Wacana Kiamat Pemikiran Islam Syiah
Riset AgamaArtikel berjudul “Mystical Discourse on the Last Days: A Historical and Comparative Analysis of Shia Islamic Thought” merupakan karya Ehsan Reisi, Ebrahim Rezaei, dan Elham Jafari. Tulisan ini terbit di Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam tahun 2024. Kajian tentang kiamat, sebagian besar berpusat pada teks-teks keagamaan dan sejarah, dan mengabaikan sumber mistik yang kaya dalam budaya Syiah. Kajian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan menyelidiki mistisisme Islam dari abad kedua hingga abad kesepuluh Hijriah, yang ditulis dalam bahasa Persia dan Arab. Terdapat lima sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, survei historis pemikiran mistik pada kiamat. Ketiga, kiamat dalam tradisi mistik pertama. Keempat, hari terakhir dalam tradisi mistik kedua. Kelima, hari kiamat dalam pemikiran mistik.
Pendahuluan
Konsep eskatologis kiamat telah bergema di berbagai tradisi keagamaan dan mistik sepanjang sejarah. Kepercayaan ini memiliki bobot yang signifikan karena beberapa alasan. Pada satu tingkat, hal itu mencerminkan kerinduan manusia yang melekat akan masyarakat yang ideal dan memungkinkan penyesuaian dalam ritual keagamaan, praktik, dan perilaku duniawi. Pada sisi lain, konsep akhir zaman telah menarik perhatian para cendekiawan dan lembaga sebagai era konflik dan bencana manusia, misalnya invasi Mongol yang menandai dimulainya umat manusia ke dalam periode sejarah manusia yang mengkhawatirkan ini. Meskipun terdapat banyak kajian tentang konsep Kiamat dari perspektif Islam, asal-usul dan evolusi konsep ini dalam mistisisme Islam kurang mendapat perhatian.
Survei Historis Pemikiran Mistik Pada Kiamat
Secara teoritis, mistisisme Islam terbagi menjadi dua periode atau tradisi. Tradisi mistik pertama yakni secara umum dikenal sebagai periode antara abad kedua hingga ketujuh/abad kesembilan hingga ketiga belas. Serta, tradisi mistik kedua yang diperkenalkan dan diperluas oleh Ibnu \'Arabi ) dan para pengikutnya, yang akhirnya menjadi tradisi mistik yang dominan. Sepanjang transformasi yang disebutkan dalam mistisisme Islam, konsep Kiamat dipahami dalam dua cara yang berbeda. Hal ini dilihat sebagai periode yang mencakup era kenabian Nabi Muhammad, atau mengacu pada puncak akhir dunia ini, yang mencakup manifestasi sang penyelamat, baik dalam pribadi Imam al-Mahdi atau Yesus Kristus.
Kiamat dalam Tradisi Mistik Pertama
Kaum mistikus dari tradisi pertama sering merujuk pada Kiamat, menjelaskan ciri-ciri dan tanda-tanda yang terkait dengan periode terakhir sejarah manusia ini dengan mengacu pada perkataan Nabi Muhammad. Ajaran-ajaran ini mula-mula membahas keadaan alamiah dan etika pada abad ketiga dan keempat, kemudian berkembang ke aspek sosial, politik, dan agama pada abad kelima. Abad berikutnya mencakup ramalan ramalan tentang ciri-ciri sosial, agama, dan ekonomi. Selain itu, pokok bahasan kiamat berkaitan erat dengan tema-tema mistik. Misalnya, ada referensi tentang karakteristik seorang yang menjelaskan dajjal. Lalu, Gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh para pemikir Muslim digaungkan oleh para mistikus, yang dipengaruhi oleh diskusi-diskusi teologis dalam bidang ini.
Refleksi mereka ditandai oleh pemahaman yang berkembang dari keadaan alamiah ke keadaan sosial dan politik, yang menekankan dimensi mistis dari kejadian-kejadian ilahi dan tipu daya manusia. Sementara mereka berfokus pada tanda-tanda dan implikasi dari masa-masa yang penuh tantangan ini, pembahasan mereka tentang topik tersebut terbatas dalam cakupannya, sering kali mengabaikan visi penuh harapan tentang kedatangan sang juru selamat. Mereka menahan diri untuk tidak memberikan komentar yang luas tentang tanda-tanda sang juru selamat, ajaran mereka meninggalkan potret Hari-kiamat yang kompleks dan beraneka ragam. Meskipun, kaya akan wawasannya, masih mengundang eksplorasi lebih lanjut ke dalam transformasi positif yang menanti di baliknya.
Hari Kiamat dalam Tradisi Mistik Kedua
Pemikiran tentang Kiamat merupakan salah satu landasan intelektual para mistikus yang memperluas dan memajukan cakrawala intelektual mereka di seputar dua topik terpenting, yaitu perwalian dan kepemimpinan. Pokok bahasannya berpusat pada keimanan kepada Imam Mahdi yang menyingkap berbagai aspeknya. Para Syaikh dalam tradisi ini memandang Isa Al-Masih, putra Maryam, sebagai figur yang bertanggung jawab untuk mengakhiri perwalian dan memainkan peran penting dalam peristiwa-peristiwa Kiamat. Tanda dan ciri umum dibahas tuntas dan dikaji secara rinci. Serta, Peranan dan tanda-tanda penampakan sang juru selamat ditonjolkan.
Hari Kiamat dalam Pemikiran Mistik
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, karya-karya para mistikus mengandung banyak indikator, mulai dari tanda-tanda alam atau fenomena nonmanusia (misalnya bencana alam, banjir, gempa bumi, gerhana matahari) hingga tanda-tanda sosial, yang berkaitan dengan urusan manusia dan dinamika masyarakat. Tanda-tanda utama dari tradisi mistik pertama mencakup transformasi alam dan sosial yang luas menjelang manifestasi sang juru selamat, seperti merosotnya nilai-nilai kemanusiaan, pengabaian hukum agama, kemiskinan, amoralitas, dan pemerintahan yang korup. Lalu, menjelaskan tanda-tanda yang terkait dengan tradisi mistik kedua yang berkaitan dengan kondisi sebelum, selama, dan setelah penampakan sang juru selamat. Fokusnya adalah pada penindasan yang berlebihan sebelum kedatangan sang juru selamat, diikuti oleh penindasan sosial.
Intinya, perbandingan menunjukkan bahwa tradisi mistik pertama membahas tanda-tanda alam yang menandai datangnya akhir zaman dengan lebih spesifik daripada tradisi kedua. Tradisi pertama ini lebih berfokus pada indikator-indikator sosial yang mendahului kemunculan sang juru selamat, sedangkan tradisi kedua lebih menekankan pada perubahan-perubahan yang ditimbulkan oleh sang juru selamat.
Kesimpulan
Berdasarkan literatur, kisah-kisah mistis memainkan peran penting dalam menelusuri keberadaan tema tertentu sepanjang sejarah. Secara khusus, tulisan-tulisan para mistikus terkemuka dari abad ketujuh/kesembilan hingga abad ketiga belas menunjukkan adanya diskusi berkelanjutan baik sebagai topik yang terpisah maupun yang terkait dengan tema-tema lain. Diskusi-diskusi seputar konsep kiamat telah menjadi sumber perdebatan yang cukup besar di antara para mistikus yang berasal dari tradisi mistik pertama, dengan penafsiran-penafsiran ini sering kali menggabungkan unsur-unsur dari beberapa agama, menjadi lebih rumit pada periode-periode berikutnya, dan memengaruhi budaya Syiah saat ini.

