Kecerdasan Ruhani dalam Perspektif Ruhiologi
Riset AgamaTulisan berjudul “Shifting Paradigm: From Intellectual Quotient, Emotional Quotient, Spiritual Quotient Towards Ruhani Quotient in Ruhiology Perspectives” merupakan karya Achmad Ushuluddin dan Abd. Madjid. Artikel ini terbit di Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies tahun 2021. Artikel ini berhasil membuktikan bahwa sumber kecerdasan bukan otak, melainkan ruh. Ketika Tuhan menyempurnakan kejadian manusia dengan ditiupkannya ruh, maka terpancarlah pendengaran ke telinga, penglihatan ke mata, penciuman ke hidung, perkataan ke mulut, perasa ke lidah dan kecerdasan ke otak. Artinya, otak hanya alat, bukan sumber dari kecerdasan. Jika sebelumnya ada tiga teori kecerdasan yakni Intellectual Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ) adalah model kecerdasan yang bersumber dari pemikiran manusia yang bersifat artifisial, maka Ruhani Quotient (RQ) adalah model kecerdasan ciptaan Tuhan yang orisinal. RQ berbasis pada ruh yang berimplikasi pada kejadian baru terkait dengan Ruhiologi. Terdapat lima sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, pergeseran paradigma kecerdasan. Ketiga, dari IQ, EQ, SQ, ESQ menuju RQ. Keempat, ruh dalam perspektif Islam. Kelima, implikasi teoretis dan praktis.
Pendahuluan
Menurut Berger, nilai-nilai supranatural mulai menghilang dari dunia modern. Hilangnya nilai ini diungkapkan pada frasa yang sedikit dramatis, misalnya God is Dead. Menurut Boisard, manusia modern yang cenderung sekular, secara signifikan kehilangan rasa supranatural. Mereka lebih fokus pada dunia, sehingga mengabaikan kebutuhan paling mendasar yang bersifat spiritual. Menurut Sugiarto, kondisi ruh pada zaman modern saat ini memburuk disebabkan beberapa faktor. Pertama, modernitas yang dimulai dengan prinsip “saya berpikir maka saya ada”, berkembang pada abad 20 menjadi “saya belanja maka saya ada. Kedua, kehidupan modern menekankan pada aktivisme berlebihan, sehingga orang harus bekerja secara efektif dan efisien yang diukur dengan uang. Ketiga, di masa lalu, ruh diakomodasi dan disalurkan oleh agama, sedangkan di era modern orang telah kehilangan kepercayaan pada agama dan kecewa pada tradisi “ilustrasi” Tuhan. Alhasil, mereka seakan menemukan rumah baru sehubungan dengan fenomena spiritualitas dan seni. Keempat, dalam rana rasionalitas hidup menjadi membosankan, sebab orang tidak lagi mudah bersyukur, padahal ruh membutuhkan hal itu. Kelima, bahasa telah menjadi teknis dan material. Konsep terkait dengan “masa depan ada di tangan Tuhan” kurang dipahami, sehingga menjadi “masa depan di tangan asuransi”. Keenam, ritual keagamaan sudah dicampur dengan perayaan konsumerisme. Ketujuh, keluarga sebagai unit paling dasar yang menjaga ruh manusia menjadi rapuh dan rentan. Kedelapan, pada zaman modern saat ini muncul prinsip “yang kuat yang menang”, sedangkan ruh dianggap terlalu lemah karena terlalu cepat memaafkan, cepat percaya, terlalu naif dalam menghadapi tipu daya dan akal.
Tren spiritualitas saat ini lebih diartikulasikan dengan kemunculan berbagai teori kecerdasan. Misalnya, johar dan Marshall yang memprakarsai Spiritual Quotient (SQ); Agustian dengan ESQ berbasis Ihsan, iman dan Islam; Pasiak dengan Revolusi IQ/EQ/ESQ Antara Neurosains dan Al-Qur’an; Abdul Wahid Hasan dengan SQ Nabi dan artikel Achmad Ushuluddin dan Abd. Madjid yang menawarkan Ruhani Quotient (RQ).
