Bukber Ala Pedesaan
OpiniBukber atau berbuka bersama, selama ini dikenal sebagai prilaku orang perkotaan kelas menengah, yang diselenggarakan di hotel, rumah makan atau caffee yang representative. Saya menyebutnya sebagai fenomena perkotaan kelas menengah. Penyelenggaranya bisa organisasi social keagamaan, organisasi profesi dan juga birokrasi. Bisa juga communitas perkawanan yang sekarang menjamur di perkotaan.
Sebagai orang kota, bukber ini dengan jenis makanan yang terdiri dari aneka ragam makanan ala Timur atau Barat. Misalnya nasi goreng, tomyam, steak, ramen, sushi, chicken naget, kentang goreng keju, asparagus soup, mungkin juga ada nasi kebuli atau nasi mandi, bahkan rawon dan soto khas. Mungkin tidak ada gule, ayam lodho, ayam kare dan sambal lalapan atau pecel. Gule, ayam lodho, kare, sambal lalapan dan pecel adalah makanan khas pedesaan yang selama ini juga sangat dikenal oleh masyarakat perkotaan.
Dimaklumi bahwa yang menjadi orang kota dewasa ini adalah orang desa yang bermigrasi di perkotaan. Jadi masih ada cita rasa pedesaan di dalam tradisi makan dan minumannya. Tetapi GenZ yang lahir dan besar di perkotaan rasanya sudah tidak banyak mengenal cita rasa makanan dan minuman pedesaan. Yang masih mengenal makanan pedesaan adalah generasi X atau generasi Baby Boomer.
Bukber sebenarnya kelanjutan dari tradisi slametan atau sedekah makanan ala pedesaan kemudian mendapat sentuhan baru. Secara substantif merupakan bentuk dari selamatan tetapi dikemas dengan tradisi modern. Jika slametan diselenggarakan di rumah atau masjid, maka bukber mendapat sentuhan baru seperti restoran dan hotel. Pesan substantifnya adalah kebersamaan atau silaturahmi, akan tetapi mendapat asesori baru melalui sentuhan budaya modern perkotaan.
Sampai hari ini, ikatan persahabatan saya dengan masyarakat pedesaan masih sangatlah kental. Hal ini tentu terkait dengan rumah saya di Tuban, yang pernah dihuni oleh orang tua saya. Jadi, saya harus pulang ke Tuban untuk kepentingan merawat rumah dan juga merawat makam keluarga. Bapak, Emak, Embah dan Buyut saya dikuburkan dalam satu kompleks di Makam Mbah Mbaqi, Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Merakurak, Tuban.
Pada malam 27 Bulan Ramadlan 1447 H., saya menyelenggarakan bukber di Langgar Raudlatul Jannah di depan rumah saya. Yang hadir adalah para jamaah yang selama ini selalu atau hampir setiap shalat Magrib, Isya dan Subuh berjamaan di sini. Baik jamaah lelaki maupun perempuan. Banyak yang hadir, kira-kira 40 orang. Membatalkan puasa dulu, shalat magrib dan barulah makan bareng.
Jenis makanannya tidak aneh-aneh. Memang khas pedesaan. Orang desa sangat nyaman makan gorengan. Maka jika bulan puasa banyak pedagang jajanan dadakan. Mereka menjual gorengan, seperti pisang goreng, ote-ote, tempe goreng, tahu isi goreng, sukun goreng, minuman es cendol atau es blewah, es kelapa muda, nagasari dan sebagainya. Inilah makanan pembuka bagi komunitas pedesaan. Makanan dan minuman full tradisional.
Pada acara bukber di langgar Raudlatul Jannah, menu makanan dan minuman juga tidak jauh dari cita rasa makanan pedesaan tradisional. Nasi gule sapi atau di sini disebut becek, minuman es buah dan makanan pembuka seperti nagasari, ote-ote, pisang goreng, sukun goreng, tempe goreng, donat dan buah semangka. Lalu ada juga makanan penyetan, ikan bandeng tanpa duri digoreng dan dipenyet dalam sambal pedas, ditambah dengan sayur lumbu. Makanan khas pedesaan yang menggugah selera. Sayur lumbu dengan nasi liwet plus ikan bandeng penyet dan bandeng botok terasa sebagai makanan yang Istimewa. Lahap sekali makannya.
Acara ini diberlakukan untuk kepentingan khatmil Qur’an selama Ramadan. Selain juga sebagai acara untuk kirim doa kepada leluhur dengan sedekah makanan. Acara makan bareng merupakan ekspresi atas dalil di dalam Hadits Nabi Muhammad SAW tentang afsyus salam, wa ath’imut tha’am, wa shilul arham. Islam itu memiliki ajaran yang lengkap yang sungguh penting untuk dicermati. Nabi Muhammad SAW dalam pidatonya yang pertama pada waktu datang di Madinah, Beliau menyatakan tentang pesan-pesan penting yang menjadi dasar di dalam relasi social.
Islam merupakan ajaran yang sangat lengkap terkait dengan etika social dalam relasi antar manusia. Orang Islam harus menyebarkan keselamatan, orang Islam harus memberi makan sebagai sedekah, dan orang Islam harus membangun tali persaudaraan dengan sesama manusia. Tiga ajaran ini adalah modal dasar di dalam kehidupan di dalam masyarakat.
Jika umat Islam dapat mengamalkan tiga ajaran ini, maka jarak social menjadi tidak perlu untuk dirisaukan, sebab ada instrument untuk menjaga kebersamaan. Di dalam kehidupan bermasyarakat, maka ketiadaan jarak social merupakan modal dasar untuk merajut keharmonisan. Tiada keharmonisan tanpa keselamatan, saling membantu dan membangun tali silaturrahmi yang penuh makna.
Wallahu a’lam bi al shawab.

