(Sumber : fimela)

Belajar Masak: Anak Laki-laki vs. Anak Perempuan, Masih Perlu Dibedakan?

Informasi

Eva Putriya Hasanah

  

Di banyak keluarga dan lingkungan sosial, belajar memasak masih sering dipandang sebagai “wilayah” anak perempuan. Sejak kecil, anak perempuan kerap diarahkan membantu ibu di dapur, sementara anak laki-laki lebih sering dibebaskan dari aktivitas tersebut. Pola ini begitu mengakar hingga memasak dianggap sebagai keterampilan kodrati perempuan, bukan kecakapan hidup yang seharusnya dimiliki semua anak.

  

Padahal, di tengah perubahan sosial dan tantangan hidup modern, pertanyaan pentingnya bukan lagi soal siapa yang pantas belajar masak, melainkan mengapa semua anak perlu memiliki keterampilan ini. Dan jawabannya, jika ditarik ke konteks yang lebih luas, memasak bukan soal jenis kelamin, melainkan soal kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan merawat diri serta orang lain.

  

Konstruksi Budaya dalam Pola Asuh

  

Perbedaan perlakuan ini berakar pada budaya patriarki yang membagi peran berdasarkan jenis kelamin. Anak perempuan sejak kecil disiapkan untuk peran domestik, sementara anak laki-laki diarahkan pada aktivitas di luar rumah. Akibatnya, memasak menjadi simbol tanggung jawab perempuan, bukan kecakapan hidup yang netral gender.

  

Pola asuh semacam ini sering diteruskan tanpa disadari. Kalimat seperti “anak perempuan harus bisa masak” atau “anak laki-laki tidak perlu ke dapur” terdengar sederhana, tetapi menyimpan pesan kuat tentang pembagian peran yang timpang. Dalam jangka panjang, pesan ini membentuk cara pandang anak terhadap diri mereka sendiri dan orang lain.

  

Memasak sebagai Keterampilan Hidup


Baca Juga : Mengkaji Islamic Studies Berbasis Pesantren

  

Jika dilihat dari fungsinya, memasak adalah life skill, bukan gender skill. Anak yang mampu memasak akan lebih mandiri, memiliki kontrol terhadap pola makan, dan tidak bergantung sepenuhnya pada orang lain. Keterampilan ini penting bagi semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, terutama ketika mereka tumbuh dewasa, hidup mandiri, merantau, atau membangun keluarga.

  

Ironisnya, di ranah profesional, dunia kuliner justru banyak diisi oleh laki-laki. Banyak koki terkenal adalah laki-laki, dan profesi ini dipandang prestisius. Hal ini menunjukkan adanya standar ganda: memasak di rumah dianggap tugas perempuan, tetapi memasak sebagai profesi justru sering dimonopoli laki-laki.

  

Dampak Psikologis dan Relasi Sosial

  

Pembiasaan sejak kecil memiliki dampak psikologis yang besar. Anak perempuan yang terus dibebani tugas domestik bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai dirinya diukur dari kemampuannya melayani orang lain. Sementara itu, anak laki-laki yang tidak pernah diajarkan memasak cenderung tumbuh dengan ketergantungan dan kurangnya empati terhadap kerja domestik.

  

Ketimpangan ini sering berlanjut hingga dewasa dan memengaruhi relasi rumah tangga. Banyak konflik dalam pernikahan berawal dari anggapan bahwa urusan dapur sepenuhnya tanggung jawab perempuan. Padahal, rumah tangga adalah ruang kerja sama, bukan pembagian peran sepihak.

  

Pendidikan Keluarga yang Lebih Setara

  

Mengajarkan memasak kepada anak, tanpa membedakan jenis kelamin, adalah bagian dari pendidikan karakter. Di dapur, anak belajar banyak hal: disiplin, tanggung jawab, kerja sama, kesabaran, hingga manajemen waktu. Ketika orang tua melibatkan semua anak dalam aktivitas memasak, mereka sedang menanamkan nilai kesetaraan secara nyata, bukan sekadar wacana.

  

Anak laki-laki yang belajar memasak tidak sedang kehilangan maskulinitasnya. Sebaliknya, ia sedang dipersiapkan menjadi individu dewasa yang mandiri dan peduli. Anak perempuan pun belajar bahwa memasak adalah keterampilan yang bisa dipilih dan dibagi, bukan kewajiban kodrati yang melekat pada dirinya.

  

Mengubah Cara Pandang

  

Sudah saatnya kita berhenti mempertanyakan, “Ini tugas anak laki-laki atau anak perempuan?” dan mulai bertanya, “Apa keterampilan hidup yang penting bagi anak?” Memasak jelas termasuk di dalamnya.

  

Dengan cara pandang yang lebih adil, dapur tidak lagi menjadi simbol ketimpangan gender, melainkan ruang belajar bersama. Di sanalah anak-anak, tanpa memandang jenis kelamin, belajar menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, dan saling menghargai.