Menjaga Keselamatan Sebagai Inti Idul Fitri
OpiniKhutbah Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M
Di Masjid Baiturrahim Perum Wisma Kedung Asem Indah I Rungkut Surabaya
Assalamu alaikum Warahmatullahi wa barakatuh
ٱللَّهُ أَكْبَرُ، ٱللَّهُ أَكْبَرُ، ٱللَّهُ أَكْبَرُ
ٱللَّهُ أَكْبَرُ، ٱللَّهُ أَكْبَرُ، ٱللَّهُ أَكْبَرُ
ٱللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَٱلْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ ٱللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
لَا إِلَهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱللَّهُ أَكْبَرُ
ٱللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ ٱلْحَمْدُ
إِنَّ ٱلْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِٱللَّهِ مِن شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِن سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ ٱللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. ٱللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
فَأَيُّهَا ٱلْمُسْلِمُونَ رَحِمَكُمُ ٱللَّهُ
Baca Juga : Gaya Hidup Baru di Masa Pandemi
Saudara-saudara sekalian para jamaah shalat id rahimakumullah.
Ittaqullaha haqqa tuqatihi wa la tamutunna ill awa antum muslimun.
Pada hari ini kita semua menjalankan shalat idul fitri tahun 1447 Hijriyah sebagai penanda untuk mengakhiri perjalanan puasa kita selama satu bulan, bulan Ramadlan. Bulan yang di dalamnya banyak sekali keistimewaan dan penuh dengan pahala dan ampunan. Bulan yang dapat menjadi tangga untuk mencapai ketaqwaan kepada Allah SWT.
Di antara keistimewaan tersebut adalah dilipatgandakannya pahala bagi orang yang melakukan puasa dengan Ikhlas dan penuh dengan harapan untuk memperoleh ampunan dan kemudian mendapatkan keridlaan dari Allah SWT.
Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dinyatakan:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه
“مَنْ صَامَ” menunjukkan di kala umat Islam menjalankan puasa di siang hari, dan jika puasa itu dilakukan dengan kesabaran, keikhlasan dan kesyukuran kepada Allah, maka puasa akan dapat menjadi instrument untuk memperoleh pengampunan dari Allah SWT. Dan konsekuensi dari puasa yang sungguh-sungguh, maka tentu akan mendapatkan balasan yang lebih utama, yaitu memperoleh ridhanya Allah untuk masuk surga.
Di dalam matan lain disebut “مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ”
Baca Juga : Interaksi Pekerja Seks Perempuan Muslim dan Aktor Negara
Jika pada bulan Ramadlan kemudian malam harinya menjalankan qiyamul lail, yang berupa shalat tarawih dan witir dan menjalankan wiridan dengan istigfar, tahmid, tasbih, tahlil dan takbir, maka itulah yang dapat menjadi instrumen bagi keridaan Allah SWT.
“سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ”
Bardasarkan hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, maka setiap bagian dari tubuh kita itu ada sedekahnya. Rasulullah menyatakan dalam bahasa Indonesianya, bahwa setiap pagi ruas-ruas tulang kita ada sedekahnya. Setiap bacaan subhanallah adalah sedekah, setiap bacaan alhamdulillah adalah sedekah, setipa bacaan lailaha illallah adalah sedekah dan setiap bacaan Allahu Akbar adalah sedekah. Oleh karena itu agar dapat diusahakan untuk membaca kalimat ini sebagai tanda Syukur kepada Allah atas ciptannya yang sangat luar biasa.
Sidang shalat id rahimakumullah.
Akhir-akhir ini, kita semua sedang merasakan demikian besar cobaan yang diberikan Allah SWT kepada kita semua, baik sebagai warga negara Indonesia maupun sebagai warga dunia. Baik sebagai umat Islam maupun sebagai warga kemanusiaan. Kita menyaksikan betapa banyak kejadian yang memilukan kesadaran kemanusiaan kita. Kejadian yang mengusik jiwa kita. Penderitaan yang melanda kehidupan warga negara Indonesia, dan yang lebih umum adalah penderitaan Masyarakat Islam, baik di Palestina maupun di Iran.
