Ekoteologi dalam Perbincangan Yayasan Damar Harapan Madani
InformasiProf. Dr. Nur Syam, M.Si
Hari Ahad seharusnya saya akan pulang ke Tuban, karena saya harus menunaikan tugas untuk merawat makam orang tua saya yang sudah wafat. Keduanya sudah meninggal. Tetapi keinginan tersebut harus ditunda karena saya diundang oleh Yayasan Damar Harapan Madani dari Kecamatan Dawarblandong, Mojokerto untuk berdiskusi tentang ekoteologi. Saya langsung tertantang untuk datang pada saat diberitahu oleh Eva Putriya Hasanah, salah seorang pengurus yayasan ini, selain sebagai kru di nursyamcentre.com.
Acara ini diselenggarakan di Balai Kecamatan Dawarblandong Mojokerto, 15/03/2026, yang diikuti oleh sejumlah organisasi, seperti Muslimat, Fatayat, Anshor, Banser, dan sejumlah kyai dan pemuda, serta siswa SMP/MTs dan SMA/MA/SMK se Kecamatan Dawarblandong. Hadir juga Sekretaris Kecamatan, Agus Supriyanto, S.Sos, S.IP., MM, Danramil, Kapolsek, Dr. Imron Rosyadi, Drs, SH, MH, Ketua STIT Raden Wijaya, Ketua Yayasan Damar Harapan Madani, Sunadi, SP., Eva Putriya Hasanah, dan jajaran pengurus Yayasan.
Ada tiga hal yang saya sampaikan di dalam acara ini, yaitu: pertama, saya mengapresiasi setinggi-tingginya atas upaya yang luar biasa dalam membahas tentang ekoteologi, yang sekarang sedang menjadi trending topik di Indonesia bahkan di dunia. Jarang ada komunitas yang berada di tingkat pinggiran kota berdiskusi mengenai ekoteologi. Pemikiran yang sangat maju tidak harus datang dari kaum elit di perkotaan, tetapi juga hadir pada masyarakat yang sudah merasakan secara langsung atas masalah lingkungan, misalnya sampah. Upaya seperti ini seharusnya menjadi agenda komunitas, Yayasan atau Lembaga-lembaga yang mengusung tema-tema pemberdayaan atau pemberdayaan masyarakat. Saat ini tema yang menarik adalah mengenai lingkungan.
Kedua, tema ekoteologi sangat relevan dengan situasi nasional dan dunia dewasa ini. Konsep yang digagas oleh Prof. Nasaruddin Umar, MA., Menag., memiliki relevansi dengan realitas sosial alam yang terjadi pada orang dewasa ini. Ekoteologi menjadi sangat mendesak di tengah kerusakan lingkungan yang dahsyat. Dan peristiwa terakhir terkait dengan banjir bandang, tanah longsor, dan kerusakan lingkungan hutan, pencemaran udara laut dan juga sungai dan sebagainya tentu menjadi pengingat bagi kita semua bahwa ada yang salah di dalam cara kita bersahabat dengan alam. Ada ketimpangan dalam hubungan sosial kita dengan manusia dan hubungan terhadap alam.
Nabi Muhammad SAW sesuai dengan ayat Alqur'an sudah diperingatkan bahwa kerusakan di bumi dan lautan disebabkan oleh perilaku manusia. Dhaharal fasadu fil barri wal bahri bima kasabat aidin nas. Ini faktanya sedang telanjang di hadapan kita. Banjir di wilayah Sumatera, di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat membuka mata kita bahwa perusakan lingkungan yang dilakukan oleh para pengusaha menimbulkan dampak yang sangat negatif bagi manusia. Ada sebanyak 1184 orang yang meninggal, betapa banyak yang kehilangan rumah, kehilangan sawah, ladang dan perkebunan dan sebagainya. Semua menjadi merugikan disebabkan oleh perusakan lingkungan dengan dalih ekonomi.
Perusahaan-perusahaan yang mendapat ijin atau penebangan liar telah memanfaatkan hutan sebagai proyek ekonomi, tanpa mempedulikan dampak sosialnya telah menjadikan kehidupan manusia menjadi sangat sengsara. Seharusnya mereka bekerja berdasarkan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL), tetapi semua menutup mata bahkan mata gelap hanya mengejar keuntungan tanpa melihat penderitaan yang dirasakan masyarakat. Diakhirinya makna penting cubitan Tuhan terkait dengan perilaku ekologi manusia yang tidak memiliki kesadaran.
Ketiga, diperlukan harakah atau gerakan merawat bumi sebagai amanat Iman. Tema yang diusung oleh Yayasan Damar Harapan Madani, saya kira sangat baik. Kita tidak hanya melakukan halaqah tetapi berharakah. Perlu sebuah gerakan untuk melakukan literasi ekoteologis. Menjaga alam melalui kesadaran bahwa hal tersebut adalah amanah Ilahi.
Jika kita tetap memperlakukan alam sebagai obyek atau komoditas untuk proyek ekonomi, maka alam akan menjadi rusak. Jika alam rusak maka akibatnya akan diderita oleh manusia di dalam lingkungan alam tersebut. Manusia harus berpikir bahwa alam dan manusia adalah sesama subyek, sesama ciptaan Tuhan, sesama pelaku untuk menyejahterakan hidup secara bersama-sama. Janganlah kita merusak alam agar alam tidak melakukan tindakan balasan atas kehidupan kita. Karena kita menggunduli hutan, maka akibatnya terjadi banjir besar yang tidak lagi mampu ditahan oleh manusia.
Makna menyayangi yang di bumi akan disayangi yang di atas adalah menyayangi manusia dan alam. Bukan hanya menyayangi manusia saja. Hadits Nabi Muhammad SAW: “irhamu man fil ardl yarhamukum man fis sama', arti harafiyahnya adalah bumi yang harus disayang, akan tetapi makna terdalamnya adalah manusia dan bumi atau alam. Jika kita menyayangi yang di bumi atau manusia dan alam, maka yang di langit atau malaikat dan khususnya Allah SWT akan mencintai kita semua.
Sesungguhnya teks Alquran dan hadits Nabi Muhammad SAW telah memberikan pedoman kepada manusia agar menjaga keseimbangan. Hukum alam itu sebenarnya menekan keseimbangan. Manusia memiliki perilaku yang seimbang dalam harmoni dengan alam. Jangan sampai manusia merasa menjadi penguasa dan alam sebagai bawahannya. Penguasa dapat melakukan apa saja terhadap bawahannya. Jika kita melakukan hal ini, maka tunggulah saat kehancurannya. Fantadziris sa'ah.
Wallahu a'lam bi shawab.

