Prabowo dan Framing Negatif Indonesia Sekarang
OpiniHal yang juga menjadi viral adalah Tagar Kabur Aja Dulu atau #KaburAjaDulu. Tagar ini viral di kalangan generasi muda yang memang sebagai generasi yang paling melek teknologi informasi. Mereka cepat memberikan respon atas berbagai unggahan di Youtube, Facebook, Tiktok, Twitter dan sebagainya, terutama dalam merespon atas hal-hal yang unik dengan pesan yang dianggapnya mengandung ungkapan dan makna protes atas sebuah fenomena, khususnya tentang pemerintah.
Tagar Kabur Aja Dulu atau #KaburAjaDulu, dianggapnya sebagai representasi dirinya dalam memberikan respon atas kebijakan pemerintah yang dianggap tidak sesuai dengan kepentingannya. Pemerintah Indonesia dianggapnya telah “melalaikan” fungsi dan perannya untuk melindungi warga negara, khususnya terkait dengan masa depan generasi mudanya. Kabur Aja Dulu memberikan gambaran tentang sikap generasi muda tentang “kesalahan” memenej negeri ini. Dari pada berada di Indonesia dengan seabrek masalah yang alih-alih diselesaikan akan tetapi justru muncul masalah baru yang tidak kalah kualitasnya, maka lebih baik kabur atau pergi dengan secepatnya.
Tagar Kabur Aja Dulu merupakan “ajakan” untuk generasi muda untuk meninggalkan keruwetan di negeri ini. Ada beberapa makna yang dapat dipahami, yaitu ajakan untuk meninggalkan negeri sendiri dan mencari kehidupan yang lebih menjanjikan. Melihat ketiadaan solusi atas masalah-masalah di negeri sendiri, maka sebaiknya generasi muda melirik peluang di luar negeri. Lalu, ajakan untuk melarikan diri dari masalah-masalah yang sedang terjadi di Indonesia atau juga ajakan untuk pergi segera untuk menghindari masalah yang lebih besar. Tagar ini juga dimaksudkan sebagai ungkapan sinisme atau sarkasme atas kondisi negeri ini sekarang.
Dipahami bahwa pemerintah sudah tidak lagi dapat memberikan solusi permanen yang memadai atas semua masalah kebangsaan. Sedemikian banyaknya masalah kebangsaan, maka dianggap sudah tidak ada lagi energi yang berkekuatan untuk menyelesaikannya. Dari gambaran makna di atas, ada tiga hal yang dapat dipahami tentang pemahaman dan prilaku generasi muda pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, yaitu:
Pertama, pemahaman yang bercorak pesimis-non partisipatif atas perubahan ke arah kebaikan. Dianggapnya bahwa pemerintah tidak akan mampu menyelesaikan masalah-masalah besar bangsa karena tersandera oleh kekuatan di luar pemerintah maupun di dalam pemerintah. Tipologi ini menggambarkan bahwa ada kesadaran tentang masalah besar bangsa, dan selayaknya dilakukan perubahan akan tetapi tidak menggerakkannya untuk terlibat di dalam proyek perubahan. Dibiarkan saja waktu berjalan tanpa ada kemauan untuk terlibat di dalamnya.
Kedua, pemahaman yang bercorak pesimis-partisipatif adalah mereka yang mengetahui secara jelas problem bangsa ini dan bagaimana seharusnya pemerintah menemukan jalan keluarnya, akan tetapi kenyataannya tidak ada jalan keluar yang dapat dilakukannya. Ini yang menggambarkan atas pemahamannya bahwa negeri ini tidak dalam keadaan baik-baik saja. Itulah sebabnya diperlukan cara untuk mengingatkan para pemimpin bangsa bahwa negeri ini perlu dimenej dengan benar.
Pagar laut yang ternyata program kaplingisasi pantai oleh para pemilik modal dan kemudian dikaitkan dengan Program Strategis Nasional bukanlah kejadian biasa saja tetapi memiliki maksud yang jauh lebih dari hal tersebut. Program ini tentu akan menyebabkan para nelayan akan kehilangan mata pencahariannya yang selama ini sudah dilakukannya. Tidak hanya ini, akan tetapi juga terkait dengan kebijakan lain yang terfokus pada ketiadaan pembelaan terhadap masyarakat kelas bawah. Janji pemerintah untuk membela dan melindungi rakyat hanyalah pemanis retorika dan bukan untuk program aksi realistis.
Ketiga, ada yang memahami masalah negara dan bangsa dari perspektif aktif-partisipatif. Terdapat pengetahuan yang sangat mendalam tentang problem bangsa dan negara, baik yang berskala besar maupun kecil. Lalu menggerakkannya untuk terlibat di dalam konteks mendukung atas berbagai tagar yang sedang viral, baik #IndonesiaGelap, maupun #KaburAja Dulu. Keduanya dipahami sebagai kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda yang memang perlu didukung. Gerakan unjuk rasa besar yang dirancang oleh beberapa universitas bisa dipahami dari sudut ini. Berbagai unjuk rasa yang dilakukan oleh para mahasiswa tentu dimaksudkan untuk memberikan warning atas beberapa kebijakan yang dianggapnya salah di masa lalu dan perlu pembenahan sekarang.
Kita sungguh sadar bahwa negeri ini memang sedang mengalami masalah sebagai beban dari masa lalu. Masalah-masalah yang timbul belakangan memang sudah terjadi di dalam pemerintahan di masa lalu, dalam masa yang panjang, dan berakumulasi di masa sekarang. Sebagian besar muncul dan menjadi topik pembicaraan yang hangat. Kebijakan di masa lalu yang memberikan konsesi besar kepada para pengusaha untuk bergerak lincah dalam dinamika perkembangan ekonomi dan bahkan politik ternyata bisa juga menjadi boomerang di masa sekarang.
Mereka yang mendapatkan konsesi besar tersebut adalah orang yang sangat sadar dalam relasi ekonomi dan politik, atau ekonomi politik dengan basis siapa mendapatkan apa dan seberapa besar melalui sarana apa. Politik dapat dijadikan sebagai sarana untuk memperoleh konsesi melalui relasi timbal balik. Di sinilah masalahnya kenapa pemerintah akan sulit untuk menembus batas kewenangannya di dalam menyelesaikan masalah yang terkait dengan dunia konglomerasi.
Jika ada tiga kekuatan dengan berbasis pada teori konspirasi, yaitu konglomerat atau businessman, militer dan birokrasi, maka yang terkuat dan sangat berpengaruh adalah kaum konglomerat. Kekuatan militer dan birokrasi dapat ditenggelamkan oleh kekuatan pengusaha besar. Kedua kekuatan ini nyaris tidak berkutik dalam menghadapi kekuatan konglomerat, sebab mereka memiliki jaringan yang sangat kuat di internal maupun eksternal. Kekuatan jejaring nasional dan internasional sudah dibangun dalam jangka panjang.
Jika hari-hari ini terdapat ajakan untuk melakukan restorasi atas kebijakan pemerintah, maka semuanya tentu berharap bahwa kegiatan itu benar-benar murni dan bukan mendapatkan suntikan kekuatan dari manapun. Agak sulit menemukan gerakan-gerakan social yang murni di tengah sedemikian sulitnya untuk mengurai apakah tindakan tersebut berbasis in order to motive, keikhlasan berbuat dari lubuk hati paling dalam, atau factor bercause motive yang sekarang memang sedang menuai saatnya. Mari kita timbang dengan cermat agar kita tidak justru menjadi bagian dari beban masalah.
Wallahu a’lam bi al shawab.