Pergeseran Paradigma Kecerdasan
Kerangkan berpikir Kuhn tentang “revolusi sains” digunakan dalam memosisikan pergeseran paradigma inteligen dari IQ, EQ, SQ dan RQ. Khun beranggapan bahwa sains tidak berkembang secara bertahap menuju kebenaran, melainkan mengalami revolusi periodik yang disebut sebagai pergeseran paradigma. Analisis Khun tentang sejarah sains menunjukkan bahwa praktik sains dalam tiga fase. Fase pertama, pra sains di mana mengacu pada munculnya ide kecerdasan intelektual (IQ). Fase kedua adalah sains normal di mana menempatkan ide kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Ketiga, fase pergeseran paradigma yang mengantarkan pada periode baru revolusioner ilmu pengetahuan, dengan penawaran pada kecerdasan ruhani (RQ).
Dari IQ, EQ, SQ, ESQ Menuju RQ
Menurut Freud, proses psikologi ada dua yakni primer dan sekunder. Proses primer diasosiasikan dengan id, insting, tubuh, emosi dan alam bawah sadar, sedangkan proses sekunder diakitkan dengan ego, kesadaran dan pikiran rasional. Singkatnya, proses primer dianggap EQ berdasarkan jaringan saraf asosiatif otak, sedangkan proses sekunder dipertimbangkan sebagai IQ berdasarkan jaringan saraf serial otak. Berbeda dengan IQ dan EQ, SQ berdasarkan pada sistem saraf otak ketiga yakni osilasi-sinkroni saraf yang menyatukan data di seluruh bagian otak. SQ memfasilitasi dialog antara akal dan emosi, serta tubuh dan pikiran. Selain itu, SQ menyediakan titik tumpu untuk pertumbuhan dan perubahan. ESQ menjelaskan keseimbangan antara tubuh, pikiran dan jiwa, atau antara dimensi fisik, psikologis dan spiritual, atau antara sadar, prasadar dan bawah sadar.
Baca Juga : Prabowo dan Framing Negatif Indonesia Sekarang
IQ, EQ, SQ dan ESQ masih menggunakan dasar kecerdasan material atau otak, bukan kecerdasan immaterial (ruh). Hal yang perlu menjadi catatan, di dalam Islam, ruh tidak pernah dipisahkan dari aspek ketuhaan. Artinya, ruh harus melibatkan peran Tuhan, sehingga berbeda dengan istilah spiritual dalam SQ yang tidak erat dengan agama dan ketuhanan. Jadi, RQ melampaui SQ. Perbedaannya adalah SQ menggunakan istilah God Spot sebagai pusat kecerdasan, sedangkan RQ menggunakan istilah “God Light” sebagai kecerdasan (ruh).
Ruh dalam Perspektif Islam
Ruh dalam bahasa Arab secara teologis dipahami sebagai ‘roh’, bahkan sebelumnya Nabi Muhammad SAW menggunakannya dalam al-Qur’an. Jika ditinjau dari versi Arab Kuno, secara otentik, ruh tidak digunakan dalam definisi ‘roh’, melainkan ‘nafas’, sama seperti ‘arwah’ yang berarti ‘angin’. Menurut Macdonald, ruh dalam al-Qur;an tidak muncul dengan definisi jiwa, sebab malaikat juga disebut sebagai ruh.
Berdasarkan perspektif Islam, wacana ruh dapat merujuk pada kata Allah SWT dalam ak-Qur’an yang tersebar dalam 19 surah dan 21 ayat. Menurut Baqi, dari 24 kali penyebutan ruh dalam al-Qur’an mengandung tiga makna relasional, yakni bantuan, Malaikat Jibril dan manusia. Sementara itu, Al-Jauziyah menjelaskan lima definisi ruh dalam al-Qur’an. Pertama, ruh bisa berarti wahyu (QS. Al-Mukmin:15). Kedua, ruh berarti bantuan dan wewenang/kekuasaan (QS. Al-Mujadilah :22). Ketiga, ruh berarti Malaikat Jibril (QS. As-Syuara: 101; Al-Baqarah: 91; An-Nahl: 102). Keempat, ruh bisa berarti kabar dari Allah SWT tentang hari kiamat dan kebangkitan (QS. An-Naba: 38; Al-Qadr: 4). Kelima, ruh yang berarti roh suci al-Masih (Qs. An-Nisa: 171; Al-Fajr: 37; al-Qiyamah: 2; Yusuf: 53; Al-An’am: 93; As-Shams: 8).