Bencana banjir bandang, tanah longsor, angin topan dan gunung meletus yang membuat penderitaan warga yang terkena bencana alam. Korban bencana di Sumatera sebanyak 1.189 orang. Di Jawa Barat 80 orang, belum yang lainnya. Sungguh peristiwa yang membuat kita semua merasakan betapa penderitaan tersebut sebagai bagian dari kejadian yang tidak kita kehendaki. Berbagai bencana tersebu bahkan disebabkan oleh perilaku manusia yang tidak bersahabat dengan alam. Sebagai akibat manusia yang memperlakukan alam hanya sebagai obyek ekonomi, sehingga alam menjadi rusak. Hutan menjadi gundul, sungai menjadi dangkal, dan tanah menjadi rentan longsor karena perilaku manusia yang serakah.
Al-Qur’an Surat Ar Rum: 41, menyatakan: “ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ”
Yang artinya: “kerusakan di daratan dan lautan karena ulah manusia”.
Baca Juga : MIRAS: ANTARA INVESTASI DAN KERUSAKAN MORAL
Korban jiwa sangat banyak karena ulah manusia ini. Oleh karena itu, berbagai macam cobaan ini hendaknya menjadi kaca benggala bagi manusia untuk berbuat yang baik terhadap sesama ciptaan Allah. Tumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang terhadap manusia, binatang dan alam seluruhnya. Lingkungan kita harus menjadi lingkungan yang dapat bersahabat dengan manusia.
Di dalam sebuah Riwayat di kala Nabi Muhammad berhijrah dari Mekkah ke Madinah, dan Nabi dikelilingi oleh komunitas Anshar, lalu Kanjeng Nabi Muhammad SAW berkhutbah bahwa agar manusia menyebarkan keselamatan, memberikan makanan, menyambung persahabatan dan bershalat malam. Pidato pertama ini memberikan kesan yang sangat mendalam pada Abdullah bin Salam yang masih beragama Yahudi, sebab selama ini terdapat kesan bahwa Nabi Muhammad SAW itu manusia yang berwajah sangar, jahat dan berlaku kezaliman. Tetapi begitu mendengar pidato Nabi Muhammad SAW, dan melihat wajah Nabi Muhammad yang bercahaya atau glowing pada zaman sekarang, maka beliau berikrar masuk Islam. Subhanallah.
Kekerasan juga terjadi di banyak tempat di dunia. Khususnya di Palestina, Gaza dan Iran. Semua kekerasan dilakukan oleh orang-orang yang sombong, merasa paling berkuasa dan membunuh manusia tanpa ada sedikitpun belas kasihan. Tindakan Amerika dan Israel merupakan kejahatan kemanusiaan yang tiada taranya. Extra ordinary crime. Presiden Donald Trump dan PM Israel Benyamin Netanyahu adalah orang yang psikopat atau sakit jiwa yang dapat merusak perdamaian dunia. Korban yang ditimbulkan keduanya mencapai ratusan ribu orang. Korban di pihak Iran sebanyak 1262 warga sipil dan 190 personel militer.
Oleh karena itu, umat Islam harus berdoa agar Bangsa Palestina, penduduk Gaza dan Iran mendapatkan pertolongan Allah dan para perusak kemanusiaan, pemimpin Amerika dan pemimpin Israel diberikan siksaan yang sesuai dengan perilakunya masing-masing. Kita harus yakin bahwa pertolongan Allah adalah kenyataan dan siksaan Allah adalah kenyataan. Saya yakin doa umat Islam akan dikabulkan oleh Allah SWT.
Jamaah Muslimin rahimakumullah.
Kita sebagai umat Islam, sesungguhnya merasakan bahwa pertolongan Allah kepada umat Islam dipastikan akan datang tetapi dengan catatan bahwa kita harus selalu bermohon kepada Allah dengan doa dan amalan yang diridloinya. Kita dapat melakukan tindakan untuk membela secara fisik kepada Palestina atau Iran, akan tetapi karena factor tertentu sehingga harus melakukan perlawanan dengan lesan dan jika itupun tidak mampu, maka dapat melakukannya dengan doa. Hadits di dalam Kitab Arba’in Imam Nawawi dinyatakan:
“مَنْ رَأَى مِنْكُمُ مُنكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، وَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ”
Baca Juga : Memperkuat Prodi Ilmu Keislaman di Masa Depan
Oleh karena itu kita harus berdoa untuk umat Islam, umat Islam di Indonesia maupun umat Islam di dunia. Jangan kita hanya berdoa untuk diri dan keluarga tetapi doakanlah umat Islam seluruhnya. Janganlah kita menjadi orang yang pelit doa dan pelit harta. Doa kita lantunkan dan sebagian harta kita amalkan. Puasa dapat menumbuhkan rasa solidaritas kemanusiaan yang sangat tinggi. Puasa juga menjadi pengingat agar kita berlomba-lomba untuk cepat dalam memohon kebaikan dari Allah SWT.
