Dari Sosok Gus Sholah Temui Wajah Indonesia
InformasiSosok KH Salahuddin Wahid atau yang disebut Gus Sholah dapat menjadi panutan akan kegigihannya dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Tak hanya itu, Gus Sholah juga merupakan sosok cerminan demokrasi Indonesia yang sesungguhnya. Bahkan darinya dapat belajar tentang cara berbangsa dan bermasyarakat sesuai dengan ajaran agama Islam yang ramah dan toleran.
Dalam peringatan Haul ke 2 Gus Sholah yang bertema 'Belajar Integritas Dan Kejujuran Dari Gus Sholah', Irfan Asyari Sudirman Wahid atau yang kerap dikenal Gus Ipang Wahid mewakili keluarga menyampaikan, cukup banyak sekali hal-hal yang berkaitan dengan Gus Sholah yang membuatnya takjub. Demikian banyak teladan dan nasehat yang dapat diamalkan. Terutama tentang keikhlasan, integritas, dan kejujuran Gus Sholah.
"Dari sisi sikap, perilaku, dan amalan bisa jadi teladan. Tetapi tentang kegigihan beliau dalam mencapai suatu tujuan menjadi suatu hal yang sangat luar biasa. Jika sudah punya keinginan. Beliau ya maju saja. Tanpa perhitungan apapun. Beliau (Gus Sholah) selama ini adalah kebaikan sudah dijalankan saja. Mau itu untung dan rugi, dijalankan begitu saja," ucapnya dalam tayangan live streaming kanal Youtube Tebuireng Official, (04/02).
Gus Ipang kembali menyampaikan bahwa juga banyak sekali ide-ide peninggalannya yang menjadi bukti akan kegigihan dan integritas untuk menebarkan kebaikan seluas mungkin yakni membuka cabang-cabang Pondok Tebuireng.
"Beliau (Gus Sholah) menyampaikan bahwa pada intinya membuka cabang-cabang untuk meluaskan syiar. Yang namanya syiar itu jangan ada batasan. Paham Ahlu Sunnah Wal Jamaah itu diperluas. Menjadi mudah nanti dalam menyampaikan apa-apa yang kita anut kepada masyarakat," jelasnya.
Berprinsip Teguh Aswaja
Demikian ada empat nasehat dan pesan Gus Sholah dalam beberapa kesempatan yang dapat dipetik menjadi sebuah pembelajaran untuk diamalkan, yaitu tentang empat prinsip Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Ridwan Kamil Gubernur Jawa Barat menyampaikan bahwa nasehat dan pesan tersebut, yaitu pertama tawasuth. Ia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tawasuth adalah Islam Wasathiyah, yaitu Islam yang berhaluan tengah dan ramah dalam hal apapun.
"Sebenarnya itu nasehat yang datang dari Gus Sholah. Yang secara diam-diam saya amalkan dalam setiap pengambilan keputusan," ucap Ridwan Kamil.
Baca Juga : Membaca Fenomena Khilafah di Twitter
Nasehat kedua Gus Sholah adalah harus berdiri tegak lurus atau yang disebut 'itidal yang berarti bersikap adil. Ridwan menyampaikan bahwa bersikap adil adalah menjugjung keadilan untuk membela kaum yang lemah. Sementara yang ketiga, kata Ridwan, yaitu tawazzun. Tawazzun yang dimaksud adalah adanya keseimbangan antara ikhtiar dan do'a, dunia dan akhirat, kerja dan keluarga.
"Itu adalah nilai-nilai aswaja yang menjadi nasehat," ujarnya.
Terakhir nasehat dari Gus Sholah, yaitu tasamuh yang dimaksud adalah Islam toleran. Ridwan menyampaikan bahwa Islam toleran yang disampaikan Gus Sholah adalah sebuah sikap Islam yang menjungjung tinggi nilai persaudaraan dan kemanusiaan.
"Kalau kita tidak bisa bersaudara dalam keimanan. Kita bisa bersaudara dalam kebangsaan. Kalau pun kita tidak bisa bersaudara dalam keimanan dan kebangsaan kita bisa bersaudara dalam kemanusiaan. Keempat nasehat ini Inshaallah akan menjadi panduan saya dalam mengamalkan pengambilan keputusan," ucapnya.
Berbudi Luhur dan Berprikemanusiaan
Dalam kesempatan yang sama Haul ke 2 Gus Sholah, Najwa Shihab Founder Narasi Tv pun mengatakan bahwa dari Gus Sholah dapat belajar tentang banyak hal. Pertama, belajar tentang betapa perbedaan adalah suatu hal yang normal bukan alasan untuk memutus tali persaudaraan.
"Berkali-kali Gus Sholah dan Gus Dur berpolemik di media massa soal berbagai hal, yaitu mulai dari posisi Ayahanda KH Wahid Hasyim, antara agama dan negara, dan budaya politik di Nahdlatul Ulama. Keduanya bahkan mendirikan partai berbeda," ungkap Najwa.
"Saya ingat momen ketika Gus Sholah melepas jenazah Gus Dur sangat jelas terlihat rasa cinta dan kehilangan yang mendalam. Itu adalah sebuah tanda bahwa perbedaan tak pernah menjadi alasan memutus persaudaraan antara mereka," tambahnya.
Kedua dapat belajar dari Gus Sholah bahwa kemenangan dan kekalahan merupakan hal yang biasa dalam demokrasi. Najwa menjelaskan bahwa dapat diketahui Gus Sholah pernah dua kali maju dalam pemilihan, yaitu tahun 2004 maju sebagai wakil presiden dan tahun 2015 maju sebagai ketua umum PBNU yang akhirnya tidak terpilih.
"Kita tahu dan semua masih teringat tidak ada kemarahan yang berlebihan dan amik yang tidak masuk akal dari Gus Sholah. Beliau adalah teladan dalam demokrasi," tegasnya.
Terakhir Najwa menyampaikan bahwa dari Gus Sholah juga dapat mengambil pelajaran tentang kapan saatnya berhenti untuk kembali pulang ke habitat asli setelah menempuh lika-liku perjalanan hidup. Gus Sholah dari aktivis mahasiswa menjadi konsultan, pengusaha konstruksi, penulis, cendekiawan, politikus, tokoh nasional, dan akhirnya pulang ke Jombang mengasuh pondok pesantren Tebuireng.
"Saat banyak dari kita tidak tahu kapan harus berhenti. Dan masih banyak dari kita yang terus ambisius dan rakus mengejar banyak hal. Tapi Gus Sholah tahu kapan saatnya harus berhenti. Dan di perhentiaan itulah Gus Sholah menemui Sang Khaliq. Wafat yang inshaallah dalam keadaan husnul khotimah. Al-Fatihah," pungkasnya. (Nin)