Menurut Al-Raz, ruh adalah sumber rezeki, akibatnya ruh memiliki efek pada kesadaran dan perasaan dalam setiap diri manusia. Perasan adalah kata kunci yang melekat pada ruh. Artinya, kesedihan, kebahagiaan, kegembiraan dan perasaan lain yang dimiliki manusia hanya biasa dialami selama orang itu memiliki ruh. Oleh sebab itu, ruh adalah pusat kehidupan manusia. Menurut Skinner, ruh berfungsi sebagai pusat dari kehaditan Allah SWT dalam diri manusia. Ruh memiliki sifat/watak alami yang menyuarakan kebenaran dan kebajikan dari Allah SWT.
Implikasi Teoretis dan Praktis
Perspektif baru Rohani Quotient (RQ) dapat diimplementasikan dalam beberapa bidang, misalnya psikologi, pendidikan dan kesehatan baik dalam interdisipliner maupun multidisipliner. Misalnya, pada bidang pendidikan, munculnya sekolah holisme yang digagas dengan konsep pendidikan holistik. Pendidikan holistik adalah sebuah paradigma yang mengintegrasikan ide idealis pendidikan humanistik dengan ide spiritual filosofis. Pendidikan holistik menggabungkan prinsip humanistik yang terdiri dari kebebasan, otonomi, demokrasi dan prinsip spiritualitas, keutuhan dan keterkaitan. Tujuannya adalah mengembangkan seluruh potensi peserta didik secara harmonis meliputi potensi intelektual, emosional, fisik, sosial, estetika dan spiritual.
Paradigma holistik juga berkembang pada bidang kesehatan. Para pakar psikologi telah mengembangkan konsep kesehatan holistik yang terdiri dari empat dimensi yakni biologis, psikologis, sosial dan kesehatan ruhani. Oleh sebab itu, seseorang dianggap sehat secara holistik ketika dimensi fisik, psikologis, sosial dan ruhani terpenuhi. Defisini di atas sejalan dengan Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menyatakan bahwa “Kesehatan adalah keadaan sehat, baik fisik, mental, spiritual dan sosial yang memungkinkan setiap individu untuk menjalani kehidupan sosial dan ekonomi yang produktif.”
Meskipun diposisikan sebagai “pusat spiritualitas” dalam konsep pendidikan dan kesehatan holistik, namun dipahami secara terpisah dari agama. Oleh sebab itu, istilah “ruhiologi” dipilih, sebab dalam pendidikan dan kesehatan holistic, spiritualitas tidak melibatkan iman kepada Tuhan dan memiliki sifat individualistis. Hal ini tidak seperti konsep “ruhiologi” yang notabene menuntut melibatkan peran Tuhan, karena ruh berasal dari Tuhan dan akhirnya akan kembali pada Tuhan.
Kesimpulan
Penelitian ini memberikan penjelasan terkait dengan pergeseran paradigma dari kecerdasan manusia dari IQ, EQ, SQ menuju RQ. Pemahaman terkait kecerdasan manusia telah berkembang pada tiga konsep di atas, dengan menggunakan otak dan jantung sebagai masalah bio-psikologis. Pemahaman semacam ini belum tentu benar, sebab tanpa ruh manusia tidak bisa merasakan apa pun, termasuk kecerdasan, emosi dan spiritualitas. RQ didasarkan pada ruh sebagai pusat manusia. Kesadaran ruh merupakan jawaban dari segi apa, siapa, atau diri yang disebut hadir pada setiap hidup individu. Meskipun bersifat immaterial, ruh merupakan tempat dan pusat potensi intelektual yang melekat pada diri manusia. Studi di atas memberikan kontribusi implikasi teoretis yang berkaitan dengan konsep baru pada Ruhiologi. Secara praktis, penelitian ini berimplikasi pada munculnya kesadaran tentang manusia sebagai makhluk religius yang diciptakan Tuhan agar hubungan antar sesama manusia tidak berkembang begitu saja. Pada keterbatasan manusia sebagai makhluk biologis, namun tetap dalam sesuatu yang lebih substansial yakni makhluk ruhani.

