang mendoakannya”.
Berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW ini, maka ilmu yang bisa menjadi pedoman, inspirasi, penyebab dan basis bagi tindakan atau perilaku kebaikan, maka ilmu tersebut dapat dinyatakan sebagai ilmu yang bermanfaat. Kehidupan ini tidak panjang, oleh karena itu sebaiknya kita berlomba untuk memiliki ilmu yang bermanfaat dan melalui ilmu tersebut akan menjadi asset atau ladang keridlaan Allah SWT.
Untuk guru-guru kita, baik langsung maupun tidak langsung sepantasnya kita membaca: Lahum alfatihah”.
Wallahu a’lam bi al shawab.