Di dalam Surat Ali Imron, 133-134, Allah berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِن رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Yang artinya: “Bersegeralah memohon ampunan kepada Tuhanmu dan surganya Allah yang luasnya seluas bumi dan langit yang disediakan kepada orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya di dalam keadaan lapang dan sempit dan menahan amarah dan memaafkan atas kesalahan manusia lainnya dan Allah menyukai orang-orang yang berlaku baik.”
Dari ayat ini diperoleh pemahaman tentang indicator atau ciri-ciri orang yang bertaqwa yang dijanjikan surga oleh Allah, yaitu: Pertama, orang yang segera memohon ampunan Allah kala selesai melakukan kesalahan. Jangan malu memohon ampunan Allah atas kesalahan, kekhilafan dan dosa. Hari ini merupakan momentum paling baik untuk meminta ampunan kepada Allah dan mohon maaf kepada sesama manusia. Al-Qur’an Surah Asy Syura: 40, menyatakan:
“فَمَنْ عَفَا فَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عِنْدَ اللَّهِ” yang artinya “barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya di sisi Allah”.
Kedua, orang yang menginfakkan atau menyedekahkan atau menzakatkan dan mewakafkan sebagian hartanya sesuai dengan hukum Islam untuk kepentingan umat adalah sebuah indikator orang yang bertaqwa. Jika ada orang yang dalam kesulitan atau ada orang yang membayar pilantropi melebihi atas kewajiban yang diamanahkan kepadanya, maka itulah pertanda orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Allah berfirman pada Surat At Taubah: 103, “خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا”, yang artinya: “ambillah sebagian harta mereka untuk menyucikan dan membersihkan mereka”.
Baca Juga : Perjalanan Umrah: Sarung dalam Identitas KeIndonesiaan (Bagian Kesebelas)
Ketiga, orang yang mampu menahan amarahnya. Di dalam kehidupan yang serba keras, maka emosi terkadang tidak terkontrol. Seseorang bisa mudah marah. Seseorang bisa menjadi temperamental. Maka puasa yang dilakukan adalah instrument agar manusia dapat mengontrol nafsu amarahnya dan mengubahnya menjadi nafsu muthmainnah. Puasa yang di dalamnya terdapat kesadaran sebagaimana dinyatakan di dalam Alqur’an Surat Ara’du: 28, “أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ”. “ingatlah Hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenteram”. Oleh karena itu terdapat trilogy dalam menjalankan puasa, yaitu dzikir, sabar dan tawakkal. Selalu berdzikir kepada Allah lalu mengedepankan kesabaran dan akan berujung pada pasrah kepada Allah.
Keempat, Selalu memaafkan atas keselahan dan kekhilafan orang lain. Kekhilafan itu suatu perbuatan yang tidak disengaja, sedangkan kesalahan adalah ada unsur kesengajaannya. Atas keduanya, maka tugas kemanusiaan kita adalah memberi maaf. Jika Allah itu maha pemaaf, maka manusia juga dapat melakukannya. Agar pemberian maaf itu memperoleh contoh riilnya, maka yang harus dicontoh adalah perilaku Nabi Muhammad SAW. Yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah “manusia paling sabar, manusia paling penyayang dan manusia penuh dengan kemaafan”. Allah SWT tidak hanya berfirman, akan tetapi memberi contoh manusia dengan ketiga hal tersebut. penyabar, penyayang dan pemaaf.
Kelima, buah dari prilaku penyabar, prilaku penyayang dan perilaku pemaaf adalah akan hadirnya Rahmat Allah untuk menjadikan pelakunya sebagai orang yang muhsinin atau orang yang berlaku baik atau orang yang ihsan atau selalu di dalam pengawasan dan kedekatan kepada Allah SWT.
Sesungguhnya, menjadi orang yang bertaqwa atau muttaqin atau menjadi orang yang muhsinin atau merasa selalu di dalam pengawasan Allah atau menjadi muhlisin atau orang yang Ikhlas atas semua pemberian Allah adalah orang yang berbahagia di dalam kehidupannya. Orang yang seperti itu akan mendapatkan ampunan, berkah dan Rahmat Allah SWT dan secara kalkulatif akan mendapatkan surganya Allah SWT.
فَأَيُّهَا الْحَاضِرُونَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا فَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ
رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

