(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Salat Sebagai Pesan Isra' dan Mi'raj

Opini

Ada yang sangat menarik dari ceramah dalam peringatan Isra’ dan Mi’raj yang diselenggarakan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya oleh Ustaz Dr. Abdullah Sattar, M.Fil.I, Wakil Dekan III Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSA Surabaya. Ceramah tersebut terselenggara pada Hari Ahad, 18 Januari 2026, ba’da Isya. Hadir jamaah Ngaji Bahagia dari Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency dan Masjid Ar Raudhah Perumahan Sakura Regency. Acara ini dihadiri oleh Ketua Takmir Masjid Al Ihsan, Ketua RW 08 Kelurahan Ketintang Selatan, Ketua RT 02, ketua RT 05, Masyarakat di sekitar Masjid dan  Prof. A’la, serta warga RT 05 kelurahan Ketintang Selatan. 

  

Acara yang sangat sederhana, tetapi khidmad dan menyenangkan. Tidak lain, karena ceramah Pak Sattar ternyata lucu juga. Acara-acara di Masjid Al Ihsan memang selalu didesain untuk menggembirakan. Bagi kami bisa tertawa adalah kebahagiaan. Syarat kebahagiaan itu salah satunya dipicu oleh rasa senang karena tertawa dan tersenyum bersama. Jangan tanya honornya, yang penting Ikhlas dan berkah. 

  

Di dalam acara ini, Ustaz Sattar menjelaskan mengapa shalat itu sangat penting dan mengapa untuk menerima perintah shalat  harus dari yang memerintahkan sendiri, Allah SWT. Di dalam kehidupan ini, jika dipanggil atasan secara langsung berarti ada yang penting untuk dibicarakan. Shalat itu hal yang sangat penting sehingga Nabi Muhammad SAW diperintahkan datang langsung kepada Allah SWT. Jika selama ini perintah itu disampaikan oleh Malaikat Jibril, misalnya zakat, puasa, haji dan bahkan syahadat diberikan melalui perantaraan Malaikat Jibril, maka shalat itu tidak demikian. Diterima  langsung perintah itu.

  

Nabi diperjalankan Allah pada suatu malam untuk hadir di Masjidil Aqsha, yang berada di Yerusalem, yang jika ditempuh memerlukan waktu 40 hari  dengan kendaraan onta. Maklum belum ada pesawat atau mobil. Maka Nabi diperjalankan dari Masjidil Haram di Mekkah lalu ke Masjidil Aqsha di Yerusalem dan kemudian naik ke lagit satu sampai tujuh dan kemudian ke Sidratul Muntaha, Mustawa dan ke Arasy Allah SWT. Jibril sebagai pengantar hanya mampu sampai di Sidratul Muntaha. Dan Nabi Muhammad SAW lanjut ke haribaan Allah SWT. 

  

Allah memperjalankan Nabi Muhammad tersebut salah satunya adalah untuk menghibur Nabi Muhammad karena ditinggalkan orang yang sangat dicintainya. Pamannya, Abu Thalib yang menjadi pelindungnya. Nabi galau dan sangat bersedih karena pamannya belum menyatakan keislamannya, dan kemudian ditinggalkan oleh Sayyidati  (Siti)  Khadijah, seorang istri yang menjadi penenangnya dan pembelanya dari serangan orang-orang Quraisy. Kala wafat, Siti Khadijah ini dalam keadaan miskin karena hartanya digunakan untuk dakwah Nabi. Tanahnya yang dua pertiga di Mekkah habis untuk pembiayaan dakwah Kanjeng Nabi Muhammad. Kala Nabi sering ditemui orang yang mengaku malaikat, maka Nabi berkeluh kesah kepada Khadijah, siapa orang itu. Kala orang itu datang lagi, maka Khadijah telanjang dan orang itu pergi. Maka Khadijah menyatakan ini benar-benar Malaikat, sebab kalau orang biasa tentu tidak mau pergi. 

  

Salat yang baik harus dilakukan secara berjamaah. Artinya agar diupayakan bahwa kita bisa melakukan shalat berjamaah. Kapan dan di mana saja. Jika adzan berkumandang, maka seharusnya kita datang ke masjid. Ada sebuah cerita dari seorang Syekh Sam’ah, ulama dari India,  yang selamanya melakukan shalat jamaah. Pada suatu ketika dia berurusan dengan orang tuanya, ibunya, yang wafat sehingga terlambat satu rakaat dalam salat jamaahnya. Makmum  masbuq. Menyadari akan kekurangannya tersebut, maka dia melakukan shalat sebanyak 20 rakaat. Suatu ketika dia mendapatkan penjelasan dalam bisikan sirr atau rahasia tentang tambahan shalat sunnah 20 rakaat tersebut dan ternyata shalat 20 rakaat tidak dapat menggantikan satu rakaat shalat wajib yang terlambat dan ditinggalkannya. Jadi betapa besar pahala shalat jamaah bagi umat Islam. Maka di kala terdengar adzan dan kita mendengarnya, maka harus menjalankan shalat berjamaah. Begitulah Nabi Muhammad SAW mengutamakan shalat dengan cara berjamaah. Selama hidupnya, Nabi selalu shalat jamaah kecuali kala sakit dan tidak mampu datang ke masjid.

  

Shalat itu memiliki pahala dan keutamaan yang sangat besar.  Hendaknya  dapat disadari apa manfaat shalat  bagi kehidupan kita,, yaitu: pertama, shalat yang dilakukan pada waktunya. Ashhalatu ‘ala waqtiha.” Shalat pada waktunya. Hal ini merupakan afdhalul ‘amal atau keutamaan amal. Agar kita dapat melakukan shalat pada waktunya. Jangan menunda shalat. Kedua, lakukan shalat secara berjamaah. Upayakan untuk dapat melakukan shalat jamaah kecuali ada udzur yang tidak dapat dikompromikan. Ketiga, mendirikan atau menegakkan shalat bukan hanya menjalankan salat. Aqimush  shalat. Tentu berbeda antara menjalankan shalat dan mendirikan atau menegakkan shalat. Kalau menjalankan shalat sudah sangat banyak tetapi menegakkan salat mungkin saja tidak sebanyak yang menjalankan shalat. Menegakkan shalat itu artinya tidak hanya melakukan shalat tetapi menjaga kekhusyuannya. Khusyuk itu adalah shalat pada waktunya dengan seluruh pikiran dan hatinya. Jangan membaca doa-doa dalam shalat akan tetapi hatinya tidak konseren dalam mengamalkannya. Keempat, shalat itu dapat menjaga amal kebaikannya. Innash shalata tanha ‘anil fakhsyai wal munkar. Sesungguhnya salat itu menahan dari perbuatan yang jelek dan mungkar. Shalat yang benar dapat menjadi instrument untuk menjaga kita dalam kebaikan dan kebenaran.

  

Namun demikian, yang penting kita sudah melakukan shalat dengan baik sesuai dengan potensi dan kapasitas yang bisa kita miliki. Insyaallah kita optimis bahwa Allah akan membawa kebaikan di dalam kehidupan kita.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.